Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Ancaman Dari Bodyguard Garry


__ADS_3

"Laksanakan! Dan aku akan langsung masuk dari depan!" Sahut Julian mengiyakan dengan nada tegasnya lalu kembali masuk kedalam mobil untuk mengambil senjata api miliknya.


Jemari Julian menari lincah di atas touchscreen, lalu menempelkan handphone miliknya ke sisi kiri telinganya untuk memulai panggilan telepon ke seseorang.


"Kita pecahkan kepala si kutu busuk itu, Kak." dengan nada dingin dan bercampur geraman kemarahan dari Julian memberitahukan kepada Alvaro keputusannya.


"Oke. Aku juga sudah tidak sabar ingin memecahkan kepalanya. Om Bara juga sudah standby." ucap Alvaro yang ikut mengiyakan dari mobil yang lainnya.


Kini rumah Garry sudah di kepung oleh orang-orang dari keluarga Alvarendra dan Pratama. Dengan perintah yang turun dari ketiga lelaki yang berkuasa. Ya, mereka bertiga yang turun langsung dalam penyelamatan misi Naura dan Berlin. Kemudian, mereka bertiga pun langsung bergerak cepat bersama dengan para anak buahnya masing-masing untuk melumpuhkan sistem keamanan di rumah Garry.


Orang - orang Garry yang sedang berjaga di luar sudah berhasil dilumpuhkan dengan cara yang cantik dan tanpa menimbulkan keributan sehingga orang - orang yang sedang berjaga di dalam rumah Garry tidak merasakannya. CCTV pun telah berhasil di lumpuhkan oleh Bastian yang sukses meretasnya. Mengacaukan sistem monitoring pengamanan sehingga orang-orang dari keluarga Alvarendra dan Pratama berhasil menyalip masuk.


Kini suara gaduh yang ada di dalam kamar membuat Naura dan Berlin langsung buru - buru turun hingga berakhir meloncat untuk mempercepat gerakan.


"Awwwh!" Naura mengerang kesakitan ketika tubuhnya jatuh di atas rerumputan dan jemarinya meremas dengan kuat akan rasa sakit yang mendera tubuhnya.


"Kak Naura? Apa Kakak baik - baik saja?" tanya Berlin dengan nada yang panik.


"Berlin, cepat lari dan carilah bantuan. Aku yakin keluarga Alvarendra sudah berada di sekitar mansion ini." ucap Naura menyuruh Berlin untuk meninggalkan dirinya.


"Tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkan Kak Naura di sini sendirian. Ayo, Kak. Kita pergi bersama - sama." ucap Berlin. Kemudian dia berusaha untuk memapah Naura.


"Pergilah Berlin!" Naura langsung mendorong Berlin. "Aku mohon, tinggalkan aku di sini dan kau cari bantuan saja!"


"Apa Kak Naura sudah gila ya! Mana mungkin aku bisa meninggalkan Kak Naura di sini sendirian. Aku akan menggendong Kakak!" Teriak Berlin yang memilih untuk keras kepala.


"Lihat. Itu mereka. Cepat kejar!" Salah satu Bodyguard Garry melihat keberadaan Naura dan juga Berlin dari lantai atas.

__ADS_1


Keadaan sekarang semakin mencekam, kini Berlin di landa kebingungan. Dan otaknya pun kini tidak mampu untuk menghasilkan sebuah keputusan yang bijak agar tidak merugikan dirinya dan juga Naura. Perempuan cantik yang kini tampil bagaikan seorang bidadari dengan keseksiannya itu mulai bergetar di sekujur tubuhnya.


"Aku mohon. Cepatlah lari Berlin. Aku janji, aku pasti bisa melindungi diriku sendiri." teriak Naura sambil memaksa.


Dengan kebingungan, Berlin pun akhirnya lari. Ya, dengan terpaksa putri bungsu kesayangan Elvano itu akhirnya pergi berlari meninggalkan Naura yang tak mampu lagi untuk berdiri.


"Kak Naura, bersembunyi lah dengan baik. Aku akan segera mencari bantuan untuk menyelamatkan Kak Naura!" Teriak Berlin dalam berlari dan dengan suara yang bergetar.


