Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Hanya Kesal


__ADS_3

"Halo dok." ucap Kevin setelah menjawab panggilan dari dokter Rian.


"............"


"Jadi hasilnya bagaimana dok?" tanya Kevin penasaran.


"..........."


"Terimakasih informasi dok." Kevin memutuskan sambungan terlfonnya dan menatap sendu wanita yang sedang membelai rambutnya.


Anin yang melihat raut wajah sendu suaminya memaksakan senyumnya agar menguatkan suaminya, karena Ia tahu penyebab perubahan ekspresi suaminya. "Tidak apa-apa mas, yang penting kita berusaha, toh aku selalu minum obat dan belakangan ini penyakitku tidak kambuh lagi." jelas Anin menundukkan kepalanya dan mengecup kening suaminya.


Senyum Kevin terbit mendegar penuturan istrinya yang begitu bijak dan sabar. Kevin mencubit kedua pipi Anin karena gemas. "Benar kamu nga kecewa sayang?" Tanya Kevin memastikan.


Anin memanyungkan bibirnya mendapatkan cubitan dari Kevin. Anin mengelus pipinya. "Mas Kevin suka banget ya nyubitin pipi Aku." Anin mengalihkan pembicaraan tak ingin membahas masalah tadi.


Kevin tertawa lepas melihat Anin cemberut, istrinya itu semakin mengemaskan jika sedang kesal. Kevin mencium perut Anin berulang kali, dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. "Sebentar lagi di dalam sini akan ada Kevin junior." ucap Kevin membenamkan wajahnya di perut istrinya.


Anin membulatkan matanya berbarengan dengan mulutnya yang terbuka lebar mendegar ucapan suaminya. "Kevin junior? bukannya aku belum bisa hamil mas." lirih Anin menatap Kevin dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kapan aku mengatakan itu sayang?" Kevin menahan tawanya melihat ekspresi Anin. Kevin sangat senang bisa mengerjai Anin.


"Itu pas dokter Rian telfon mas Kevin." jawab Anin.


"Memangnya mas bilang apa coba." goda Kevin dengan senyuman yang hampir tidak terlihat.


"Mas Kevin mengerjaiku!" Anin mengerucutkan bibirnya dan menjauhkan kepala Kevin dari pangkuannya karena sangat kesal.


Kevin tertawa lepas dan bangkit dari tidurnya. Kevin memeluk Anin dari belakang. "Maaf sayang, aku tidak bermaksud mengerjaimu, aku hanya ingin memberimu kejutan." Kevin mencium daun telinga Anin. "Kata dokter Rian, Kamu tidak harus mengonsumsi obat itu lagi, penyakitmu sudah membaik dan hanya membutuhkan terapi fisik saja." lanjut Kevin.


"Jadi maksud mas Kevin aku bisa hamil lagi kan? mas Kevin seriuskan!" Anin memutar lehernya tanpa balik badan, karena Kevin memeluknya dengan erat dan meletakkan kepalanya di pundak Anin, dan itu memudahkan Anin melihat wajah tampan suaminya.


"Hemmm." jawab Kevin sibuk menciumi tengkuk Anin, dan itu membuat Anin merasa geli. "Kenapa? apa kamu mau membuatnya sekarang?" bisik Kevin di telinga Anin dan menciumnya, membuat Anin menahan nafas, jantung Anin berpacu dengan cepat seakan ingin melompat keluar dari tempatnya, apa lagi saat merasakan detak jantung Kevin di belakangnya.

__ADS_1


Wajah Anin merona merah mendegar perkataan Kevin. "Mas Kevin mesum ih." Anin mencubit lengan Kevin yang melingkar di tubuhnya.


"Mesum sama istri sendiri nga dosa kan?"



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Anin mengunjungi Kevin di kantornya. Anin membawakan makan siang untuk suaminya. Sepanjang perjalan menuju ruangan suaminya Anin menebarkan senyumnya pada karyawan yang menyapanya, itulah Anin.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Anin membuka pintu ruangan Kevin dan mengembangkan senyumnya. Senyum Anin pudar begitu saja melihat wanita seksi tengah berdiri di samping suaminya, dan itu sangat dekat. Anin menatap tajam kedua manusia di hadapannya.


"Hem" deheman Anin berhasil membuat Kevin tersadar akan keberadaan istrinya.


Kevin megalihkan pandanganya dari berkas-berkas yang di jelaskan oleh sekretaris barunya. "Sayang kamu sudah datang?" Kevin mengembangkan senyumnya dan tidak menyadari bahwa wanita di sampingnya begitu dekat dengannya.


