
Dua hari kemudian.
Kini Kevin melajukan mobilnya menuju kontrakan Anin untuk menjemputnya, Setelah ia pulang dari kantor. Karena hari ini adalah hari pertama Anin akan tinggal di Kediaman Adhitama.
Walaupun Kevin tidak suka keberadaan Anin, apa lagi harus satu kamar dengan wanita yang tidak ia cintai, tapi tetap saja ia harus menjemput istrinya atas perintah Omanya.
Tidak memerlukan waktu lama mobil yang mereka kendarai memasuki halaman rumah yang begitu luas nan asri. Dengan pepehonan besar dan juga rumput yang indah di tambah lagi bunga-bunga yang tertata rapi.
Langkah kaki Kevin begitu lebar memasuki rumah yang begitu besar bak istana dengan menyeret koper milik Anin.
Sedangkan Anin hanya mengikuti langkah kaki kevin sembari menundukkan kepalanya.
"Apa kau istrinya Kevin ?" tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat Anggun, saat mendapati Kevin dan juga seorang wanita memasuki rumah mewah tersebut.
"Oh iya, Aku dengar kau seorang penari ? pasti kau sudah berkeliling dunia" ucap Ajeng, karena yang ia tahu pacar Kevin adalah seorang Penari.
Anin gelagapan mendapatkan pertanyaan seperti itu, Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kevin yang sedang memperhatikan tingkah Anin segera membuka suara.
__ADS_1
"Anin perkenalkan, ini bibi Ajeng, dia melarikan diri setelah menggelapkan uang perusahaan, dan sekarang sudah tidak punya tempat tinggal lagi, jadi untuk semetara dia tinggal di rumah Kita" ucap Kevin dingin.
Ajeng mendengus kesal mendengar perkataan keponakan arogangnya.
Sementara Oma Jelita mengembangkan senyumnya melihat interaksi cucu dan anaknya, ia tahu Kevin menyayangi bibinya hanya saja cucu satunya ini adalah pria arogang yang dingin dan juga mempunyai ego yang sangat tinggi.
Oma Jelita segera menghampiri mereka bertiga. "Kevin bawa barang-barang istrimu ke kamarmu !" ucap Oma Jelita tanpa mengalihkan pandangannya pada Anin. Oma akan mengajak Anin keliling rumah dulu" lanjut Oma Jelita.
"Ayo Oma akan mengajakmu ketempat yang sangat istimewa" ucap Oma Jelita menarik tangan Anin agar Anin mengikutinya.
"Tempat ini sangat istimewah buat Oma, Dulu ayah dan kakek Kevin sering menghabiskan waktunya di tempat ini. Dan saat kevin masih kecil Ia juga sering bermain disini, bahkan Ia sering bersembunyi di ruangan ini agar kami mencarinya" ucap Oma jelita tersenyum saat mengigat kebersamaanya bersama anak dan suaminya.
Anin diam saja mendengar kan cerita Oma Jelita, dan seketika ia menghentikan langkah nya, saat mendapati lukisan yang sangat besar terpampang nyata di dalam ruangan itu. Anin menatap dengan tatapan penasaran pasa lukisan tersebut.
Oma Jelita yang segera membuka suara, karena ia tahu pasti Anin penasaran di mana ia bisa mendapatkan lukisan tersebut.
"Benar, lukisan ini lukisan aslinya, Oma mendapatkannya dari Dilan." ucap Oma Jelita yanga hanya dijawab anggukan oleh Anin tanda mengerti.
__ADS_1
Sementara di halaman belakang di kediaman Adhitama, terdapat ibu dan anak yang terlihat sedang membicarakan hal yang begitu serius.
"Apa kakakmu hamil ?" tariak Ajeng sakin terkejutnya mendegar berita itu. Elvan memelototkan matannya. "Bukan maksudku istrinya hamil ?" lanjut Ajeng dengan suara yang semakin meninggi, Elvang segera membungkam mulut ibunya, Karena takut pembicaraannya di dengar oleh Kevin sang pria arogan.
"Iya benar, bahkan seluruh penduduk di pulau bali sudah mengetahuinya, dan bahkan Oma mengadakan pernikahan tanpa memberitahu kita" ucap Elvan kesal,
Elvan mengetahui semua itu lewat Jefri saat dirinya mengunjungi pabrik atas perintah Kevin.
"Ibu kamu lihat, tidak ada satu orang pun yang mengangap kita keluarga di rumah ini, bahkan pernikahan kakak saja kita tidak di beritahu." kesal Elvan
"Keterlaluan" ucap Ajeng geram dan mengepalkan tangannya.
"Kakak ipar sekarang hamil membuat Oma Jelita semakin menyayanginya, dan akan semakin tidak mengagap kita." ucap Elvan, ada perasaan iri dalam hatinya saat melihat Kevin mendapatkan Kasih sayang lebih dari Omanya.
"Di anggap? jika kau ingin di anggap, buktikan pada Oma bahwa kau juga hebat seperti kakakmu" ucap Ajeng
"Lagi pula usia kehamilan istri Kevin masih seumur jangung, masih rentang dengan namanya keguguran" Ajeng tersenyum penuh arti.
__ADS_1