Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Cemburu 3


__ADS_3

"Maaf, Aku tidak bisa mengabarimu, karena Aku tidak ingin Kevin mengetahui keberadaanku. Tapi Kamu jangan khawatir, Aku akan menuruti semua keinginanmu, sebagai permintaan maafku" jelas Anin.


"Aku tidak mengingikan apapun Anin, Aku hanya merindukanmu, kapan Kamu pulang?" tanya Tari yang sangat merindukan sahabatnya.


"Untuk saat ini Aku belum siap untuk pulang ke indonesia, Aku masih bimbang dengan keputusanku ini" jawab Anin.


Sebenarnya Anin sangat ingin pulang ke tanah kelahirannya bersama dengan Kevin suaminya, karena berada di dekat Kevin membuatnya merasa aman dan terlindungi, tapi itu tidak bisa menjamin bahwa penyakit Anin tidak akan kambuh lagi.


Tari yang melihat wajah sendu Anin segera angkat bicara, Tari tidak suka jika melihat sahabatnya bersedih. "Hei kenapa Kamu melamun hah? jangan-jangan Kamu bimbang karena sekarang Kamu mulai mempunyai perasaan pada Dilan namun juga tidak mau melepaskan Kevin." goda Tari untuk mencairkan suasana. "Wah, ternyata yang Aku dengan memang benar adanya ya, sekarang Kamu sudah berubah, bahkan Kamu sudah berani ingin memiliki dua Pria mapan sekaligus" Tari tertawa lepas karena berhasil mengoda temannya yang sudah cemberut karena godaanya.


"Ais kalau ngomong jangan ngaco deh! Aku tidak suka sama Dilan, Aku hanya menganggapnya sebagai kakakku. Aku hanya mencintai Kevin, Kamu tahu itu." jawab Anin.


"Cie yang lagi kasmaran ni" goda Tari membuat wajah Anin memerah karena malu. "Pulanglah bersama Kevin, Aku akan menikah dan Aku ingin Kamu yang menemaniku menyiapkan semuanya, Kamu tahu sendirikan Aku tidak mempunyai keluarga selain dirimu." kini raut wajah Tari berubah serius.


"Tapi Aku....."


"Tidak ada tapi-tapi an titik! Aku hanya ingin Kamu yang menemaniku" Tari mengeluarkan jurusnya yaitu merajuk karena Tari tahu betul, Anin paling tidak suka jika melihatnya merajuk.


"Aku akan memikirkannya" ucap Anin yang tidak enak jika harus menolak permintaan Tari, apa lagi yang di katakan Tari benar, Ia tidak mempunyai siapa-siapa selain dirinya, orang tuanya meninggal dunia, dan Tari di besarkan oleh bibinya yang sangat kejam yang hanya menyiksa Tari, itulah sebabnya Tari menjadi wanita kuat seperti sekarang ini.


"Kamu memang sahabatku........"


"Sayang pakaian Kamu sudah datang, mandilah dulu setelah itu Kita makan" Kevin tanpa malu memeluk Anin dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Anin, padahal Anin masih video cool dengan Tari.


"Mas lepas ih, malu tau di liat sama Tari" Anin berusaha melepaskan pelukan Kevin pada pinggangnya karena sangat malu melihat Kevin bermanja padanya di depan Tari.


"Kek pengantin baru aja." goda Tari semakin membuat Anin malu. "Yaudah lanjutin sana, kegiatan yang sempat tertunda" goda Tari lagi dan menutup sambungan telfonya.


"Ah mereka sungguh tidak tahu tempat, dan malah menodai mataku yang suci ini" gerutu Tari setelah memutuskan sambungan telfonnya.


______

__ADS_1


"Mas lepasin ih! Aku mau mandi udah gerah ini dari tadi malam belum mandi" gerutu Anin karena Kevin terus menempel padanya padahal Kevin sendiri yang menyuruhnya bersiap-siap dan sarapan.


"Sebentar lagi sayang" Kevin terus memeluk Anin dari belakang, bahkan menciumi aroma tubuh Anin dan sekali-kali mencium tengkuk Anin. Kevin sudah begitu candu dengan aroma tubuh Istrinya.


"Mas Kevin" ucap Anin penuh tekanan.


"Hmmm, baiklah-baiklah" Kevin melepaskan pelukannya dan membiarkan Anin melakukan kegiatannya. sementara Ia menyiapkan makanan yang di pesannya di atas meja untuk sarapan bersama wanita tercintanya.


