
"Aku hanya ingin tahu" jawab Anin yang mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Suaminya.
"Mas apa Aku bisa menemui Anakku setelah Aku melahirkan nanti" ucap Anin setelah lama terdiam.
"Tentu saja" ucap Kevin datar.
"Bagaiman jika Aku ingin menemuinya setiap akhir pekan?"
"Temuilah !"
"Bagaimana jika Aku ingin menemui Anakku setiap hari" ucap Anin lagi yang kini sudah berani menatap wajah tampan Suaminya.
"Temui lah!" masih dengan jawaban yang sama.
"Bagaimana jika Aku ingin menemuinya setiap pagi dan sore?" lanjut Anin lagi.
Kevin diam saja tak bergeming, mencengkram dengan kuat pagar balkong tempat tangannya bertumpu. membalikkan tubuhnya setelah meguasai hatinya yang terasa bimbang atas perasaannya sendiri.
Memegang kedua lengan Anin dengan tangan kekarnya, memutar tubuh Anin yang sedang membelakanginya agar menghadap kepadanya. Menghapus Air mata yang mengalir di pipi Istrinya.
"Terimakasih sudah mau mengeluarkan isi hatimu" ucap Kevin berusaha tersenyum. "Aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya" Kevin memeluk tubuh Istrinya dengan erat.
Kevin membimbing Anin untuk duduk disofa ruang keluar masih dengan memeluk tubuh Istrinya yang sedang menangis. Memeluk tubuh Anin hingga terlelap dalam pelukannya.
Karena tidak tega membangungkan Anin, Kevin memutuskan tidur dalam posisi duduk.
*
*
*
*
Kevin mengembangkan senyumnya saat mendapati wajah teduh istinya yang masih terlelap dalam pelukannya. Mengeser tubuhnya agar bisa lebih leluasa memandangi wajah Anin.
Memindai setiap inci wajah istrinya dan berakhir di bibir ranum Anin, Kevin mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Anin, mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya yang sangat mengoda.
Saat Kevin akan mengecup bibir Anin Dia di kagetkan dengan kedatangan Rara dan juga Suaminya. Membuat Kevin langsung bangkit dari duduknya dan membuat Anin terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Ah Ia Kita harus sarapan" Kevin salah tingkah, seperti pencuri yang tertangkap basah.
Rara hanya tersenyum melihat tingkah adik iparnya, padahal Ia sudah melihat ke unyuan pasangan tersebut tadi malam, bahkan Rara mengambil foto mereka.
Mereka sarapan dalam diam, tidak ada yang membuka suara hingga selesai makan.
"Kak Kami pamit dulu ya" ucap Kevin setelah mereka sarapan.
Anin menatap Kevin dengan tatapan yang sulit di artikan, Ia berencana tinggal di Bali untuk waktu yang cukup lama. dan apa ini ? dengan seenakanya Kevin mengatakan Kami pulang, berarti dirinya juga dong.
*
__ADS_1
*
*
*
"Ka...Kamu sudah pulang?" bibi Ajeng menyambut Anin dan Kevin
"Iya bibi" ucap Anin ramah mengikuti langkah Kevin memasuki ruangan luas tersebut.
"Kamu mau kemana Kevin?" bibi Ajeng menghentikan langkah Kevin yang hendak menaiki tangga.
"Tentu saja kekamarku, Aku ingin ganti baju"
"Jangan, biarkan bibi yang mengambilkan bajumu, kamu mau pakai jas warna apa? putih atau hitam?" Ajeng masih menghalangi langkah Kevin.
"Aku bisa sendiri" kini bibi Ajeng tidak bisa lagi menghalangi langkah lebar Kevin, Anin yang juga bingung dengan tingkah bibinya dan juga Elvan melangkahkan kakinya mengikuti Kevin.
Deg
Jantung Anin hampir copot melihat foto yang seharusnya ada di dalam kamar Suaminya tergantikan dengan foto Baby yang begitu mengemaskan.
Anin benar-benar takut menghadapi Pria yang sedang berdiri dihadapannya tampan bergeming, masih setia menatap foto di hadapannya.
Anin sekarang sudah mengerti mengapa bibinya bertingkah aneh hari ini. "Bibi siapa yang menganti foto itu? dan dimana foto itu sekarang" bisik Anin takut Kevin mengamuk.
