Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Keputusan Kiran


__ADS_3

"Anak kau bilang? Kau bilang Arkana adalah anakmu?" Kiran mengulas dengan senyuman yang mengejek. "Kau ada di mana selama aku mengandung Arkana? Dimana kau saat aku mengalami mual dan muntah akut saat sedang mengandung Arkana? Tanganku bahkan harus tertusuk jarum infus yang menyakitkan agar selangnya bisa terhubung dan mentransferkan cairannya ketubuhku. Dimana kau saat aku sendirian berjuang untuk mempertaruhkan nyawaku saat melahirkan Arkana?" tanya Kiran panjang lebar sekaligus mengungkapkan isi hatinya.


Amarah di dalam diri Kiran kembali meledak. Menguasai seluruh jiwa hingga tak mampu di kontrol dengan sempurna oleh perempuan cantik yang terisak dalam tangisannya.


Kiran kacau. Hatinya kembali tersakiti oleh memori ingatan yang menyesakkan dada.


Seluruh tenaga terkuras habis oleh emosi yang menguasai. Kedua kaki yang menopang bobot tubuh pun seketika lemah. Kiran ambruk ke atas lantai, terduduk dengan tubuh yang masih bergetar.


Suara isakan tangisnya melemah, perlahan senyap seolah-olah pita suaranya tak lagi berfungsi.


Wajah cantik berkulitkan putih telah beralih warna akan aroma merah yang lebih menguasai.


Bara tak berkedip, melihat ketidakberdayaan Kiran. Hatinya hancur berkeping-keping, sulit untuk di satukan kembali. Jantungnya berdebar tidak normal. Dadanya pun di remas kuat tanpa ampun hingga tersakiti. Kesakitannya menjalar ke seluruh organ - organ vitalnya. Hingga membuat tubuhnya juga ikut lumpuh.


Namun, Bara masih berusaha untuk tak menjadi lemah di hadapan Kiran.


"Aku hanya mau Arkana, Bar? Tolong kembalikan Arkana kepadaku. Aku mohon!" Pinta Kiran frustasi.


"Tidak bisakah kau memberikan aku kesempatan, Kiran?" Bara balik memohon.


"Aku sudah bahagia di sini bersama dengan Arkana." ucap Kiran.


"Juga bersama dengan Julian?" Bara menyerobot cepat.


"Bar...."


"Aku tak pernah memiliki niat tak bertanggung jawab kepada kalian." Bara duduk berlutut di hadapan Kiran. Tangannya mencengkram lembut lengan Kiran yang bergetar.


"Jangan ganggu aku dan Arkana lagi. Aku mohon!" Lirih Kiran yang meminta frustasi.


"Aku mencintaimu, Kiran. Aku juga gila sudah mencarimu kemana - mana. Aku juga sakit saat kau tinggalkan aku begitu saja. Hatiku juga hancur mendengar kabarmu selama mengandung Arkana. Kiran..." Bara membelai lembut kepala Kiran. "Tolong, beri aku kesempatan untuk menebus semuanya. Dan beri aku kesempatan untuk menjadi suami dan Ayah dari anak kita." Bara membujuk Kiran dengan perlakuan lembutnya.


"Aku terlalu membencimu, Bar. Rasa sakit yang kau berikan selama ini masih belum bisa aku lupakan," jawab Kiran yang memilih untuk keras kepala.


"Oke! Jika itu keputusanmu!" Bara bangkit, berdiri tegak di hadapan Kiran. "Ingat Kiran, mulai sekarang aku tidak akan bisa mempertemukanmu dengan Arkana lagi. Kau bisa bertemu dengan Arkana kembali jika kau memenuhi syarat dariku."

__ADS_1


"Kau memang licik Bara!" Geram Kiran kesal.


"Iya! Dan itu semua karenamu!"


"Bar, aku mohon padamu cepat kembalikan Arkana padaku. Aku mohon Bara! Kembalikan Arkana." Kiran memohon penuh frustasi.


"Sudah aku katakan, bukan? Aku akan mengembalikan Arkana jika kau mau menuruti permintaanku Kiran!" Ucap Bara kemudian beranjak pergi meninggalkan Kiran di ruangan kamar itu.


...***...


