Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Kambuh Lagi


__ADS_3

"Santai saja nona" Kevin mengembangkan senyumnya.


Ya Pria itu adalah Kevin, CEO Adhitama Grub. Dan alasan Kevin ke Beijing yaitu untuk mengembangkan sayap Angelfasion yang telah didirikannya tiga tahun lalu, hanya untuk mewujudkan mimpi Anin. Kevin tidak menyangka bahwa desainer terkenal yang akan Ia ajak kersama sama dengan Tuan Fang adalah nona Elice murid sekaligus sekretaris master Long. Dan tak di sangka Nona Elice adalah Anin istrinya. Bagi Kevin, ini adalah kebetulan yang sangat menguntungkan baginya.


Dengan kerja sama ini, tentu saja itu akan mendukung usaha Kevin untuk lebih mendekatkan diri pada Anin dan merebut kembali hati Istrinya.


"Maaf Tuan, Saya belum bisa menyelesaikan semua desain-desainnya, tapi Saya usahakan secepatnya" Anin memyerahkan beberapa desain pada Kevin.


Anin yang awalnya ingin menghindari Kevin, tidak bisa melarikan diri lagi, sekarang Ia terikat kerjasama dengan Angelfasion, dan tidak mungkin jika Ia membatalkan kerjasama ini, itu sama saja Ia mempermalukan master Long.


Kevin memeriksa desain-desain Anin, Kevin begitu takjub melihat semua desain-desainnya, Kevin tidak menyangka Anin mempunyai bakat yang terpendam selama ini, Kevin merasa sangat bangga pada Anin, dan tidak sia-sia Ia mati-matian melebarkan sayap Angelfasion.


"Tuan Fang tidak akan datang, jadi sekalian Saya yang mewakilinya" ucap Kevin frofesional, Ia tidak ingin melibatkan urusan pribadi dengan pekerjaanya.


Anin menjelaskan setiap desain yang Dia buat, mulai dari ukuran dan juga lain-lain. Sementara Kevin tidak bisa fokus, dan hanya memandangi Anin terus-terusan tanpa Anin ketahui.


"Sudah waktunya makan siang, Kita makan dulu ya" Kevin tidak tahan lagi jika harus bersikap acuh pada wanitanya. Kevin sekarang benar-benar sudah bucin akut pada Anin, namun sebaliknya Anin terlihat acuh dan dingin walau Ia sudah mengetahui semuanya. Anin ingin memberi Kevin sedikit pelajaran, Anin ingin Kevin merasakan bagaiamana susahnya memperjuangkan seseorang yang Kita cintai, namun orang itu tidak pernah peduli pada Kita.


"Maaf Tuan, Saya ada janji dengan teman Saya." tolak Anin. Anin ingin melihat bagaiman reaksi Kevin, apa Kevin akan marah atau tidak.


"Dengan siapa Kamu akan makan siang Anin? apa dengan Dilan?" suara Kevin mulai terdengar kesal, sampai-sampai Kevin sudah menyebut nama Anin.


"Maaf Tuan nama Saya Elice bukan Anin" Anin kembali memancing emosi Kevin, Anin benar-benar suka jika melihat Kevin kesal.


"Mau nama Kamu Elice atau apa terserah, yang Aku tahu Kamu Anin, siput kecilku" bukannya kesal Kevin malah mengembangkan senyumnya dan mengacak-acak rambut Anin. "Kita makan siang dulu ya" Kevin mengulangi ajakannya.


"Maaf Tuan Saya ada janji dengan klien siang ini" jujur Anin yang memang masih ada pertemuan siang ini.


Kevin menghela nafas kasar, karena tidak bisa makan siang bareng dengan Anin, namun Ia tidak bisa memaksa Anin, Kevin takut Anin akan ketakutan dan mengingat kembali trauma masa lalunya. "Baiklah, jangan lupa makan okey, Aku akan balik lagi besok untuk memeriksa desain yang belum Kamu selesaikan" Kevin senyum jahil.

__ADS_1


"Sayang Aku pergi dulu ya, rindunya di tahan-tahan dulu, Kitakan ketemu lagi besok" goda Kevin dan berlalu pergi.


"Ais jika terus begini, Aku bisa-bisa baper dan tidak jadi memberi pelajaran pada Mas Kevin" gerutu Anin setalah Kevin pergi.


