Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Suamiku?


__ADS_3

"Aku merasa tidak berguna saat melihatmu berubah menjadi wanita kuat dan juga mandiri, dan sekarang kepercayaan diriku hilang karena Kamu tidak lagi membutuhkanku di sisimu." igau Kevin lagi masih mengengam tangan Anin dengan erat.


"Sayang jangan tinggalkan Aku"


Anin kembali duduk di pingir ranjang, menyeka keringat dingin di kening Kevin. "Aku tidak seperti yang Kamu lihat mas, sebenarnya Aku sangat takut saat bertemu denganmu, Aku takut penyakitku akan kambuh di depanmu, dan Kamu akan membenciku karena mengangapku orang gila karena penyakit Bipolar yang Aku derita." tanpa terasa air mata Anin mengalir begitu saja membasahi pipinya.


"Aku selama ini hanya berpura-pura kuat di hadapan semua orang, karena Aku tidak ingin orang tahu kesedihanku, Aku menghindarimu karena kamu mengigatkanku dengan masa lalu yang menyakitkan itu, tapi entah kenapa tadi saat bersamamu Aku merasakan nyaman yang tidak pernah Aku rasakan sebelumnya. Maafkan Aku karena bersikap egois, Aku berjanji tidak akan meninggalkamu lagi mas." Anin mengecup kening Kevin dan melepaskan gengaman tangan Kevin yang mulai melongar di tangannya.


Anin mengganti air kompresnya dengan air hangat yang baru saja di ambilnya, Anin terus memantau dan menganti kompresan Kevin. Usaha Anin tidak sia-sia, selama beberapa jam Anin melakukan itu, akhirnya suhu tubuh Kevin kembali normal.


Anin memandangi jam dinding yang menunjukkan pukul 03 : 30. "Pantas saja Aku sangat mengantuk" gumam Anin dan merebahkan tubuhnya di samping Kevin karena sudah sangat mengantuk.


______


Kevin terbangun dari tidurnya saat mendegar ponselnya berdering, dengan susah payah Kevin mengambil ponselnya di atas nakas karena tidak ingin membangungkan Anin yang sedang memuluknya.


Kevin mendegus kesal setelah mengetahui Id penelfon yang tak lain adalah sekretarisnya.


"Tuan........"


"Menelfonlah dua jam lagi, Saya sedang sibuk." ucap Kevin memutuskan sambungan telfonnya. Bagaimana tidak, baru jam 6 pagi, Ans sudah menganggunya.


Kevin meletakkan ponselnya diatas nakas dan beralih menatap wajah bulat istrinya yang sedang tertidur pulas di dalam pelukannya.


Kevin menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Anin ke belakang telinga Anin, lalu Kevin mencium kening Anin. "Aku mencintaimu sayang" bisik Kevin di telinga Anin.


Kevin sangat bahagia mendapati wanita yang sangat Ia cintai tengah tertidur pulas di dalam pelukannya. Kevin refleks menutup matanya dan pura-pura tidur, saat Anin mengeliat dalam pelukannya dan membuka mata.


Kini gantian Anin yang memandangi wajah tampan Suaminya. "Kenapa Aku merasa mas Kevin semakin tampan ya?" Anin menatap intens wajah tampan Kevin, dan tangannya tidak tinggal diam menyentuh pipi, bibir, dan juga hidung mancung Kevin.


Kevin yang sudah tidak tahan lagi dengan sentuhan lembut Anin yang membuatnya merasa geli segera membuka matanya dan mengembangkan senyumnya. "Apa Kamu sudah puas memandangi wajah tampan Suamimu?" goda Kevin membuat Anin tersentak kaget.


"Ais sejak kapan Aku punya Suami narsis seperti mas Kevin?" gerutu Anin salah tingkah karena tertangkap basah memandangi wajah Kevin.


"Suami? apa Anin sudah mau memafkanku dan menerimaku kembali?"batin Kevin.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mas Kevin? apa sudah baikan? tidak demam lagi kan?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Anin dan juga tangannya tidak tinggal diam memeriksa kening dan juga pipi Kevin.


"Aku baik-baik saja sayang." Kevin semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup bibir Anin sekilas. "Kenapa? apa Kamu mau melanjutkan yang sempat tertunda semalam?" goda Kevin.


"Mas Kevin mesum ih," Anin melepaskan tangan Kevin yang melingkar di pinggangnya. Dan hendak turun dari tempat tidur namun segera di cegah oleh Kevin.


