
Kini mobil Porsche Panamera berwarna biru agak menggelap yang di kemudikan oleh Julian sudah sampai di hotel bintang lima yaitu Astro Hotel. Julian dan Naura kemudian turun dari dalam mobil dan melangkah menuju ke dalam hotel.
Sepanjang perjalanan menuju kedalam hotel mewah itu Naura di dera rasa penasaran yang akut pada sikap Julian yang tak jujur pada tujuannya mengajak Naura langsung masuk kedalam hotel mewah itu.
"Lian, ini.... kita...." saliva Naura tertelan, ketika kedua mata melihat kemewahan resepsi sebuah pernikahan. Kedua matanya membelalak. Kulit wajahnya di rayapi oleh rona merah akan tersipu malu karena sudah berpikiran negatif.
"Ya, sekarang ini kita sedang berada di acara pernikahan Keira! Aku harus membawamu kesini dan memamerkanmu pada mantan kekasihku, kan?" Julian menyeringai. "Dan di dalam juga banyak tamu penting dan teman - teman sejawat kita. Kemungkinan juga Bayu juga sudah ada di sana."
"Tu- tunggu, Lian! Tapi tidak apa-apa jika orang lain tahu mengenai hubungan kita?" Naura menahan langkah Julian.
"Jadi? Apa kau lebih suka jika aku harus menyembunyikan hubungan ini dari pada memberitahukannya pada orang-orang." gerut kerut Julian mendalam dengan tatapan yang memincing ke arah Naura.
Naura tersenyum mendengar perkataan dari Julian.
"Sudahlah! Ayo kita masuk. Lagi pula aku hanya mengenalkanmu dengan mantan kekasihku. Aku itu mau pamer pada mantan kekasihku, jika aku ini sudah memiliki pacar yang cantik. Bahkan jauhhhhh lebih cantik dari dirinya." lidah Julian begitu pintar dan lancarnya memuji Naura hingga membuat perempuan kesayangannya itu tertawa.
"Kenapa kau pintar sekali merayu, Julian!" Cibir Naura yang lolos saat perempuan itu masih tertawa.
"So Naura, mari kita masuk kedalam." Julian mengangkat dagu, mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Naura, menjaga sikap serius dengan tubuhnya yang berdiri tegak.
"Ayo Dokter Julian! I am ready!" Naura juga ikut - ikutan mengangkat dagu dengan memasang wajah yang serius. Tak lupa tangannya juga terangkat untuk menenggelamkan tangannya di genggaman Julian.
"Tetap jaga sikapmu seperti ini Naura. Dia dalam mungkin juga ada Kakak tirimu yang sudah hadir." bisik Julian.
Naura terkejut. Jantungnya berdebar dengan kencang dengan hati yang mulai di serbu dengan rasa takut.
"Kau jangan takut! Akan aku hajar dia, jika dia berani macam-macam dengan kekasihku ini." ucap Julian mencoba menenangkan Naura.Saat melihat ketakutan di wajah Naura
...***...
"This is my Baby."
__ADS_1
Dengan bangga sambil mengangkat dagu Julian mengenalkan Naura pada Keira. Tangan Naura yang terbenam dalam genggaman tangan Julian sempat menggoyang untuk menyadarkan lelaki itu tak berbuat angkuh dan memalukan di depan pengantin baru itu.
"Julian!" Naura menggeram dengan gigi yang merapat sambil mengulas senyuman yang ramah.
"Akhirnya kau sudah move on juga, Lian!" Keira mengejek dengan mengulas senyuman yang menjengkelkan.
"Hei! Aku itu jomblo karena sedang menunggu jodoh yang tepat. Nasib baik saja kau yang terlebih dulu menemui jodohmu ketimbang aku." dengan nada suara yang agak kesal, Julian membantah ejekan dari Keira yang menyudutkan dirinya.
"Kau sama menjengkelkannya seperti Kakak sepupumu itu! Nasib baik dia hanya mengirimkan hadiah dan tak datang ke acara resepsi ku. Jika tidak...."