Kelopak mata mengerjap. Helaan nafas kasar terhembus dari mulut yang terbuka kecil. Dan kini tangan yang sedang meremas rerumputan berakhir merusak keindahannya, mencabut dengan kasar akan diri yang menegang.


Deruan langkah yang semakin jelas terdengar membuat debaran jantung dari Naura berdebar lebih cepat. Perempuan cantik itu semakin menyiapkan mentalnya di tengah keputusasaan yang sedang menerima nasibnya malam ini.


"Ketemu!" Ucap bodyguard Garry yang berdiri tak jauh dari Naura. "Gadis cantik. Mau pergi kemana lagi kau?"


Naura hanya terdiam. Perempuan cantik itu bukannya pergi berlari untuk melarikan diri, malahan mengangkat wajahnya dan membalas tatapan bengis kedua bodyguard Garry yang ada di hadapannya itu. Seolah - olah ancaman yang ada di depan matanya tidak menciutkan nyalinya.


"What?" tanya salah satu sang bodyguard Garry.


"Ya, hanya seorang pecundang saja yang berani menyerang seorang gadis. Lebih baik panggil teman - temanmu lagi sana!" Ucap Naura menantang.


"Dasar gila. Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau-"


Dengan gerakan cepat dan bidikan yang tepat sasaran senjata api milik Garry yang sudah Naura curi mengarah tepat ke arah sang kedua bodyguard Garry itu hingga membuat kedua bodyguard itu berhenti berbicara.


"Kau cari mati ya!" Seru salah bodyguard itu yang tak mau kalah. Dia pun ikut mengarahkan senjata api miliknya ke arah Naura.


Dan di detik Naura mendapatkan ancaman balik dari bodyguard itu, tanpa di ketahui oleh kedua bodyguard itu di belakang tubuhnya para teman - teman bodyguard itu sudah lebih dulu di lumpuhkan oleh Julian dan para bodyguard nya. Melumpuhkan dengan cara gesit dan cerdik sehingga tak menimbulkan suara.

__ADS_1


Sebuah gerakan yang tiba - tiba tertangkap oleh kedua sudut mata Naura, dan membuatnya tak teralihkan pada Julian dan orang - orangnya yang sedang mengendap dan mendekati. Rasa lega sekita menyapa jiwa karena kekasih hatinya datang untuk menolongnya.


Julian pun menatap Naura dengan penuh arti, lelaki tampan itu mengangkat telunjuk jari kanannya dan menempel tegas di atas permukaan bibirnya untuk memberikan isyarat kepada Naura agar tetap tenang sehingga para bodyguard dari Garry tidak mengetahui keberadaannya.


Fokus Naura kini kembali pada bodyguard yang membidiknya dan beruntungnya, bodyguard bodoh itu tak teralihkan oleh gerakan kedua bola matanya. Berusaha untuk menenangkan jiwa dengan sekujur tubuh yang menegang. Dan sejenak, Naura menarik napas yang dalam - dalam lalu menghela dengan lembut.


"Kau yang cari mati!" Lagi - lagi Naura kembali menantang. Dan kini bidikan senjatanya sedikit turun mengarah pada kaki.


"Dasar gadis kurang ajar!"


Dor.


Dor.


Dua kali suara tembakkan terdengar saling bersahutan dan kedua kelopak mata Naura langsung terpejam. Tangannya yang masih memegang senjata api itu seketika bergetar lalu melatah ke seluruh tubuh hingga melemaskan kedua kaki.


Senjata api itu pun jatuh ke atas rerumputan. Kedua kaki yang lemah kini sudah tidak mampu lagi menahan bobot tubuh dan Naura berakhir terjatuh terduduk lemas di atas rerumputan. Napas perempuan cantik itu tersengal. Mulutnya terbuka mengeluarkan helaan napas kasar. Keringat mengucur dan berpeluh memenuhi dahi dan di tambah lagi dengan aliran darah yang memenuhi sistem kerja jantung hingga berkali - kali lebih cepat tak normal.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2