
"Ada apa Kamu kesini?" tanya bibi Ajeng sinis tanpa mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam rumah.
"Aku datang kesini untuk menjenguk Oma, katanya Oma lagi tidak enak badan" jawab Anna. Ya wanita itu adalah Anna, Anna bertekad untuk mengambil hati keluarga Kevin agar Kevin bisa kembali lagi kepelukannya.
"Hah, Saya tidak akan luluh dengan kebaikanmu, dasar pelakor" ucap bibi Ajeng sinis.
"Bibi izin kan Aku menggantikan Anin untuk merawat kalian." ucap Anna.
"Apa? apa Saya tidak salah dengar? Kami tidak butuh orang sepertimu untuk merawat Kami, dan ingat, walaupun Anin tidak ada di rumah ini, Dia tetaplah nyonya Adhitama sampai kapanpun. Dia tidak akan tergantikan dan akan selalu menjadi menantuku. Pergilah Aku tidak sudih mempunyai menantu sepertimu." bibi Ajeng tersulut emosi saat mendengar Anna mengatakan akan mengantikan Anin.Seakan-akan Anna memgatakan bahwa Ia akan mengantikan Anin menjadi nyonya Adhitama.
Oma Jelita yang mendegar Ajeng marah-marah segera menghampirinya. "Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Oma Jelita setelah sampai di depan pintu.
Oma Jelita menatap Anna dengan tatapan yang begitu tajam, bagaimana tidak, Oma Jelita curiga dalang di balik semua permasalahan satu bulan yang lalu adalah Anna. Kehadirannya di dalam kamar hotel Anin dan Kevin, memperkuat kecurigaan Oma Jelita, apa lagi Anna tidak di undang datang ke pesta tersebut.
"Wanita ini datang kerumah ini dan dengan tak tahu malunya Ia mengatakan akan mengantikan Anin untuk merawat Kita, sepertinya Dia sangat senang Anin kecelakaan" adu bibi Ajeng pada Ibunya, namun tatapannya tertuju pada Anna dengan penuh selidik.
"Bukan begitu Oma, Anin sendiri yang mengatakan padaku untuk mengantikan posisinya untuk menjaga Kevin dan juga keluarganya, karena Ia akan pergi" jelas Anna yang mersa tersudutkan.
Ya Anna sempat bertemu Anin di rumah sakit, Dan Anin mengatakan bahwa Anna bisa kembali pada Kevin, karena Anin akan pergi dari kehidupan Kevin.
"Apa Anin benar-benar memilih pergi?" batin Oma.
Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah Oma Jelita saat mendengar keputusan Anin, padahal Oma Jelita berharap Anin kembali kerumah ini setelah Anin merasa baikan. Tapi Oma tidak marah pada Anin, karena Oma tahu Anin kecewa pada cucunya, apa lagi Oma yakin tidak ada yang bersalah dalam hal ini, hanya saja ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Saya tidak akan ikut campur urusan anak muda, Anna Kamu tidak usah repot-repot datang kemari hanya untuk menunjukkan perhatianmu, selesaikan saja urusanmu dengan Kevin." ucap Oma Jelita secara tidak langsung mengusir Anna. Setelah mengatakan itu Oma kembali masuk kedalam rumah meninggalkan Ajeng dan juga Anna.
Anna begitu geram mendapatkan perlakuan tidak semena-semana dari keluarga Kevin, dan itu membuat Anna semakin membenci Anin. "Ini semua gara-gara Kamu Anin, entah dengan apa Kamu mencuci otak semua keluarga Adhitama, sehingga mereka berpihak padamu" batin Anna. Anna mengepalkan tangannya menahan emosinya agar tidak meledak di depan bibi Ajeng.
"Jangan mengira dengan kepergian Anin, Kamu bisa dengan mudah masuk kedalam keluarga Adhitama" bibi Ajeng senyum sinis. "Jangan lupakan apa yang Saya katakan tadi, atau apa perlu Saya mengulanginya lagi? walau Anin pergi sekalipun dari rumah ini, Dia akan tetap menjadi nyonya di rumah ini, karena Saya yakin Kevin tidak akan menceraikannya, dan akan mencarinya hingga Dia bisa mendapatkan Anin kembali" ucap Ajeng tepat menusuk hati Anna.
