Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Permintaan Alvaro


__ADS_3

Julian merebahkan perempuan cantik itu di atas ranjang tidurnya. Heels yang masih terpasang di kedua kaki perempuan itu, Julian lepaskan lalu, menyelimuti kaki jenjang seputih susu itu dengan bed cover yang berwana abu - abu.


Tubuhnya yang sudah lengket di timpa rasa lelah yang tidak bisa lagi tertahankan membuat Julian ingin menyegarkan tubuhnya di bawah guyuran air hangat dari shower yang menyala.


Lelaki tampan yang berprofesi sebagai dokter itu langsung menyegarkan niatannya dengan melangkahkan kedua kakinya menuju ke arah kamar mandi. Untuk menenggelamkan diri sejenak di dalam ruangan yang sudah di lengkapi oleh kebutuhannya untuk membersihkan diri.


Baru beberapa detik saja Julian menutup daun pintu kamar mandi, perempuan yang sedang tertidur di atas ranjang Julian, kini mulai bergeliat. Kedua tangannya kemudian merentang bebas. Tak lama kemudian, bed cover yang menutupi kaki jenjangnya di sibak kasar menggunakan kedua kaki yang tak terjamah oleh sehelai benang di karenakan mini dress yang menutupi hingga di ambang paha.


"Haus...! Aku haus!" Rancau perempuan cantik itu dengan gerakan perlahan bangkit dari tidurnya.


Kedua matanya terbuka, mengerjap - ngerjap beberapa kali untuk menormalkan padangan kedua matanya.


Masih dalam pengaruh alkohol. Perempuan cantik itu turun dari ranjang tidur dengan tubuhnya yang terhuyung - huyung. Kedua kaki polos yang tidak mengenakkan alas menapaki lantai kamar dengan langkah yang tak stabil.


Suara gemericik air dari dalam kamar mandi, mencuri perhatian dari perempuan cantik itu. Keinginan hati yang ingin membasahi tenggorokannya malah beralih menjadi ingin membasahi sekujur tubuhnya.


Langkah perempuan cantik itu kemudian berganti arah. Dengan langkah normal yang sedikit terhuyung - huyung perempuan itu menuju ke arah kamar mandi tanpa sadarnya.


Ceklek.


Tuas pintu telah di tarik. Dengan gerakan yang tak sadar oleh perempuan itu, hingga membuka lebar daun pintu kamar mandi itu dan menampakkan Julian yang sedang membasahi tubuhnya di bawah guyuran air hangat.


Sedangkan Julian sendiri belum tersadar di karenakan lelaki itu begitu menghayati hujaman air hangat yang membasahi tubuh polosnya. Ada ketenangan dan relaksasi yang tercapai hingga mendamaikan jiwa.


Ceklek.


Suara pintu yang kembali di tutup oleh perempuan cantik itu menghentakan kesadaran Julian. Tubuhnya seketika menegang. Kedua matanya membulat dengan sempurna. Jantungnya tersentak di iringi oleh aliran darah yang memacu kerjanya menjadi dua kali lebih lipat dari biasanya.


"Air...! Aku butuh air. Aku ingin mandi."


Suara lembut terselip rasa antusias yang tak sabaran mengagetkan Julian. Segera mungkin Julian membalikkan tubuhnya dan melihat jelas - jelas perempuan itu datang menghampiri dengan mengulas senyuman bahagia.

__ADS_1


Tubuh keduanya basah. Menyatu dalam satu pelukan dimana tangan perempuan itu posesif melingkar di tubuh polos Julian.


Kedua mata Julian semakin membulat sempurna. Pun tubuh gagahnya semakin menegang di karenakan perempuan cantik itu memeluknya tanpa kesadaran penuh.


"Ahh....! Menyegarkan sekali. Sekarang tubuhku ini menjadi lebih segar." ucap perempuan itu berkomentar dengan kedua tangannya yang masih memeluk erat tubuh Julian.


"Hai! Kau! Kau! Apa yang kau lakukan?!" Ucap Julian tersendat - sendat.


"Mandi. Aku ingin mandi bersama denganmu." dengan mengulas senyuman yang sama, perempuan itu menatap Julian dengan mata yang mengerjap - ngerjap.