Semilir angin dari air conditioner yang menyala menghempas wajah pucat Kiran. Perempuan cantik itu duduk termangu di atas sofa malas dengan tatapan yang kosong.


Deringan handphone miliknya yang mengisi ruangan kamar tidurnya pun tak di gubris oleh Kiran. Sengaja di buat menganggur. Deringan nya yang berisik hanya di anggap angin lalu oleh perempuan cantik yang sudah tiga hari duduk melamun di kamar tidurnya..


Ya, sekembalinya Kiran dari acara ulang tahun itu, Kiran lebih banyak mengurung diri di kamar tidurnya. Hatinya hancur saat kembali tanpa membawa pulang Arkana. Bayi tampan dan pengasuhnya di culik oleh Bara.


Bahkan kediaman tempat tinggalnya pun di geledah oleh Bara untuk mengambil persediaan ASI di lemari pendingin.


Kiran bernafas namun kehilangan separuh nyawanya. Penyemangat hidupnya kini tak berada di sisinya hingga mengacaukan kehidupan Kiran selama tiga hari ini.


Sosok yang di nanti pun tiba. Julian yang baru saja tiba langsung berlari menuju ke arah kamar tidur Kiran, menghampiri Gita dengan wajahnya yang lembab dan memerah dikarenakan air mata yang terus mengalir dari kedua mata. Gita begitu miris melihat nasib Kiran saat ini.


"Dia sudah makan?" tanya Julian yang mendapatkan gelengan kepala lemah dari Gita.


Julian menghela nafas. Kedua kelopak matanya mengerjap sejenak. Kedua kaki panjangnya kembali melangkah menapaki lantai kamar tidur Kiran yang remang - remang. Minim akan cahaya bohlam maupun cahaya matahari yang mendesak masuk. Gorden besar menjadi penutup cahaya dari luar ruangan hingga cahaya alami matahari tak bisa masuk hingga tak mampu menembus tebalnya gorden yang menutupi jendela kamar.


"Apa kau itu mau mati? Hah!" Julian sedikit membentak Kiran.


"Lian...? Di matamu, aku ini adalah perempuan yang seperti apa?" Kiran malah balik bertanya.


"Kenapa? Apa kau masih memikirkan permintaan kurang ajarnya itu?" ada nada menggeram terselip dari kata - kata Julian


"Apa aku memang serendah itu sehingga mulutnya itu dengan mudahnya memintaku untuk naik ke ranjangnya?" air mata Kiran jatuh tanpa di sadari.


"Tak usah kau pikirkan, syarat menjijikkan dari dirinya. Aku dan Kak Alvaro...."

__ADS_1


"Dia sudah membawa Arkana pulang ke kota B, Lian!" Sela Kiran cepat.


"Kiran...."


"Aku juga mau balik ke Kota B lagi." Kiran menyela cepat lagi.


"Jangan bilang kalau kau akan mengabulkan keinginannya yang menjijikkan itu?" tanya Julian menuduh.


"Julian, Bukankah Arkana masih keturunan keluarga Pratama? Dan masih keponakan keluarga Pratama, kan?" tanya Kiran yang masih dengan nada datar yang sama.


"Kiran! Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Julian yang begitu penasaran.


"Aku tak akan datang memohon dan mengemis bahkan menyerahkan diriku pada laki - laki yang sudah kurang ajar itu." dagu Kiran terangkat. Tatapan kedua mata membalas tatapan Julian yang penuh dengan tanya.


"Apa maksudmu?" tanya Julian setengah mendesak.


"Aku akan datang kehadapan Om Anton dan Tante Lisa. Karena Arkana ku masih keturunan sah dari keluarga Pratama dan berhak mendapatkan pengakuan dari mereka. Kali ini aku tidak akan lari. Akan aku berikan pelajaran yang berharga pada Pamanmu serta tunangannya itu." ujar Kiran mengeluarkan niatnya yang sudah bulat dan telah ia putuskan di dalam hati.


Tekad Kiran sudah bulat. Tak mau lagi di tunda - tunda. Tidak mau jadi pengecut yang terus berlari dari kenyataan.


Arkana butuh pengakuan resmi. Bayi tampan yang sudah pantas mendapatkan apa yang dari dulu harusnya ia dapatkan. Jangan hanya karena ego, Arkana akan kembali menjadi korban dari keras hati kedua orang tuanya.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2