Setelah menunggu cukup lama, Anin belum juga keluar dari kamar, membuat Kevin khawatir dan mengampirinya masuk kedalam kamar.


"Ah sykurlah, Aku kira Kamu kenapa-napa sayang" ucap Kevin berkacak pinggang di belakan Anin yang sedang merias wajahnya dengan makeup tipis-tipis.


Kevin membungkukkan badannya mensejajarkan dengan tinggi Anin yang sedang duduk di depan meja rias. Kevin menatap wajah bulat Istrinya dari pantulan cermin di hadapannya. "Kamu cantik bangat sayang, memangnya Kamu mau kemana sampai berdandan segala?" bisik Kevin di telinga Anin membuat Anin kegelian dengan nafas hangat Kevin yang menerpa anak rambut sekitar telinganya.


"Aku ingin menemui Dilan mas, setelah Kita sarapan" jawan Anin mengembangkan senyumnya.


Rahang Kevin mengeras mendegar Anin menyebut nama Dilan, dan mengatakan akan menemuinya, Kevin jadi ragu meninggalkan Anin sendiri di Beijing, jika Dilan masih ada di Beijing.


"Mas Kevin marah?." Anin memainkan jari-jari tangan Kevin yang berdiri tagap di hadapannya, dan itu membuat Anin mendonggak agar bisa menatap wajah tampan suaminya.


"Tidak Aku tidak marah" ucap Kevin dengan ekspresi datarnya.


"Jadi bolehya Aku menemuinya?" pinta Anin menatap Kevin dengan tatapan penuh harap.


"Kamu mau ngapain sampai-sampai ingin menemui Dilan hah?" nada suara Kevin naik satu oktaf, bahkan Kevin tak lagi menatap wajah cantik Istrinya karena sangat kesal dan juga cemburu.


"Mas Aku hanya ingin menemui Dilan untuk terakhir kalinya, Aku hanya ingin berterimakasih dan pamit padanya, lagi pula Aku tidak akan pergi sendiri, Aku akan pergi bersama mas Kevin jika mas Kevin mau" Anin masih berusaha membujuk Suaminya yang posesif itu.


"Pamit?" hanya itu yang di tangkap Kevin dari sekian banyaknya kata yang keluar dari mulut Anin.


Anin mendegus kesal melihat sikap Pria di hadapannya itu. "Iya mas Aku hanya ingin pamit pada Dilan, Aku memutuskan akan ikut bersamamu ke indonesia, lagi pula Aku tidak tega jika membiarkan Tari sendiri mempersiapkan pernikahanya" jawab Anin. "Tapi......"

__ADS_1


"Tapi apa?" tanya Kevin yang kini kembali menatap wajah Anin, menunggu jawaban apa yang akan di ucapkan Anin.


"Tapi melihat mu marah tadi, membuatku berfikir ulang untuk ikut bersamamu" Anin ingin memberi pelajaran pada Suaminya yang suka marah seenaknya itu.


"Maaf sayang, Aku tadi hanya tidak suka jika Kamu menyebut nama Pria lain di hadapanku, apa lagi menemuinya, Aku tidak suka itu. Aku janji tidak akan marah tidak jelas lagi padamu. Jadi Kita pulang ya" bujuk Kevin kembali membungkukkan tubuhnya agar bisa menatap manik coklat Istrinya.


"........" Anin mengangukkan kepalanya dan tersenyum.


Cup


Satu kecupan mendarat di bibir ranum Anin. "Makasih sayang, Aku sungguh mencintaimu" Kevin memeluk Anin, Kevin begitu bahagia mendegar Anin akan kembali bersamanya. "Aku janji akan membahagiakanmu dan tidak akan menyakitmu lagi" Kevin mencium wajah Anin tanpa melewatkan setiap incipun.


"Sudah mas, Aku lapar, lihatlah sudah jam 8 lewat" Anin menghentikan kelakuan Kevin.


"Ah iy Aku lupa, Ayo" Kevin menarik Anin menuju sofa untuk sarapan bersama.


Sarapan mereka di temani obrolan-obrolan ringan dari keduanya, dan sekali-kali Kevin melirik Anin yang terlihat lahap memakan makannya.


-


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.

__ADS_1


__ADS_2