___


Malam harinya setelah makan malam, Anin menyibukkan diri lagi dengan desain-desain yang harus Ia selesaikan untuk menyerahkannya besok pada Kevin dan segera menjauh darinya.


Desain yang Ia buat mulai tidak beraturan kerena Kevin terus muncul dalam pikirannya, dan perlahan -lahan ingatan di sama lalun kembali menghantui Anin.


"Kenapa? kenapa Dia harus datang setelah Aku mulai melupakanya? kenapa Dia harus datang lagi dan membuka luka lama yang belum kering sepenuhnya? Aku membencimu Kevin sungguh Aku sangat membencimu." teriak Anin frustasi merobek desain-desain yang telah di buatnya dan melempar apaun yang ada di atas meja kerjanya.


Dilan yang baru saja tiba di apartemen Anin, melangkahkan kakinya, menarik tubuh Anin kedalam pelukannya untuk menenagkannya, menepuk-nepuk punggung Anin hingga Anin benar-benar tenang. Itulah yang di lakukan Dilan selama ini jika penyakit Anin kambuh.


"Tenangkan dirimu, pikirkan yang bahagia-bahagia saja, jangan terlalu tertekan oke" pinta Dilan masih menepuk-nepuk pundak Anin dengan lembut.


"Jangan memikirkan hal-hal yang akan membuatmu stres, itu akan memicu penyakitmu kambuh" nasehat Dilan. "Dan tentang masa lalumu, cobalah sedikit demi sedikit untuk menghadapinya, Kamu tidak akan bisa keluar dari masa lalu jika terus menghindarinya!" lanjut Dilan. "Mungkin memulai dengan Kevin akan membuatmu perlahan-lahan keluar dari masa lalu, jadi jangan menghindarinya dan membuatmu stres seperti tadi." ucap Dilan.


Ya Dilan mengetahui bahwa beberapa hari ini Anin betemu dengan Kevin, dan Dia tidak mempermasalahkan itu, selama Anin bahagia, makan Dilan juga akan bahagia.


Dilan memandangi wajah Anin begitu dalam. "Aku sangat ingin Kamu sembuh dan keluar dari masa lalumu, namun Aku tidak rela jika Kamu akan pergi dari hidup-ku" batin Dilan.


"Kamu sudah makan?" tanya Dilan.


"Iya, kenapa? apa Kamu lapar? Kamu mau makan sesuatu?" tanya Anin yang mulai cerewet.


"Aku sudah makan kok" kilah Dilan yang nyatanya ingin mengajak Anin makan malam, namun saat sampai di apartemen Anin, Ia hanya menyaksikan Anin yang mulai hilang kendali. "Aku pulang dulu ya" pamit Dilan mengacak-acak rambut Anin dan berlalu pergi.


"Hati-hati" teriak Anin saat Dilan sudah di ambang pintu. " kenapa Dilan terlihat buru-buru? biasanya Dia akan tinggal sampai tengah malam, tidak biasanya?" batin Anin betanya-tanya.

__ADS_1


 


Saat melihat Anin begitu frustasi dan menyebut-nyebut nama Kevin, Dilan memutuskan untuk menemui Kevin karena sudah sangat emosi.


Dilan yang sudah berada di depan kamar hotel Kevin, mengedor-gedor pintu dengan keras dan berteriak-teriak memanggil Kevin tanpa memedulikan lingkungan sekitarnya.


"Shit" umpat Kevin yang merasa terganggu dengan gedoran dan juga teriakan seseorang, dan Kevin tahu betul siapa pemilik suara itu. Dengan langkah malas dan juga gerutuan Kevin membuka pintu kamar hotelnya.


"Ada urusan apa Kamu menemuiku malam-malam begini? apa Kamu kurang kerjaan hah?" Kevin menatap penuh permusuhan pada Pria di hadapannya, yang tak lain adalah Dilan, Pria yang telah membawa Istrinya pergi, dan itu membuat Kevin sangat membenci Dilan.


Tatapan Dilan tak kalah tajam dari tatapan Kevin, tatapan Dilan di penuhi dengan amarah.


Bhuk


Satu pukulan mendarat..............


-


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.

__ADS_1


__ADS_2