"It...itu, bibi yang mengantinya bersama dengan Ibumu, bibi hanya berfikit ji...jika Kita memasang foto baby di dalam kamarmu itu bisa membuat mood mu membaik" jelas bibi Ajeng yang juga takut jika Kevin mengamuk, apa lagi jika sampai mengusirnya keluar dari kediaman Adhitama.
"Dimana bibi menyimpan foto itu, belum terlambat jika Kita mengantinya"
"Tidak perlu di ganti, jika itu bisa menyenangkan hati Anin." ucap Kevin yang kini membalikkan tubuhnya dan mengembangkan senyumnya, lalu berjalan kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah mendengar jawaban Kevin Bibi Ajeng dan Elvan buru-buru keluar dari kamar Kevin.
"Elvan apa Kamu lihat senyuman kakakmu? apa Dia akan membalas dendam pada Kita?" bibi Ajeng semaki takut melihat senyuman Kevin.
"Jika dilihat dari senyumannya, Kak Kevin tidak senyum sinis, tapi Elvan juga takut Ibu" jelas Elvan.
Mereka berempat makan siang bersama tanpa ada yang membuka suara, pasalnya Elvan dan juga bibi Ajeng masih merasa was-was berada di dekat Kevin.
"Kalian makan siang tanpa Oma?" ucap Oma jelita memecah keheningan.
"Oma ayo makan dulu" ajak Anin yang berdiri disamping Kevin.
"Kalian makanlah, Oma capek mau istirahat dulu" Oma jelita melangkahkan kakinya menuju kamarnya sementara Kevin berangkat keperusahaan.
Dan kini mereka bertiga melanjutkan makan siang mereka di temani dengan obrolan ringan.
"Bagaimana? apa kak Kevin marah pada kak Anin."
"Tidak, mas Kevin tidak membahas itu"
__ADS_1
"Syukurlah" Elvan bernafas lega. "Bagaimana perasaan kak Anin setelah foto itu di pindahkan" tanya Elvan antusias, sementara bibi Ajeng hanya menyimak.
"Kalau boleh jujur, setelah foto itu tidak ada didalam kamar kakakmu, Aku merasa sangat nyaman." jujur Anin mengembangkan senyumnya.
"Tentu saja, Aku saja jika punya pacar, terus pacar Aku nyimpan foto mantannya ya maralah" Elvan senyum.
"Apa sekarang Ibu punya calon mantu?" goda Ajeng.
"Ibu." Elvan merajuk.
"Terima kasih bibi, sudah menganti foto itu" Anin memeluk bibi Ajeng.
"Jangan berterima kasih pada bibi, berterima kasilah pada ibumu, jika bukan karena Ibumu yang ngotot ingin ganti foto itu, mana bibi berani menyentuh milik Kevin" jelas bibi Ajeng.
*
*
*
*
Ans memperlihatkan beberapa foto model untuk iklan produk baru yang akan perusahaan mereka luncurkan.
"Tuan Kevin, jadi yang mana Anda pilih?" tanya Ans setelah menerankan satu persatu foto model tersebut, sementara Tuannya sibuk dengan ponselnya.
"Tuan Kevin" Ans mulai kesal.
"Terserah Kamu saja" jawab Kevin acuh.
Ans yang sudah sangat kesal segera merebut ponsel milik Tuannya. "Anda benar-benar sudah bucin dengan nona Anin Tuan" Ans yang awalnya kesal seketika tawanya meledak saat mendapati Tuannya tengah memperhatikan foto Istrinya yang di ambilnya saat mengendong baby Jack.
"Ans" Kevin mengeram melihat tingkah sekretarinya yang mulai berani mengodanya.
Setelah semua pekerjaan Kevin selesai, Ia pulang kerumah dan mendapati mobil milik seseorang yang sangat tidak Ia sukai terparkir rapi di pekarangan kediaman Adhitama.
Kevin bersandar di pintu ruangan melukis dengan tatapan tajamnya "Kenapa Kamu ada disini?" Kevin melangkahkan kakinya memasuki ruangan melukis.
Yang ditanya tak kunjung menjawab, hanya memberikan sebuah kertas pada Kevin, sementara Oma Jelita menahan tawanya saat melihat ekspresi cemburu cucu kesayangannya.
"Lelang amal?"
"Iya, Dilan datang kesini membawa undangan untuk Oma" jelas Oma jelita yang masih sibuk melukis.
"Kamu...........
-
-
-
__ADS_1
-
TBC