Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Harus Membuktikan


__ADS_3

"Maaf soal kemarin malam." Naura menyatakan rasa bersalahnya.


Kedua tangan Naura saling menggenggam di karenakan diri yang menegang. Ibu jarinya pun juga ikut gelisah dengan bergesekan tak tenang. Sepasang mata yang memiliki bulu mata yang lentik alami mengerjap - ngerjap. Bibir merah muda yang terpoleskan lip matte berwarna sendu mengecap - ngecap di karenakan semangat diri yang mulai runtuh.


"Aku tidak suka urusan pribadi di campur adukkan dengan urusan pekerjaan." ucap Julian dengan nada yang ketus.


Dokter tampan itu begitu acuh pada Naura yang masih berdiri dan tak di persilahkan untuk duduk. Lelaki yang mengenakan kemeja bermotif navy itu malahan lebih peduli dengan beberapa tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya.


"Ah, iya. Maaf, Pak Dokter Julian." Naura menelan salivanya dalam - dalam.


Dalam hati Naura mulai pesimis akan bertahan selama enam bulan di bawah tanggung jawab lelaki tampan nan kejam yang menjadi Dokter pembimbingnya. Nyali Naura seketika menciut, ingin rasanya kedua kakinya berlari menuju ke arah bandara dan kembali pulang ke Kota S.


Ambisi hati yang ingin meyakinkan Ayah kandungnya bahwa dirinya layak pun langsung musnah, sirna di terpa angin yang pesimis berhembus kencang.


"Ada peraturan yang harus kau patuhi selama berada di bawah tanggung jawabku." suara bariton Julian yang keluar dengan nada yang serius terhantar menyeramkan di kedua telinga Naura. Begitu horor hingga menegangkan bulu - bulu halus di tubuhnya.


"Ya, ya Pak Dokter Julian?" Naura baru tersadar dari lamunannya.


"Kau tidak mendengar ucapanku tadi?" Julian melirik tajam.


"Bu- bukan begitu Pak Dokter Julian." Naura menyanggah. "Saya hanya sedang menenangkan hati sejenak." sambungnya berucap jujur.


"Jangan melucu!" Larang Julian tegas.


"Saya tidak sedang melucu. Saya hanya berucap jujur!" Sahut Naura dengan polosnya.


"Selama berada di ruang lingkup kerja, anda harus menjaga sikap dan tutur kata. Jangan membuat skandal apapun yang nantinya akan merepotkan saya. Intinya selama anda mengenakan snelli, jangan mencoreng nama baik anda ataupun saya." ucap Julian yang bagaikan seorang pengawas kejam begitu keras mendidik Naura.


"Baik, Pak Dokter Julian." sahut Naura cepat.


"Dan satu lagi! Saya itu bukan Bapak anda! Jadi berhentilah memanggil saya Pak! Anda dengar itu Dokter Alexandra?"


"Naura! Dokter Julian bisa memanggil saya dengan sebutan Naura." Naura memberanikan diri untuk menyela cepat guna memperkenalkan diri.


"Sekarang kembalilah ke ruangan anda. Saya sedang sibuk!" Julian langsung mengusir Dokter Naura untuk segera pergi dari ruangannya.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi Dokter Julian." pamit Dokter Naura dengan nada yang sopan.


Pintu ruangan Julian telah tertutup rapat dan menenggelamkan Naura dari balik pintu. Ketenangan ruangan kembali Julian rengkuh. Tak ada siapapun yang berani mengusiknya apalagi membuatnya merasa tak nyaman.


Pena di tangan Julian pun di banting kasar. Sengaja di biarkan menganggur di karenakan dokter tampan itu ingin merilekskan tubuhnya yang tadi sempat menegang.


"Hahhh!" Julian menghela nafas kasar. "Jalan cerita kehidupan yang aneh. Tapi, aku bisa memberi pelajaran akan tingkah anehnya kemarin malam." ujar Julian yang masih di selimuti dengan rasa kesal hingga menaruh dendam di hati.


...***...


