
"Siapa kau berani ikut campur? Hah!" Dengan sekuat tenaga lelaki itu melepaskan cengkraman tangan dari Julian.
Julian kemudian langsung melepaskan jasnya yang berbahan jeans yang ia kenakan untuk menutupi keseksian tubuh dari perempuan itu yang sekarang telah berganti pakaian menjadi mini dress dengan mengumbar kemulusan tubuhnya.
"Jauh - jauh dari pacarku! Jangan berani Lo sentuh dia!" Geram Julian yang tersulut emosi pada lelaki yang ada di hadapannya.
"Hei Bro! Mulutmu sungguh pintar sekali berkata - kata. Alasan seperti ini sudah sering kali aku dengar untuk mengambil mangsa yang tak berdaya seperti ini" ucap lelaki itu sambil menunjuk ke arah perempuan cantik yang sudah tidak sadarkan diri itu. Kemudian lelaki itu menepuk pelan bahu Julian dan berkata "Jika kau sudah kebelet juga, bagaimana kalau kita memakai perempuan cantik ini secara bersamaan. Karena aku yang lebih dulu menemuinya, Jadi kau tunggu antrian setelah aku selesai menikmatinya. Bagaimana?" lelaki itu mengulas tawa konyol yang membakar di dada Julian.
"Dasar mulut dan otak sampah!" Seru Julian kesal.
BUGH.
Julian melayangkan pukulan yang keras dan tepat mengenai wajah lelaki yang sudah kurang ajarnya itu hingga membuatnya jatuh tersungkur keatas lantai.
Suasana menjadi riuh ketika lelaki itu membalas setiap pukulan dari Julian. Namun bisa di tangkas oleh Julian dengan mudah. Gerakan tangan yang mudah terbaca, membuat Julian bisa mencengkram kembali tangan lelaki itu dan kembali memberikan pukulan keras di sisi lain dari wajah lelaki itu.
Keadaan ricuh di lantai bawah pun menjadi pusat perhatian pengunjung tak terkecuali Alvaro dan para saudaranya yang sedang berada di lantai atas. Bodyguard Bara masuk dan melaporkan kejadian yang terjadi di lantai bawah. Hingga membuat ketiganya langsung bergerak turun di ikuti dengan para bodyguard mereka masing-masing.
Cekrek, cekrek, cekrek.
Irama suara pelatuk senjata api yang saling bersahutan menjadi ancaman menakutkan bagi para pengunjung yang sudah sejak tadi menonton perkelahian di antara Julian dan lelaki kurang ajar itu. Julian juga berhenti memukuli lelaki yang sudah kurang ajar itu setelah di kelilingi oleh lelaki berseragam jas hitam dengan senjata yang mengarah pada rivalnya yang sedang berkelahi.
"Julian? Ada apa ini?" tanya Alvaro begitu penasaran.
__ADS_1
"Baguslah, kalian semua sudah datang. Tolong di bereskan! Aku ada urusan penting yang harus segera di selesaikan." bukannya menjawab rasa penasaran Alvaro yang mewakili, Julian malah memberikan perintah sekaligus meminta bantuan.
Lelaki itu dengan tenang membopomg perempuan yang tertidur dan sudah tidak sadarkan diri di meja bartender itu dengan kedua tangannya. Tatapan Julian acuh tanpa berkata-kata atau pun berpamitan kepada ketiga saudaranya itu.
Sikap Julian pun membuat ketiganya terperangah lalu mulai menebak - nebak sosok perempuan yang Julian bawa keluar dengan cara menggendong perempuan tadi keluar dari Lion Club.
"Kau kenal dengan perempuan itu?" tanya Alvaro semakin penasaran.
"Itu... itu..... Julian, kan? Aku tidak salah melihatnya kan?" tanya Bara yang masih tidak percaya dengan apa yang di lihat sendiri olehnya.
"Apa mereka berdua sudah pacaran? Tetapi kenapa kita tidak ada yang tahu?" Saga mulai menebak - nebak.
...***...
Julian mulai menepuk-nepuk dengan lembut pipi chubby perempuan yang sudah tertidur di bahunya itu. Ya, sejak Julian dan perempuan itu menaiki taksi. Dan saat berada di dalam taksi, Julian juga sudah berusaha untuk terus membangunkan perempuan cantik itu dan bertanya pada perempuan yang masih bawah pengaruh alkohol itu tentang alamat rumahnya.
Namun, usaha dari Julian tak kunjung membuahkan hasil di karenakan perempuan cantik itu menjawabnya hanya dengan deheman saja.
Taksi yang mereka naiki pun hanya melaju mengukur jalan raya tanpa arah yang jelas.
"Hei Nona! Bangunlah? Dimana rumahmu?" sekali lagi Julian berusaha untuk terus membangunkan perempuan itu.
"Rumahku? Rumahku tidak aku bawa. Rumahku sudah tidak ada." rancau perempuan cantik itu dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Alamat rumah? Aku bertanya tentang alamat rumahmu, Nona?!" Julian mulai kehilangan kesabarannya.
"Alamatnya ada di mana ya? Aku lupa. Tapi tak aku catat." jawab perempuan cantik itu melantur.
Sedangkan sopir taksi itu hanya melirik kedua insan itu dari arah kaca cermin dashboard. Lidahnya sudah tak sabar ingin kembali bertanya tentang arah tujuan dari dua penumpangnya.
"Kita mau kemana ya, Pak?" tanya sopir yang begitu sopan pada Julian.
Julian menghela nafas. Kelopak matanya mengerjap sejenak dengan otaknya yang bekerja untuk mengambil keputusan. Kelopak mata Julian kembali terbuka dengan menampakkan bola mata coklat tua.
"Ke Laskar Residence saja, Pak." keputusan yang terpaksa di ambil oleh Julian untuk membawa perempuan cantik yang sedang bersandar di bahunya.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.