
Kevin bukannya pulang, Ia malah dengan setia menunggu Istrinya di parkiran apartemen, hatinya sangat gelisah menunggu kedatangan Istrinya.
Kevin mengambil ponsel nya dan mengirimkan pesan pada Istrinya. "Aku menunggumu di bawah, cepatlah" pesan Kevin pada Anin.
Anin yang baru saja selesai makan, membersihkan sisa makanannya bersama dengan Anna, Anna yang melihat ponsel Anin bergetar segera memanggil sang empunya. "Ada pesan tuh, mungkin dari Suamimu, maaf ya sudah merepotkanmu" ucap Anna menyerahkan ponsel Anin.
"Tidak apa-apa" jawab Anin sembari membuka pesan dari Suaminya. "Mas Kevin pulang duluan saja !" balas Anin dan meletakkan ponselnya kembali ke meja, dan melanjutkan pekerjaannya mencuci piring, sementara Anna duduk memperhatikan Anin.
"Aku iri deh sama Kamu, Kamu bisa hamil dan sebentar lagi akan menjadi ibu, sementara Aku belum tentu bisa hamil, karena harus menjaga pola makan dan diet berlebihan. Aku takut akan mengecewakan Kevin yang selama ini membiarkanku hidup bebas, dan tidak perna mengekangku. Bagaimana jika suatu saat nanti Aku menikah dengan Kevin dan Dia menginginkan anak Dariku dan Aku tidak bisa memberikannya? pasti dia akan sangat kecewa kan?" ucap Anna panjang lebar.
Anin diam saja mendengarkan penjelasan Anna, sampai di mana perkataan Anna membuatnya terkejut. "Ya walaupun Aku tidak keberatan jika harus mengangkat anak" lanjut Anna.
"Deg" Anin begitu terkejut mendengar pernyataan Anna, pikirannya sudah travelling kemana-mana. Di mana suatu saat nanti Kevin meninggalkannya, dan kembali pada Anna lalu mengambil anaknya, kerena Anna tidak bisa mempunyai Anak. Itulah yang ada di pikira Anin saat ini.
"Kenapa Kamu begitu terkejut" tanya Anna saat melihat raut wajah keterkejutan Anin.
"Ah itu, Saya hanya berfikir, pikiran Anda sangat mulia, tidak gampang bagi seorang wanita menerima anak dari orang lain" ucap Anin.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang, Kamu kan sebentar lagi menjadi ibu" ucap Anna senyum.
"Di mana Suamimu? apa Dia tidak marah saat Kamu bekerja dalam ke adaan hamil?" lanjut Anna.
"Suami Saya sedang sibuk bekerja, awalnya Suami Saya marah saat mengetahui Saya bekerja, namun setelah lama membujuknya, Dia mengijinkan Saya dengan syarat Saya tidak boleh membahayakan kesehatan Saya dan Baby Saya." jelas Anin dengan senyuman.
"Ternyata Suami Kamu sangat perhatian ya, jadi pengen cepat-cepat nikah deh" ucap Anna antusias. "Ngomong-ngomong Kamu dan Suami Kamu kenal dimana? Kalian pacaran berapa lama?" tanya Anna yang ingin mengetahui lebih dalam.
"Eh....it....itu, Ka...Kami tidak sengaja bertemu dan....." Anin benar-benar gugup tidak tahu harus menjelaskannya.
"Oh Kamu hamil di luar nikah dan terpaksa menikah karena laki-laki itu harus bertanggung jawab?" Anna menyimpulkan, membuat Anin sedikit tersinggung, walaupun benar adanya mereka terpaksa menikah, tapi Ia tidak hamil di luar nikah.
"Sa...Saya tidak....."
"Tidak apa-apa kali kalau kalian terpaksa menikah, toh sekarang Suamimu sangat perhatian padamu dan juga cinta" goda Anna.
Anin hanya senyum kaku menanggapi perkataan Anna. "Kalau Anda ketemu pacar Anda di mana?" Anin memberanikan diri untuk bertanya, Ia ingin tahu bagaimana kisah asmara masa lalu Suaminya.
"Kami tidak sengaja bertemu di sebuah kafe, saat Aku makan dengan teman-temanku, dan Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama." jawab Anna senyum-senyum mengingat awal l
__ADS_1
pertemuannya bersama Kevin.
Anin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, setelah menyelesaikan semuanya Anin pamit pulang pada Anna, dan Anna mengatar Anin sampai di pintu apartemen.
"Kamu hati-hati ya, dan terimakasih atas makan malamnya" ucap Anna.
"Iya sama-sama, semoga cepat sembuh ya" Anin melangkahkan kakinya menjauhi apartemen Anna atau lebih tepatnya apartemen Suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anin celingak-celinguk mencari seseorang, namun yang dicari tak kunjung muncul juga. "Ternyata mas Kevin sudah pulang" Anin berharap Kevin akan menunggunya, namun itu hanya harapan yang tak mungkin jadi nyata.
