
"Kalau begitu, bagaimana kalau Kamu cerita padaku !" pinta Dilan "Aku kan sudah tahu semuanya" Dilan senyum.
Anin hanya mengembangkan senyumnya dan tak berniat membalas perkataan Dilan. Bagaimanapun Dia adalah seorang Istri yang harus menjaga nama baik Suaminya.
Tidak mungkin jika Dia membuka Aib Suaminya di depan pria lain, walau sebaik apapun pria tersebut padanya.
Setelah sekian lama terdiam akhirnya mereka sampai di sebuah gedung yang sedang mengelar acara pelelangan.
Dengan buru-buru Anin membuka pintu dan berlari masuk kedalam gedung tersebut di ikuti Dilan di belakannya.
Bagaimana tidak, Ia tidak ingin Kevin berpikiran macam-macam tentangnya, apa lagi Dia menolak ajakan Kevin yang berniat mejemputnya.
"Maaf Aku terlambat" Anin menundukkan kepalanya setelah sampai di depan Pria bertubuh kekar, yang masih setia berdiri di depan meja resepsioni hanya untuk menunggu dirinya.
"Ayo" Kevin hendak menarik tangan Anin namun segera di tepis oleh Dilan.
"Tentukanlah dulu, identitas apa yang harus Anin pakai" Dilan senyum kecut. "Apa Dia harus mengunakan identitas sebagai sekretaris Direktur atau sebagai Nyonya Adhitama" Kevin diam saja mendengar penuturan Dilan.
Dia bimbang dengan pertanyaan Dilan, jika Dia memilih identitas sekretaris Direktur, tentu saja Anin akan masuk bersama dengan Dilan, dan dapat di pastikan Ia tidak akan sanggup melihat itu.
Namun jika Dia memilih identitas Nyonya Adhitama, otomatis semua orang akan mengetahui pernikahan mereka.
"Baiklah, Aku akan membawa Anin sebagai sekretaris Direktur" Dilan meraih punggung tangan Anin dan menariknya menjauh dari Kevin.
Namun Kevin tidak tinggal diam melihat itu, dengan segera Ia meraih punggung tangan Anin yang lainnya, dan terjadilah saling tarik menarik.
"Tentu saja Dia akan ikut denganku sebagai Nyonya Adhitama" mendengar itu Dilan langsung melepaskan gengaman tangannya pada punggung tangan Anin.
Ans, Tari dan Dilan, mengembangkan senyumnya melihat tingkah Kevin, namun tidak dengan Dewi yang terlihat binggung dengan apa yang Ia saksikan.
Ans dan Dilan menyusul kedua pasangan aneh tersebut, sementara Tari membereskan pekerjaan untuk segera menyusul.
"Apa maksudnya itu? Nyonya Adhitama? Anin? Ah itu tidak mungkin, Iya kan Tari?" Dewi terus merancau tanpa sadar sedang bicara sendiri, karena Tari sudah meninggalkannya.
Beberapa jam telah berlalu akhirnya acara pelelangan amal telah selesai, Anin ikut pulang dengan Kevin karena paksaan dari Suaminya.
__ADS_1
Anin melepaskan genggaman tangan Kevin saat melewati tempat sunyi menuju parkiran. "Aku tidak bisa terus bersama mas Kevin"
Kevin menoleh menatap wajah bulat Istrinya yang semakin hari semakin berisi apa lagi di bagain perut dan juga pipi. "Apa maksudmu?" Kevin mengernyitkan keningnya hingga kedua alisnya saling bertautan.
"Aku tidak suka jika mas Kevin terus bersikap baik padaku, selalu perhatian padaku, Aku takut akan terbiasa dengan itu." Anin terisak. "Aku berusaha menjauh dari mas Kevin, membiasakan diri agar tidak tergantung pada mas Kevin, tapi apa yang mas Kevin lakukan? semakin Aku menjauh, semakin mas Kevin perhatian padaku." kini Anin benar-benar meluapkan seluruh isi hatinya.
"Tolong jangan buat Aku berharap lebih pada mas Kevin, Aku takut jatuh cinta pada mas Kevin dan mengakibtakan Aku tidak reja jika harus pergi dari kehidupan mas Kevin" Anin membelakangi Kevin yang masih diam mematung mendengarkan penuturannya.
"Jangan membuatku semakin salah paham dengan perhatian yang mas Kevin berikan, Aku tahu mas Kevin perhatian padaku hanya karena baby yang ada dalam kandunganku, tapi tolong jangan berlebihan seperti ini!" Anin kembali terisak.