Naura masih saja menepuk - nepuk pipinya. Sejak perempuan cantik yang berumur 25 tahun itu sudah menduduki kursi di ruangannya. Perempuan cantik itu masih saja tak percaya akan realita kehidupan yang di dapatkan pada pagi ini.


Sungguh benar apa kata orang-orang. Jika awal pagi di mulai dari hal yang tak baik, pastilah akan berdampak atau berperangaruh tak baik pula hingga sang fajar terbenam di pelupuk mata.


Hal yang amat Naura sesali hingga membuat dirinya langsung pesimis dalam misi tersembunyi yang ingin Naura jalankan.


"Kenapa harus seperti ini! Habislah aku! Pertemuan pertama kami sungguh di mulai dengan hal yang tidak baik!" Naura kembali meratapi nasibnya.


"Tapi, aku tidak boleh mundur! Jauh - jauh aku pergi ke Kota B apa hanya untuk menangis seperti anak kecil? Tidak, tidak, tidak! Jika Nenek sihir itu tahu bahwa mentalku lemah seperti ini, dia pasti akan tertawa jahat seperti di sinteron - sinteron ikan terbang itu! Ayo! Kau itu harus kuat, Naura. Semangat! Buktikan pada Ayahmu dan juga Nenek sihir itu jika kau itu mampu."


Naura menyemangati dirinya sendiri di ruangannya. Berucap seorang diri tanpa ragu jika tingkahnya itu akan di ketahui oleh orang lain.


Perhatian Naura kini teralihkan dengan suara ketukan pintu dari arah luar. Seorang pegawai dengan seragam putih yang khas masuk dan tergesa dan menghampiri Naura.


"Dokter Naura, ada pasien baru dari UGD yang mengalami pendarahan dan butuh penanganan segera." Luna perawat yang datang tergesa itu memberitahu.


"Ayo kita segera kesana sekarang!" Sahut Naura cepat sambil beranjak dari tempat duduknya.


...***...


Bulan telah muncul. Keindahan langit malam semakin dipercantik oleh taburan bintang yang tampak berkilauan.


Dari balkon Apartemen, Bara memeluk perempuan kesayangannya itu dari arah belakang. Kesyahduan malam yang menenangkan membuat Kiran tidak menolak pelukan hangat dari lelaki tampan yang berlesung pipi itu.


"Arkana sudah tidur?" tanya Kiran ingin tahu.

__ADS_1


Tangan Kiran tanpa meminta izin seolah menandakan kepemilikannya mengusap - usap tangan Bara. Membuat lelaki tampan yang sebentar lagi akan sah menjadi suaminya mengulas senyuman manis, lalu menghadiahkan kecupan sayangnya di pipi Kiran.


"Setelah susunya habis, anak kita itu langsung tidur." jawab Bara memberitahu.


"Mungkin karena perutnya yang merasa kenyang jadi tak butuh waktu yang lama untuk menidurkannya." Kiran menimpali dengan fakta umum mengenai bayi tampan mereka.


"Malam ini, bolehkah aku menginap di sini?" tanya Bara penuh dengan harapan.


"Kenapa? Aku sudah bilang kepadamu, kan? Kita bisa tidur bersama lagi tapi setelah kita resmi menikah." ucap Kiran yang masih tetap pada keputusan awalnya.


"Hari ini aku sudah melewatkan hari yang berat. Boleh ya?" bujuk Bara menggunakan alasan palsu untuk meyakinkan Kiran.


"Sini aku beri obat untuk hari ini agar malammu menjadi ringan."


Kiran melepaskan pelukan Bara dan langsung berbalik badan. Kedua tangannya menagkup wajah tampan Bara dan menariknya untuk bisa lebih dekat dengan wajahnya.


Cup cup cup


Tiga kecupan bertubi-tubi Kiran hadiahkan sebagai obat lelah Bara. Tiga kali bibir Kiran menempel di bibir Bara tanpa di berikan jeda sedikitpun.


"I love you," bisik Kiran lembut penuh dengan ketulusan.


"I love you, too!" Balas Bara cepat tanpa bisa menolak. "Baiklah! Aku kalah kalau sudah seperti ini." sambungnya pasrah tidak mau lagi memaksa Kiran.


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2