"Tetaplah seperti ini sebentar saja, Aku masih merindukanmu" cegah Kevin yang takut Anin akan meninggalkannya lagi.


"Aku tidak akan kemana-mana mas, hanya ke toilet saja" Anin memutar bola matanya merasa jengah dengan kelakuan Kevin yang seperti bayi selalu ingin menempel pada ibunya.


Sepeninggalan Anin, Kevin mengambil ponselnya dan segera memesan makan dan juga pakaian untuk di pakai Anin karena di kamarnya tidak ada pakaian perempuan. Setelah memesan makan Kevin menelfon Ans.


"Halo Tuan" ucap Ans di seberang sana.


"Kenapa Kamu menelfoku tadi?" tanya Kevin informal.


"Saya hanya ingin bertanya Tuan, apa Anda jadi pulang hari ini?" tanya Ans ingin memastikan keberangkatan Kevin, karena pekerjaan Kevin sangat banyak.


"Aku belum tahu Ans, Aku belum membicarakan itu dengan Anin, tapi Aku usahakan pulang hari ini juga." ucap Kevin. "Ans" panggil Kevin.


"Ada apa Tuan?"


"Anda memang bos terbaik yang pernah Saya temui" puji Ans yang merasa sangat bahagia, akhirnya Ia akan menikah dengan pujaan hatinya. "Tapi kenapa begitu mendadak Tuan? bukankah Anda belakangan ini sangat sibuk, dan jika Saya mempersiapkan pernikahan Saya, otomatis Saya tidak bisa fokus pada pekerjaan" Ans merasa heran dengan kebaikan Tuannya yang tiba-tiba baik.


"Ya sudah kalau tidak mau" Kevin memutuskan sambunagn telfonnya saat melihat Anin berjalan ke arahnya.


"Siapa mas?" tanya Anin menghampiri Kevin yang sedang duduk di sofa depan TV.


"Ans, biasa Dia menanyakan kapan Aku pulang" jawab Kevin.


"Mas Kevin jadi pulang hari ini?" tanya Anin terdengar sedih.


"Iya sayang, Kamu mau kan ikut sama mas pulang?" Kevin kembali bermanja dengan Anin, Kevin tidur di pangkuan Anin.


"Maaf mas, Aku belum siap, jika harus pulang, terlalu banyak kenangan di sana, dan mas Kevin tahu betul apa yang Aku takutkan" Anin memainkan rambut Kevin.

__ADS_1


Kevin menatap wajah Anin dan mengengam tangan Anin. "Percayalah tidak akan terjadi apapun padamu sayang, Aku akan selalu menjagamu." Kevin meyakinkan Anin. Kevin tidak sanggup lagi jika harus terpisah jarak dengan wanitanya, sudah cukup tiga tahun berpisah dengan Istrinya dan sekarang tidak lagi.


"Tapi mas........"


Anin tidak melanjutkan perkatannya saat mendengar ponselnya bergetar, Anin segera mengambil ponselnya dan memeriksa id penelfon.


"Siapa" tanya Kevin penuh selidik.


"Tari mas, Aku angkat dulu ya"


"Hmmm" Kevin bangun dan membiarkan Anin pergi untuk memberikan ruang untuk para wanita bercerita.


"Semoga rencanaku Kali ini berhasil" batin Kevin tersenyum penuh arti menatap kepergian Anin menuju balkon.


Dengan wajah bahagia Anin menjawab panggilan video dari Tari, bagaimapun Anin sangat merindukan sahabatnya itu, dan ini pertama kalinya mereka bercerita selama kepergian Anin selam tiga tahun lamanya.


Perihal Anin yang langsung mengetahui bahwa yang menelfonnya adalah Tari sahabatnya, karena Anin selalu menyimpan no ponsel Tari walau Anin sudah menganti ponsel dan juga kartunya.


"Tari Aku sangat merindukanmu" tanpa basa-basi Anin mengungkapkan kerinduannya.


"Anindira Maheswari, kemana saja Kamu selama ini hah? Kamu menghilang tanpa kabar selama tiga tahun, padahal Kamu sudah berjanji akan menghubungi ku saat Kamu pergi dulu" gerutu Tari di seberang telfon karena sangat kesal dengan sahabatnya itu.


Ya begitulah cara Tari mengungkapkan kerinduannya pada Anin, Tari akan berceloteh dan memarahi Anin, seperti emak-emak yang rindu pada anaknya.


"Maaf, Aku..............


-


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2