"Iya aku datang membawakan suamiku makan siang." ucap Anin sengaja menekankan kata suami dan melirik pada wanita seksi di samping suaminya.


Kevin mengikuti kemana arah tatapan Anin, dan baru tersadar bahwa sekretarisnya itu terlau dekat dengannya. Kevin menatap tajam pada sekretarinya. "Saya sudah bilang padamu jaga jarak dengan saya!" bentak Kevin pada sekretarinya saat menyadari posisinya. "Apa lagi yang kau tunggu pergilah!" lanjut Kevin.


Sekretaris baru Kevin menundukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan Kevin.


"Tunggu!" cegah Anin saat sekretaris suaminya hendak membuka pintu ruangan. "Jika Kamu masih ingin bekerja disini! mulai besok jangan berpakaian seperti itu, berpakaianlah yang sopan, Kamu di sini bekerja bukan untuk menggoda suami orang." ucap Anin membuat sekretaris Kevin menelan ludahnya dengan kasar.


"Sial, selain cantik ternyata istri tuan Kevin galak, lebih baik aku cari aman saja." batin sekretaris Kevin.


"Baik nyonya." ucap sekretaris Kevin menundukkan kepalanya dan keluar dari ruangan bosnya, menyisakan sepasang kekasih yang entah apa yang akan terjadi di dalam.


Kevin bangkit dari duduknya dan menghampiri Anin yang sedang berdiri di samping sofa dengan tatapan yang begitu tajam. "Sayang kenapa kamu tidak mengabariku? aku kan bisa menjemputmu di bawah." ucap Kevin merangkul Anin dan membawanya ke sofa.


"Mas Kevin bilang begitu bukan karena ingin menjemputku, tapi tidak ingin ketahuan jika sedang berduaan dengan wanita lain seperti tadi kan?" Anin mencebik. Walau Anin sedang kesal Ia masih menyiapkan makanan untuk suaminya. Anin menata makan di atas meja karena Ia tahu pasti suaminya sudah lapar.


"Kamu cemburu?" tanya Kevin.

__ADS_1


"Aku nga cemburu mas, aku hanya tidak suka jika melihat mas Kevin berduaan dengan wanita lain, itu membuatku kesal." ucap Anin kesal dan menyerakahkan piring berisi makan yang telah di siapkannya.


"Itu sama saja sayang." ucap Kevin, jujur Kevin sangat senang di cemburui oleh Anin itu artinya istrinya itu mencintainya.


"Mas cemburu sama kesal itu beda, cemburu itu jika kita melihat seseorang yang kita cintai dekat dengan orang lain dan orang yang kita cintai juga suka. Kalau kesal itu, kita hanya tidak suka melihat pasangan kita dekat dengan orang lain. Dan sekarang aku sedang kesal." Anin cemberut.


"Jadi kamu percayakan sama aku?" tanya Kevin. Kevin menyimpulkan kata-kata Anin yang artinya Anin mepercayainya tidak menggoda wanita lain, tapi hanya kesal saat suaminya di dekati wanita lain.


"Tentu saja aku percaya pada mas Kevin, mas Kevin hanya cinta padaku dan tidak akan meninggalkanku, iya kan?." Anin mengembangkan senyumnya dan menyuapkan makanan kemulut Kevin karena Kevin belum juga menyentuh makan di piringnya dan hanya menatapnya saja.


"Tentu saja sayang aku hanya mencintaimu, dulu, sekarang, dan selamanya." Kevin mendaratkan kecupan di kening istrinya dan melanjutkan makannya.


"Aku akan memecat sekretarisku dan mencari sekretaris pria agar kamu tidak kesal dan cemburu padaku." ucap Kevin di sela-sela makannya.


"Mas Kevin tidak perlu memecatnya, Aku percaya sama mas Kevin, kasihan dia, dia juga butuh uang untuk hidup, lagian belum tentu mas Kevin mendapatkan sekretaris sebaik dia." jelas Anin.


Anin memang mengakui kinerja sekretaris baru suaminya, namun yang tidak ia sukai hanya cara berpakainnya yang sedikit tidak sopan. Tapi Anin percaya pada Kevin yang tidak akan menduakannya.


"Ah beruntungnya aku mempunyai istri sebijak dan sepengertian Anin." batin Kevin terus menatap wajah Anin dengan tatapan cinta.


-


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up

__ADS_1


__ADS_2