
"Sayang" panggil Kevin lembut setelah tangisan Anin mereda. "Apa Kamu baik-baik saja?" tanya Kevin khawatir, sementara Dilan hanya memperhatikan interaksi keduanya dengan menahan sesak didada.
"Memangnya Aku kenapa?" tanya Anin menatap binggung kedua pria di hadapannya.
"Tidak, Kamu tadi hanya kelilipan makanya Aku khawatir" kilah Kevin dan menggusap air mata yang belum kering sepenuhnya di pipi Anin.
"Kita pulang ya" Kevin bangkit dari duduknya dan menarik tangan Anin agar mengikutinya, namun Anin diam saja di tempatnya dan melepaskan gengaman Kevin. "Tunggu mas, Aku ingin bicara sama Dilan" ucap Anin.
"Dilan terimakasih ya, karena sudah menjagaku dan juga menemaniku selama tiga tahun ini, Aku sangat bersyukur mempunyai teman sepertimu, Aku berasa mempunyai kakak laki-laki" ucap Anin senyum, walau dalam hatinya di selimuti rasa bersalah.
"Semoga Kamu bahagia ya ! sini peluk kakakmu yang tampan ini sebelum Kamu pergi dengan Suamimu" Dilan meretangkan tangannya menunggu Anin menghambur kepelukannya. Dilan sengaja mengatakan itu di depan Kevin, Dilan ingin tahu seberapa besar cinta Kevin pada Anin.
"Tidak ada peluk-pelukan, enak saja, Anin itu istriku" ucap Kevin ketus dan menarik Anin agar mendekat padanya.
"Seperti yang di katakan Elice tadi, bahwa Aku adalah kakaknya, jadi wajar dong jika seorang adik memeluk kakaknya sebelum pergi" Dilan semakin memancing emosi Kevin.
"Mau Anin mengangapmu kakak atau tidak, Kau tetap Pria di mataku, dan Aku tidak menginjikan siapapun menyentuh Istriku termasuk dirimu" ucap Kevin geram dan menarik Anin keluar dari rumah mewah yang dihuni oleh Pria aneh, itulah menurut Kevin.
"Mas kenapa mas Kevin sangat ketus pada Dilan?" Anin memperhatikan wajah suaminya yang terlihat murung dan serius menyetir mobilnya menuju bandara bandar udara internasional Beijing.
"Sayang Aku sudah bilang jangan menyebut nama Pria lain di hadapanku, Aku tidak suka itu" ucap Kevin datar dan masih fokus menyetir tanpa memperdulikan Anin yang terus menatapnya.
"Mas Kevin cemburu?" Anin mulai mengoda Kevin.
"Tidak, Aku tidak cemburu, Aku hanya kesal" jawab Kevin yang malu jika mengakui bahwa Dia sedang cemburu pada Dilan. Karena menurut Kevin, cemburu hanya untuk orang-orang yang tidak percaya diri dan sekarang Dia sedang tidak percaya diri.
Hem coba siapa yang tau kata-kata di atas?🤔🥰
"Oh jadi mas Kevin tidak cemburu? berarti mas Kevin tidak cinta dong sama Aku" Anin menampilkan wajah cemberutnya karena ingin mengerjai Suaminya yang sangat cemburuan.
__ADS_1
Kevin menatap Anin sekilas dan mengengam tangan Anin dengan sebelah tangannya dan satunya lagi menyetir mobil. " Bukan begitu sayang, Aku sangat-sangat mencintaimu" Kevin mencium punggung tangan Anin, membuat Anin tersipu malu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di bandara bandar udara internasional Beijing, mereka segera chek ini, dan menunggu keberangkatannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kediaman Adhitama
Elvan sungguh bingung dengan sikap ibunya sedari pagi, mulai saat ibunya memintanya untuk menemaninya belanja bahan-bahan makanan, dan sekarang ibunya senyum-senyum sendiri sembari mempersiapkan makan malam yang begitu banyak. Padahal setelah kepergain Anin tidak pernah ada makan malam bersama lagi di kediaman Adhitama.
Kerana tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya, Elvan menghampiri ibunya dan mendudukkan dirinya di meja makan yang tak jauh dari dapur tempat ibunya memasak.
