Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Sandiwara Di Mulai


__ADS_3

Di luar ruangan tanpa di ketahui oleh keduanya, kedua kaki Julian tertanam dan berakar di atas lantai. Lelaki itu sudah berdiri dan menjadi pendengar yang baik dari segala perdebatan keduanya setelah Luna berlari meninggalkan ruangan Naura.


Ingin rasanya Julian mendobrak dan langsung membela Naura dari segala tuduhan keji dari Galang. Lidah Julian sudah gatal ingin membeberkan betapa bersungguh - sungguhnya Naura ingin membuktikan diri di kota B ini. Namun, Julian urungkan. Lelaki itu, memutuskan untuk masuk pada timing yang pas.


"Lebih baik, kau pulang ke kota S bersama dengan Ayah. Tidak ada gunanya lagi kau membuktikan diri di rumah sakit ini." Galang begitu meremehkan kesungguhan Naura yang sudah banyak berbuat sampai di titik ini.


"Ayah...! Sampai Bunda tiada pun, kenapa Ayah masih tidak bisa percaya padaku?"


Naura hanya bisa menatap Galang penuh dengan rasa kecewa yang mendalam. Menatap Ayah kandungnya yang hingga kini tidak mau terang - terangan mengakui kepercayaannya.


Ada alasan lain, Galang tak mau menunjukkan kasih sayangnya kepada putri kesayangan dari istri kedua yang telah meninggalkannya. Takut nantinya, rasa sayang yang ia tunjukkan malah menjadi serangan balik bagi Naura sendiri.


"Kita pulang! Kau tak usah lagi mendalami diri dari profesi yang tak mungkin bisa kau geluti." Galang malah memilih acuh, memilih tetap keras kepala pada keputusannya.


"Ayah...."


"Naura tidak akan pulang, dan pergi dari rumah sakit ini! Termasuk, dia tidak akan pulang ke kota S!" Sela Julian yang masuk dengan tiba - tiba.


"Dok - Dokter Julian?" Naura terperangah. Air mata yang mengalir seketika terhenti


"Dokter Julian? Ada... ada keperluan apa Dokter Julian datang kesini?" Galang tergagap, pemilik rumah sakit swasta di kota S itu sangat terkejut melihat sosok Tuan Muda Alvarendra yang sangat ia ketahui latar belakangnya.


Julian acuh, Lelaki itu menulikan kedua telinga dari ucapan Galang. Julian masih terfokuskan pada Naura yang berdiri mematung dengan benak penuh tanya. Kedua kaki Julian juga begitu ringan melangkah menghampiri Naura. Galang yang di lalui tak Julian sapa, di karenakan hati yang mendidih mendengar sikap lelaki pencundang yang berusia 58 tahun itu.


"Sudah dengar kabar dari Luna?" tanya Julian lembut tepat di hadapan Naura.


"Su-Sudah Dokter." Naura bingung dengan sikap lembut dari Julian.


"Kenapa panggil aku formal seperti itu? Aku sudah bilang kan, panggil Lian, jika kita sedang berdua saja." ucap Julian.


Sandiwara di mulai! Skenario tanpa adanya briefing untuk mendalami peran telah terjalankan. Naura yang tidak mengerti arah ucapan dari Julian hanya terperangah dengan mulut menganga kecil.


Namun, hanya sesaat kebingungan datang menerjang Naura. Otak cerdasnya langsung menangkap maksud dari sikap lembut Julian yang penuh dengan drama.


"Maaf Lian, aku kebiasaan." Naura meringis senyuman kecut.


"Kau menangis?" tangan Julian membelai lembut wajah Naura yang lembab.


"Ta- tadi... tadi...."


"Pak Tua ini yang sudah membuatmu menangis?" sela Julian melirik tajam Galang yang berdiri bingung penuh dengan tanya.

__ADS_1


"Lian....! Dia Ayahku!"


"Jika di Ayahmu, seharusnya dia tidak membuat putri cantiknya sampai menangis seperti ini."


Sorot tajam penuh dengan amarah dan kebencian dari Julian membuat Galang terdiam. Jiwanya terhenyak sampai - sampai rasa berdosa datang menerjang tanpa ampun.


Ya! Seorang Ayah tidak akan membuat putrinya menitihkan air mata. Harusnya seorang Ayah itu memanjakan putri kesayangannya dengan hujaman kasih sayang dan kebahagiaan. Harusnya seorang Ayah itu memberikan tawa di wajah cantik putrinya dan pelangi di hati putrinya yang rapuh.


"Lian...!" Naura menyebut nama Julian dengan lembut dengan tangannya yang menyentuh lengan Julian.