"Aku sangat takut jika suatu saat nanti Aku melahirkan baby Kita, Aku tidak rela jika harus meninggalkannya." lirih Anin.
"Kalu begitu jangan pergi" Kevin akhirnya membuka suara.
"Maksud mas Kevin?" tanya Anin masih membelakangi Suaminya.
"Kalau Kamu tidak ingin pergi, maka jangan pergi, tinggallah bersamaku dan membesarkan baby kita !" Kevin mendekati Anin dan membalikkan tubuh Anin agar mereka berhadapan.
Kevin membungkukkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Istrinya dengan jelas. "Sekarang standarmu tinggi juga ya" goda Kevin.
"Maksud mas Kevin?" kini wajah Anin merona karena sangat dekat dengan wajah Kevin.
"Carilah pria yang standar denganku, setelah Kamu menemukannya Kamu bisa pergi dariku" ucap Kevin dengan serius.
"Jika Aku tidak menemukan pria seperti mas Kevin?" tanya Anin dengan lugunya.
Kevin mengembangkan senyumnya "Maka itu lebih baik, dengan begitu Kamu tidak akan pergi dariku" Kevin menarik Anin kedalam pelukannya dan mengecup puncuk kepala Anin.
Malampun tiba, dan saatnya bagi kedua pasangan yang tidak saling mencintai mengadakan kencang, hanya untuk membuktikan pada masing-masing kerabat mereka bahwa mereka memang benar-benar pacaran.
Namun kencang yang mereka jalani bukanlah kencang seperti pasangan biasanya. Mungkin orang-orang yang melihat mereka di akun media sosial masing-masing, keduanya adalah pasangan yang serasi.
Namun pada kenyataannya mereka berdua hanya berfoto tanpa menikmati kebersamaannya. Mereka hanya ingin memperlihatkan pada dunia bahwa mereka pacaran.
Tari sudah sangat kesal menunggu kedatangan Ans di pinggir pantai dengan lampu-lampu yang menghiasi sekitar pantai yang membuatnya lebih indah.
__ADS_1
"Ans, kenapa Kamu lama sekali hah? apa Kamu sengaja membuatku menunggu" Tari mengerucutkan bibirnya.
"Sudah-sudah tidak usah banyak bicara, sekarang Kita langsung foto saja, Aku banyak urusan setelah ini" Ans memberikan ponselnya pada Tari.
Mereka mulai mengambil pose dengan berbagai gaya, setelah dirasa cukup Ans merebut ponselnya dari tangan Tari.
"Aku akan langsung mempostingnya"
"Tidak-tidak, jagan di posting dulu, Aku bahkan belum mengeditnya" Tari kembali merebut ponsel Ans.
"Kenapa semua wanita tidak ingin memposting fotonya jika belum di edit?" gerutu Ans "Lihatlah Kamu sangat cantik dalam foto itu dan Kita juga sangat serasi" tanpa sadar kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ans.
Tari menghentikan kegiatannya pada ponsel Ans, dan menoleh menatap Ans yang kini sangat dekat dengan wajahnya. "Apa Kamu tadi memujiku ? mengatakan Aku cantik ?" sebuah senyuman terbit di sudut bibir Tari.
Ans segera menjauhkan wajahnya dari wajah Tari "Bu...bukan itu masudku, Aku hanya mengatakan pemandangannya sangat cantik, dan baju couple Kita sangat serasi" Ans jadi salah tingkah sendiri.
"Tidak-tidak Aku tadi mendengar dengan jelas Kamu mengatakan Aku cantik" lagi-lagi Tari senyum.
"Sudah-sudah, saatnya Kita pergi kebioskop untuk nonton film" Ans menarik tangan Tari dan membimbinga masuk kedalam mobil.
Sementara di kediaman Adhitama, semua keluarga berkumpul untuk pertama kalinya, tanpa ada rasa canggung di antara mereka, Apa lagi Pria yang terkenal dinggin kini sedang bersenda gurau bersama dengan keluarga.
"Sepertinya, Aku sia-sia saja membeli lukisan itu dengan harga mahal" Kevin cemberut, ya Kevin memenangkan lelang lukisan Anin, meskipun banyak drama yang harus Ia lewati bersama Dilan yang juga mempertahankan lukisan tersebut.
"Apa jangan-jangan.........
-
-
-
-
TBC
__ADS_1