"Ayo cari siapa?" ucap seorang pria yang muncul tiba-tiba entah dari mana.
"Mas Kevin belum pulang?" tanya Anin berbinar, Ia tidak menyangka Kevin akan menunggunya di parkiran.
"Aku tidak bisa tenang sayang, jika Kamu belum pulang kerumah" Kevin mengacak-acar rambut Anin.
"Apa yang mas takutkan? Anna tidak berbuat apa- apa padaku" Anin mengerucutkan bibirnya saat menyadari rambutnya berantakan. "Mas Kevin tidak bawa mobil?" tanya Anin saat tidak mendapati mobil mewah sang Suami.
"Tadi Aku menyuruh Ans untuk mengambilnya, karena Aku ingin menikmati waktuku dengan Istriku untuk jalan-jalan sebentar, tidak apa-apa kan?" tanya Kevin dengan senyuman yang mengembang.
"Apa Kamu lelah? yaudah Kita jalan-jalannya lain kali saja" ucap Kevin yang takut jika Istrinya kelelahan.
"Tidak Aku tidak lelah, bahkan dokter Rangga menyarankanku untuk banyak jalan, karena itu bagus untuk ibu hamil yang akan melahirkan." ucap Anin yang berhasil membuat wajah Kevin berbinar bahagia.
Kevin mengenggam tangan Istrinya, menyusuri pingir jalan di malam hari, dengan lampu jalan yang menghiasi tempat tersebut, mereka berjalan layaknya remaja yang sedang kencan.
Tak berapa lama berjalan, mereka berdua menemukan sebuah dermaga, namun agak sepi pengunjung, mereka memutuskan untuk bejalan-jalan di sekitar dermaga untuk menikmati waktu mereka berdua.
"Anin Kita akhiri sandiwara ini ya" bujuk Kevin. "Aku tidak mau jika Kamu kelelahan karena hal ini" Kevin kembali bersuara.
"Tapi mas, dengan merawat Anna Aku menjadi sedikit tenang, dan rasa bersalahku berangsur-angsur hilang. Beri Aku waktu tiga hari, jika Anna belum juga mengingat semuanya, Kita akan mengatakannya pada Anna." tawar Anin pada Suaminya.
"Tapi Kamu lihat sendiri kan? bagaimana Anna menempel padaku, Aku risih dengan itu, belum lagi jika Aku memikirkan perasaanmu" jujur Kevin yang memang agak risih dengan kelakuan Anna yang terus menempel padanya.
"Kalau Aku boleh jujur, Aku akui mas, Aku cemburu jika melihat mas Kevin dekat dengan Anna, rasa takut kehilangan mas Kevin begitu besar, namun disisi lain Aku kasihan dengan Anna."
__ADS_1
"Sayang, Kamu tidak perlu takut dengan Aku yang akan meninggalkanmu, karena itu tidak akan terjadi, dan terimakasih" Kevin mencium kening Istrinya Istinya.
"Hah kenapa mas Kevin berterima kasih padaku?" tanya Anin heran, padahal Ia tidak melakukan apa-apa tapi kenapa Suaminya malah berterima Kasih.
"Terimakasih karena sudah cemburu, itu artinya Kamu mencintaiku, dan takut kehilanganku, iya kan?" goda Kevin mengedipkan sebelah matanya.
"Ais" Anin menunduk karena malu, wajahnya sudah merona merah.
"Kenapa? Kamu malu?" lagi-lagi Kevin menggoda Istrinya.
"Ti...tidak, Aku tidak malu mas" jawab Anin gugup apa lagi saat tangan Kevin melingkar di bahunya.
"Kalau begitu panggil Aku sayang" pinta Kevin, namun Anin diam saja dan belum melaksanakan perintah Suaminya.
"Sayang" panggil Kevin dengan senyuman jahilnya.
"Hmmm" gumam Anin.
"Ayo cepat katakan, jika tidak, Kita akan bermalam di dermaga ini, dan Aku dengar dermaga ini itu......"
"Sayang Kita pulang ya" ucap Anin refleks takut dengan ancaman Suaminya.
Kevin kembali tersenyum dan sekali lagi mendaratkan ciuman di kening Anin. "Kamu bilang apa tadi? mas tindak dengar loh" Kevin kembali menjahili Istirnya.
"Ayo Kita pulang ini sudah tengah malam loh" ucap Anin tidak ingin lagi menyebut kata sayang, lidahnya terasa kelu jika mengucapkan itu.
Tawa Kevin pecah karena berhasil mengerjai Istrinya sementara Anin mendegus kesal melihat tingkah Suaminya.
-
-
-
-
TBC
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.