
"Kau tidak perlu mejelaskan apapun semuanya sudah jelas" ucap Kevin dingin.
"Aku tidak punya hubungan apapun dengan Dilan" ucap Anin.
"Jika saja Kau mendengarkan perintahku untuk menjauhinya, ini semua tidak akan terjadi" Ucap Kevin menyalahkan Anin.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya, dan Dia hanya mengantarku kerumah sakit untuk memeriksakan kandunganku" jelas Anin.
"Aku Suamimu, kenapa Kamu malah merepotkan orang lain untuk mengantarmu? kenapa kau tidak memberitahuku bahwa Kau akan memeriksakan kandunganmu?" tanya Kevin geram dan merasa kecewa kerena tidak dihargai sebagai seorang Suami.
"Tapi kamu sendiri yang bilang pernikahan Kita hanya sebatas status saja, dan Kau juga bilang agar tidak menganggu kehidupan, dan juga ketenanganmu" ucap Anin lirih.
"Maksudku Aku juga Ayah dari Anak yang sedang kamu kandung, jadi Aku juga harus bertanggung jawab" ucap Kevin geram,
"Bisakah kamu menjadi siput penurut sekali saja" ucap Kevin kesal dan meninggalkan Anin.
Malam pun tiba, Anin dengan setia menunggu kedatangan Suaminya, setelah menyiapkan makan malam. Bagaimana pun Anin harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang Istri.
Makan malam sudah dingin, namun Kevin belum juga pulang, namun Anin tetap menunggunya, tak lama kemudian Kevin pulang dengan wajahnya yang terlihat lusuh.
"Kamu sudah pulang ?" Anin menyambut Kevin dan membantu membawakan tas kerjanya.
"Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu" ucap Anin dengan senyum.
"Aku sudah kenyang" jawab Kevin datar.
Kevin berjalan menaiki tangga menuju kamarnya tanpa menyapa Anin sedikit pun, bahkan ia tidak menyentuh makan malam yang telah disiapkan istrinya. Kevin menyusutkan tubuhnya kedalam selimut setelah membersihkan tubuhnya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada Anin.
******
Kevin bangung dari tidurnya dan seperti biasa Kevin tidak mendapati Anin di sofa bed, Kevin segera membersihkan dirinya dan masuk ke ruang ganti baju. Kevin melihat setelan jas kerjasanya telah rapi dan siap untuk di pakai.
Aku sudah menyiapkan pakaian kerjamu, maaf aku pergi dari rumah tanpa memberitahu, tapi aku akan selalu menjengguk Oma kok, kamu jangan khwatir.
Kevin meremas kertas post In not it dan meleparkannya kesembarang arah. Setelah memakai pakaiannya dan sudah terlihat rapi, Kevin mampir ke meja makan sebentar untuk mengambil buah, namun yang didapatatinya adalah sarapan sehat dan segelas susu.
Kamu tidak boleh minum kopi sebelum perutmu terisi oleh makanan, karena itu akan mempengaruhi kesehatanmu, jadi aku hanya menyipkanmu segelas susu,.
Sekali lagi Kevin meremas kertas Post in not yang tertempel di gelas susu tersebut, dan saat hendak pergi, ia mendapati sebuah kotrak makan di atas meja.
Aku sudah menyipkan makan siangmu, jangan lupa makan siang, dan jaga kesehatan,
Lagi-lagi Kevin meremas kertas tersebut dengan kuat, lalu berangkat kerja dengan persaan kesal bercampur kekecewaan karena tidak mendapati Anin yang setiap pagi akan menyiapkan semua kebutuhannya.
Di kantorpun Kevin tidak fokus mengerjakan pekerjaannya, bahkan ketika Ans menjelaskan tentang kerjasama dengan perusahan Quen grub, Ia tidak mendengarkannya dan hanya memandangi kotak makan yang berada di atas meja kerjanya.
__ADS_1
Ans yang sedari tadi menjelaskan panjang lebar tetapi tidak di dengarkan oleh bosnya, mengedarkan pandangannya mengikuti kemana arah tatapan bosnya, dan mendapati Kevin sedang menatap kotak makan siangnya, terbesit ide untuk mengerjai Bosnya.
"Nona muda anda datang ?" ucap Ans dengan suara sedikit keras.
Dengan segera Kevin mengalihkan pandangannya kearah pintu, namun tidak mendapatkan keberadaan Anin.
"Ha...hah..hah..jadi anda sedang memikirkan Nona muda Tuan?" ejek Ans dengan tawanya.
"Aku tidak mikirkannya karena aku menganggapnya seperti angin, ada namun tak terlihat," ucap Kevin.