"Sasakmu akan naik karena kami bersatu di tempat ini!" Sela Julian sambil menahan senyuman.
"Iishhh! Kau.. !"
"Selamat ya, Dokter Keira!" Naura langsung menarik tangan dokter Keira dengan tiba - tiba dan menyalami dokter Keira dengan mengucapkan kata selamat. "Dokter Keira lebih cantik dari yang aku bayangkan." sambungnya memuji Keira sambil meringis senyuman.
"Tapi kau lebih cantik dari dia, sayang. Lebih putih, lebih lembut, dan lebih muda pastinya."
"Aku harap kalian bisa langgeng dan bisa-" tatapan Keira terarah tajam pada Julian. "Menikah suatu saat nanti!" Ucap Keira dengan penuh penekanan kata.
"Terima kasih karena sudah datang di pernikahan kami di tengah waktumu yang sibuk, Lian." suami Keira menyela untuk tidak memperkeruh suasana. Lelaki teman satu profesi yang Julian kenal akrab.
"Kau yang sabar menghadapi perempuan galak ini ya, Galih. Kuatkan hatimu dan lapangkan dadamu!" Julian mengulas senyum, memainkan sebelah mata sambil berjabat tangan dengan Galih, sang mempelai pria.
"Perempuan galak itu biasanya hot di atas ranjang, Bro!" Balas Galih dengan bergurau.
Lirikan tajam mata Keira mengintimidasi Galih untuk tak lagi meladeni mulut dari Julian. Dengan dorongan dari Naura pula akhirnya Julian bisa turun dari panggung singgasana sepasang pengantin baru itu.
"Bisakah kau tidak berbicara seperti itu,Lian? Memalukan!" Naura mengomeli Julian dengan memasang wajah yang masam.
"Kami sudah biasa. Dan aku juga sudah kenal baik dengan suaminya. Galih itu dulu temanku yang...."
__ADS_1
"Alexandra...?" sapa seseorang sehingga menghentikan ucapan dari Julian.
"Ternyata benar, kau adalah adikku Alexandra!"
Ujung bibir lelaki yang menyebut nama Naura tertarik akan bibir yang menipis dan mengulas senyuman yang manis penuh dengan kepalsuan.
"Sejak tadi aku sudah melihat mu dan ingin menyapamu. Tapi aku ragu, karena melihat Tuan muda Pratama, yang sudah merangkul adikku sejak tadi." seringai terulas dengan tatapan yang memandang rendah Naura yang di rangkul mesra oleh Julian.
"Seorang Kakak tak akan melukai adiknya. Tapi...Ups, sorry!" Tatapan Julian berganti lembut pada Naura. "Apakah lelaki yang ada di hadapan kita ini adalah Kakakmu, sayang."
"Dia Kakak tiriku. Jangan terus mengejeknya, sayang. Bisa saja nanti, dia akan mengadu kepada ibunya lalu akan mengambil barang-barangku lagi seperti kemarin."dengan nada manja Naura langsung menyindir sikap Evan yang selalu mengadu pada ibunya di karenakan rasa iri hati yang sudah menguasai.
"Kalian berdua berpacaran?" Evan terperangah
"Telingamu itu tuli. Atau matamu yang buta? Kau pastinya sudah tahu bukan siapa aku? Tanpa lelah - lelah harus aku beritahu. Jadi Tuan Evan Sanders Morris yang terhormat, bersiaplah aku akan membalas perlakuan keji yang sudah kalian lakukan selama ini pada Naura. Karma harus di bayar tunai!"
Senyar kejam dan menakutkan tersampai sempurna di jiwa Evan. Mulut lelaki itu seketika terbungkam oleh ancaman Julian yang tidak main-main. Nyalinya seketika langsung menciut di karenakan diri yang tahu betul sosok lelaki yang sudah merangkul rival abadi dalam hidupnya.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1