"Jangan takut! Mobil murahan yang sudah di rampas oleh Nenek sihir itu, akan aku ganti." Julian merangkul Naura. Mencengkam lembut pinggul ramping Naura dengan mesra.


Naura tersentak. Kedua matanya membelalak. Naura terkejut dengan sikap Julian yang terbilang berani tanpa meminta ijin dulu untuk merangkul mesra dirinya.


"Saya tidak tahu ada hubungan apa antara Dokter Julian dan putri saya.Tapi, Naura akan tetap saya bawa ke....."


"Naura adalah pacar saya dan saya adalah dokter pembimbing Naura." Julian menyela cepat ucapan Galang. "Saya berhak memutuskan Naura ikut atau tidak dengan anda!" Sambungnya tegas.


Jelas sudah maksud arah sandiwara yang Julian mulai. Kini Naura sudah mengetahui dengan jelas sampai - sampai senyuman manis terulas lepas di wajah cantiknya. Perempuan cantik itu tak terkejut malah menyambut baik pertanyaan sepihak Julian yang tanpa kompromi.


"Haruskah kita mengakuinya sekarang?" tanya Naura mengulas senyuman.


"Kau orang yang tidak sabaran!" Sahut Julian menilai cepat.


"Bajumu yang tertinggal di Apartemenku-" Julian menarik ujung rambut Naura "Sudah aku laundry. Malam ini datanglah untuk mengambilnya atau kau menginap lagi di Apartemenku."


...***...


"Lima belas persen!"


"Sepuluh persen!"


Julian melirik tajam "Dua puluh persen!"


"Mana bisa seperti itu, Dokter Julian." Naura meringis senyuman kecut. Di dalam hati perempuan cantik itu terus mengumpat keras kepalanya seorang Julian Mallory Pratama Alvarendra.


"Dua puluh li-"


"Oke, oke!" Sela Naura cepat yang merasa terancam. "Lima belas persen!" Sambungnya


sambil memasang wajah yang masam.

__ADS_1


Gurat kerut perlahan terlihat di dahi Naura. Kedua mata yang melirik tajam semakin terasah dengan memincing tajam. Punggung Julian yang bersandar tenang pada penyandar kursi yang menegak. Tangan yang semula sengaja di letakkan di atas paha kini beralih ke atas meja di hadapannya.


Tuk...Tuk...Tuk..


Tunjuk Julian mengetuk - ngetuk meja kerja Naura yang menjadi pemisah antara dirinya dan Naura yang terduduk di hadapannya.


"Tiga pul...."


"Haiissshhh! Oke! Dua puluh persen! Deal! No, nego - nego lagi karena saya mau makan apa, dengan saham sepuluh persen." gerutu Naura yang merasa menyesal.


"Kau masih bisa makan dengan sisa saham yang sepuluh persen." Julian menyahuti tenang, setelah menang tawar - menawar dengan Naura.


Ujung bibir merah muda dokter tampan itu tertarik tipis, saat hati tergelitik melihat wajah Naura yang tertekuk. Pun bibir Naura yang mengerucut tak luput dari kedua mata Julian yang mengawasi.


Dalam hati, Julian terpancing oleh pernyataan Bimantara saat mengenalkan sosok Naura pertama kali menjadi anak bimbingnya.


"Naura sosok ceria yang menyenangkan, kau pasti akan menyukai dan merasa nyaman jika berada di dekatnya."


Ya! Pernyataan Bimantara yang terngiang di telinga Julian menunjukkan kebenarannya. Hati Julian mulai terpancing pada kepolosan dan apa adanya seorang Alexandra Naura Morris.


Perempuan cantik itu mengeluarkan jati diri yang sesungguhnya ketika diri yang merasa terancam. Rasa hormat yang Naura tunjukkan saat berada di ruang lingkup pekerjaannya, seketika sirna di detik ini, hingga menarik perhatian dari Julian, lebih tepatnya hati Julian.


"Bagaimana saya bisa makan dengan sisa saham sepuluh persen? Dokter Julian, bahkan sudah mengambil lebih dari setengah saham kepemilikan saya!" Naura bersungut-sungut kesal, hatinya masih belum ikhlas harus menyetujui kesepakatan pembagian saham yang tak adil menurutnya.


"Baiklah, kalau begitu aku yang akan menafkahimu jika kau tidak bisa makan dari sepuluh persen saham bagian itu." Julian menyahuti tenang.


Lelaki itu lalu memetikkan jari. Memberikan perintah pada kuasa hukumnya yang telah berdiri dan menjadi saksi dari kesepakatan pembagian saham antara Julian dan juga Naura.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2