"Lalu kenapa anda terlihat memikirkan sesuatu?" tanya Ans
"Saya hanya memikirkan, tentang kejadian yang menimpa Oma, sepertinya itu bukan karena foto Anin. Karena saya tahu betul bagaiman oma, ia tidak akan terpancing hanya karena foto seperti itu." ucap Kevin
"Lalu Apa anda sudah menemukan penyebabnya?"
"Belum, karena yang ada di samping Oma saat dia tidak sadarkan diri hanya bibi, jadi kita tidak bisa memastikannya, kita hanya bisa menunggu Oma sadar untuk mengetahui semuanya." jelas Kevin.
"Namun yang saya khawatirkan, jika Oma sadar dan mengetahu Anin pergi dari rumah, bisa-bisa Oma akan marah." lanjut Kevin.
"Itu semua karena kesalahanmu" ucap Ans kecoplosan.
"Makssudmu ini semua karena kesalahnku? ualang Kevin dengan tatapan tajamnya.
"Kau benar, kita haru mencari Anin" ucap Kevin menepuk-nepuk pundak Ans, Ans bernafas lega karena Kevin tidak jadi marah padanya.
sementara Anin menemui Tari di kontraknya dengan membawa kopernya.
tintong....tintong
Siapa si pagi-pagi begini sudah bertamu" gumam Tari sambil menghampiri pintu untuk membukanya.
"Anin kau kenapa?" tanya Tari yang memperhatikan Anin sedang mebawa koper, " Masuklah" Tari membimbing Anin masuk kerumahnya.
"Ceritakan, apa tuan Kevin menyaktimu?" tanya Tari.
"Tidak, dia tidak menyakitku, Aku pergi dari rumah karena keinginku sendiri, Aku megecewakan keluarga Adhitama. Dan mereka sumua sangat membenciku" ucap Anin lirih.
Tari menarik tubuh Anin kedalam pelukan nya dan menepuk-nepuk pundaknya, berharap itu bisa menengankan hati sahabatnya.
"Tenanglah, Aku disini bersamamu dan tidak akan pernah membenci apalagi meninggalkanmu" ucap Tari.
"Terimakasih karena selalu ada setiap aku membutuhkanmu" lirih Anin
Setelah merasa lebih baik, Anin bersiap-siap pergi bekerja karena ini adalah hari ketiga Anin bekerja sebagai asisten pengacara Charles.
__ADS_1
*****
Jam pulang kerja pun tiba, Anin mampir sebentar untuk menjengguk Oma di rumah Sakit, Anin menemani Oma dan menceritakan kegiatan apa saja yang dilakukannya hari ini di kantor.
Setelah diraca cukup lama dan juga hari mulai gelap, Anin akhirnya pulang kerumah, tapi lagi-lagi ia ketemu Dilan dijalan dan mengajaknya makan malam.
Anin orangnya yang selalu tidak enakan mau tidak mau menerima ajakan Dilan, mereka makan malam bersama di sebuah restoran. Anin juga curhat tentang kepergiannya dari kediaman Adhitama.
"Kenapa kamu Kerumah sakit ? Apa kamu sakit" tanya Dilan dengan ekspresi khawatir.
"Bukan, bukan Aku yang sakit, yang sakit itu Oma, katanya sih Oma shok karena melihat foto Kita berdua saat makan siang kemarin." jelas Anin.
"Walaupun aku tidak percaya Oma pingsan karena itu, tapi Aku memutuskan untuk keluar dari rumah itu, karena Kevin tidak mempercayaiku."
"Jadi sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Dilan
"Em... untuk saat ini aku tinggal di kontrakan temanku, dan akan pindah setelah mendapatkan tempat tinggal yang cocok." ucap Anin.
"Kamu mau....." Dilan tidak melanjutkan perkataanya saat mendengar ponsel Anin berdering.
Dert....dert....dert....
"Anin kamu dimana? segeralah pulang ada hal yang harus aku bicarakan padamu penting" ucap Tari
"Baiklah aku segera pulang" ucap Anin menutup sambungan terfonnya.
"Maafkan Aku, karena tidak bisa menemanimu makan malam, ada urusan penting yang harus aku urus"
"Tidak apa-apa santai saja, ayo Aku akan mengantarmu" ucap Dilan.
"Ah tidak perlu, Aku pulang naik taksi saja dah..." ucap Anin melambaikan tangannya dan melangkahkan kakinya keluar restoran.
Tidak mebutuhkan waktu lama bagi Anin untuk sampai di kontrakan Tari. Tari yang sedari tadi menunggu kedatangan Anin segera menghampiri Anin dengan eksperi tidak enak dan juga wajah di tekuk seperti seseorang yang sedang kesal.
"Anin maafkan aku, karena.........
-
-
-
-
TBC
__ADS_1