__ADS_1
"Pergilah, kehadiranmu tidak di inginkan di rumah ini" Ajeng mendorong tubuh Anna keluar dari gerbang setinggi orang dewasa. Eits jangan salah, itu hanya gerbang menuju rumah utama kediaman Adhitama dan masih ada gerbang berikutnya untuk benar-benar meninggalkan kediaman Adhitama.
Ya itulah sifat asli Ajeng, jika Ajeng tidak suka dengan seseorang Dia tidak akan segang-segang mengeluarkan segala kata-kata menyakitkan bagi sang pendengarnya, dan beruntunglah Anin dulu karena bisa menaklukan hati Ajeng dan juga Elvan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Enam Bulan Kemudian
Kevin sudah bisa bangkit kembali, dan Adhitama Grub berkembang pesat di bawah kepemimpinan Kevin salama sengah tahun ini, Kevin benar-benar menyibukkan dirinya agar tidak terlalu mengingat Anin. Tapi bukan berarti Kevin melupakan Anin, itu salah besar, sampai sekarang Kevin masih mencari keberadaan Anin.
"Bagaimana apa Kamu sudah mendapatakan informasi tentang Anin?" tanya Kevin menyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya karena terlalu lelah.
"Belum Tuan, bahkan Tuan Elvan tidak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan nona Anin, padahal Tuan Elvan sudah mencarinya di seluruh pulau Bali" jawab Ans, belakangan ini Ans menjaga sikapnya pada Kevin, karena Kevin begitu sensitif dan mudah marah walau itu hanya kesalahan kecil.
"Lalu bagaiamana dengan pacarmu? Apa Dia belum juga membuka mulutnya?" tanya Kevin tanpa membuka matanya.
"Glek" Ans menelan salivanya dengan kasar setiap kali Kevin menanyakan itu padanya. Ans benar-benar tidak bisa mendapatkan informasi dari Tari, dan Dia juga tidak ingin menekan Tari, takut pacarnya itu ngambek, Ans bagai buah simalakama jika di hadapakan pilihan antara Kevin atau Tari.
"Kamu itu bagaimana sih, mencari tahu informasi dari pacarmu saja tidak becus" mulai lagi deh Kevin.
"Yang tidak becus itu Kamu bodoh, bisa-bisanya Istri sendiri tidak tahu keberadaannya ada di mana dan malah menyusahkan orang lain saja" gerutu Ans dalam hati.
"Kamu sedang mengejek Saya Ans?" Kevin menatap tajam pada sekretarisnya.
"Apa Dia itu peramal? tahu saja bahwa Aku sedang mengejeknya" batin Ans. "Ti...tidak Tuan mana saya berani melakukan Itu." jawab Ans. Ans bahkan tidak pernah lagi bercanda pada Kevin seperti dulu, selain Kevin yang mengajaknya bicara informal.
"Saya menunggu jawabanmu besok, pulanglah" perintah Kevin karena memang sudah waktunya pulang bekerja.
Ans menghela nafas kasar, mulai lagi deh, Dia akan membujuk macan betinyanya itu.
__ADS_1
Sepeninggalan Ans, Kevin mendapatkan pesan dari Anna yang mengajaknya bicara di taman dekat kantor.
"Kevin Aku ingin bertemu denganmu, ada yang mau Aku bicarakan" isi pesan.
"Tunggulah" balas Kevin.
Kevin menyanggupi permintaan Anna kali ini, karena Kevin sudah lelah menghidari Anna yang terus mengikutinya kemana saja seperti penguntit.
Kevin segera memakai jasnya dan menemui Anna di taman dekat kantor. Kevin ingin semua permasalahannya dengan Anna selesai agar Anna tidak lagi mengagu dirinya.
"Ada apa Kamu ingin menemuiku?" tanya Kevin datar setelah sampai di taman. Bahkan Kevin tidak ikut duduk di bangku yang di tempati Anna duduk.
"Aku hanya merindukanmu Kevin" Anna bangkit dari duduknya dan menghambur kepelukan Kevin.
Kevin menghempaskan tubuh Anna agar menjauh darinya. "Jangan memelukku seperti itu, Kamu tidak punya hak untuk itu" ucap Kevin kesal, Kevin sangat tidak suka jika seseorang menyentuhnya.
"Kevin..............
-
-
-
-
-
TBC
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.