"Bu, kenapa Ibu masak banyak sekali? bukankah itu akan terbuang dengan percuma? Kita hanya berdua saja di rumah ini, Oma sedang liburan ke Eropa dengan temannya, untuk menjernihkan pikirannya. Jadi siapa yang akan memakan Semua ini? apa akan ada tamu yang datang? tapi siapa? lihatlah dari tadi Aku perhatikan ibu terus saja senyum-senyum sendiri seperti orang gila" celoteh Elvan mengelurkan seluruh pertanyaan yang menganjal sedari tadi di pikirannya.
"Tentu saja ibu sangat bahagia, kakakmu pulang hari ini bersama dengan menantuku" ucap Ajeng lagi-lagi mengembangkan senyumnya.
"Menantu?" tanya Elvan.
"Iya sayang, Kevin akan membawa menantu ibu kembali kerumah ini, Kau tahu? kakakmu berhasil menemukan Anin dan akan pulang hari ini" ucap Ajeng antusias. "Ah aku tidak sabar lagi bertemu dengan Anin".
Ya sebelum berangkat, Kevin mengabari bibi Ajeng, bahwa dirinya akan pulang dengan Anin, dan menyuruh bibi Ajeng menyiapkan makan malam untuk mereka makan bersama menyambut kedatangan Anin.
"Oh kak Anin" ucap Elvan santai dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi setelah mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya. "Apa kak Anin?" tariak Elvan bangkit dari duduknya setelah menyadari perkataan ibunya. "Kak Kevin sudah bertemu dengan kak Anin?" ulang Elvan belum percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.
"........" Ajeng mengagukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Elvan. Ajeng geleng-geleng kepala melihat kebahagian yang terpancar di wajah anaknya, pasalnya setelah kepergian Anin, Elvan juga ikut sedih, karena Elvan tidak mempunyai teman curhat lagi, dan juga Elvan merasa kasihan melihat Kevin setiap malam hanya bisa mengurung diri di dalam kamar.
"Mereka memang bejodoh ya bu, setelah tiga tahu terpisahkan akhirnya mereka di persatukan lagi" ucap Elvan dan hendak masuk ke dalam kamarnya yang memang berada di lantai dasar, namun suara mobil di garasi membuatnya mengubah arah jalannya menuju pintu keluar ruamah.
"Siapa El?" tanya bibi yang juga mendegar suara mobil di garasi.
__ADS_1
Belum juga Elvan menjawab pertanyaan ibunya, Ibunya sudah berlari dan menghampiri wanita yang berjalan ke arahnya.
"Bibi" ucap Anin menghambur kepelukan wanita paruh baya di hadapannya. "Maafkan Anin bi." Anin merasa bersalah pada Ajeng karena tidak memberitahukan keberadaannya, padahal Ibu Sandra selalu mengatakan bahwa bibi Ajeng seperti obat saja yang menelfonya tiga kali sehari hanya untuk menayakan kabarnya dan juga Anin.
"Tidak apa-apa sayang bibi ngerti kok, ayo masuk! bibi sudah menyiapkan makan malam yang spesial untukmu." Ajeng mengandeng tangan Anin masuk kedalam rumah mewah yang bergaya klasik campur modern itu, meninggalkan dua orang Pria yang saling menatap.
Sepeninggalan Anin dan bibi Ajeng, Elvan menghampiri Kevin yang masih diam mematung di samping mobilnya. "Kak Kevin hebat" Elvan mengacungkan kedua ibu jarinya membuat Kevin senyum.
"Terimakasih kak, karena sudah membawa kak Anin pulang, Aku jadi punya teman curhat lagi" ucap Elvan menepuk pundak Kevin.
"Enak saja, Anin itu milikku" ucap Kevin penuh tekanan. "Jika Kamu mau teman curhat yang baik, segeralah menikah, jangan jadi bujang lapuk" ledek Kevin membuat Elvan mendegus kesal.
"Wah kak Kevin mulai songong nih, mentang-mentang kak Anin sudah pulang. Sudah berani pula ngeledekin Aku, padahal dulu boro-boro ngeledikin di ajak bicara saja jarang" ucap Elvan membuat Kevin tertawa lepas karena melihat ekspresi Elvan yang begitu lucu menurutnya.
"Tertawa aja terus" Elvan mendegus kesal dan meninggalkan Kevin yang masih menertawakannya. "Terimakasih kak Anin, sudah mengembalikan kak Kevin yang dulu, Kevin yang selalu tersenyum." batin Elvan.
-
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.
__ADS_1