...***...


Sajian sarapan pagi di depan mata belum tersentuh oleh garpu di tangan Marsha.Tatapanya datar, dan hampir - hampir melamun. Pun garpu yang ada di tangannya masih tak bergerak sama sekali. Pemandangan pagi yang begitu mencuri perhatian Alvaro.


Sejak kemarin malam, saat Alvaro kembali dari acara berkumpul dengan para saudaranya, Marsha belum mengeluarkan sepatah katapun kepada Alvaro. Salam pagi yang terbiasa terucap dari perempuan cantik itu juga tak Alvaro dapatkan.


Semalaman Marsha tidur membelakangi Alvaro. Di tengah-tengah ranjang tidur juga terdapat banyak guling, seolah - olah menjadi dinding pembatas untuk ruang gerak keduanya. Marsha secara terang - terangan tidak ingin di sentuh apalagi berdekatan dengan Alvaro di atas ranjang tidur.


Dan pagi ini, efek dari ketidakpekaannya Alvaro masih berlanjut dan berimbas pada kehangatan keluarga kecil Alvaro dan juga Marsha.


Cangkir kopi dengan isi yang baru di seruput itu hingga membasahi bibir Alvaro kembali di letakkan di atas meja. Tablet PC yang ada di tangannya pun ikut di anggurkan dengan di letakkan di atas meja makan.


Alvaro bangkit dari duduknya, lalu mendekat ke arah Marsha yang masih terduduk melamun. Jemari Alvaro dengan lembut membelai rambut Marsha. Dengan gerakan yang penuh dengan rasa sayang dari lelaki tampan itu membuyarkan lamunan dari Marsha hingga akhirnya tersadar.


"Kau kenapa, sayang? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kamu masih marah dengan komentar ku yang kemarin?" Alvaro membrondongi Marsha dengan pertanyaan yang mengganjal.


"Aku tidak apa-apa." jawab Marsha yang masih tidak jujur.


"Istriku ini adalah orang yang agak cerewet jika bersangkutan dengan suami tampannya ini. Tidak mungkin kau tidak apa-apa, Marsha. Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?" ucap Alvaro setengah mendesak.


"Alvaro...." Marsha mencengkram lembut pergelangan tangan Alvaro. "Apa kau punya waktu untuk malam nanti?" Marsha berakhir melunak. Sisi manja Marsha tersentuh oleh belaian tangan Alvaro.

__ADS_1


Alvaro berlutut di hadapan Marsha. Senyum manis nan tulus terulas menyempurnakan ketampanannya. Jemarinya pun sudah beralih ke pipi dan membelainya dengan lembut hingga mengembangkan hati Marsha yang di penuhi dengan kehangatan.


"Aku pernah menjanjikan untuk kita berdua menikmati waktu bersama. Bagaimana kalau malam ini kita realisasikan janjiku itu?" tanya Alvaro penuh dengan harapan Marsha yang setuju dan tidak menolak.


"Lalu bagaimana dengan Miracle?" tanya Marsha yang agak meragu.


"Kita bisa menitipkan Miracle sampai besok pagi pada Kakek dan Neneknya. Lagi pula itu yang dari dulu dinantikan oleh Papa dan Bunda, kan? Menanti ijin dari kita untuk memperbolehkan Miracle menginap di rumah mereka."


Marsha tersenyum. Rasa kesal yang sejak kemarin malam menggelayuti perlahan lenyap berganti kebahagiaan dengan terselip rasa yang tidak sabaran untuk memberitahu.


"Ya, aku setuju. Malam nanti adalah waktu yang tepat untuk kita berdua menikmati waktu bersama." Marsha mengiyakan permintaan dari Alvaro.


"Berdandan lah yang cantik dan seksi. Aku sudah tidak sabar." ucap Alvaro genit lalu mengecup pipi Marsha.


"Aku juga sudah tidak sabar," sahut Marsha dengan maksud lain.


"Sudah tidak marah?" Alvaro menggoda.


"Aku masih marah!" Sahut Marsha dengan memasang wajah yang masam.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2