
Dani di buat tak berdaya oleh Anton yang datang bersama dengan Istri tercintanya, Lisa dan para pengawalnya. Sektretaris pribadi Bara di buat tak berkutik ketika bodyguard Anton mengarahkan senjata api tepat pada pelipis mata.
Sekujur tubuh Dani bergetar, tangannya yang terangkat pun ikut bergetar akan nyali yang mulai menciut oleh ancaman mematikan dari Anton.
Dani hanya bisa meringis dan menyiapkan diri menerima kemarahan dari Bara saat melihat Lisa langsung memeluk Arkana, dan membawa pergi bayi tampan itu dari penjaranya Bara.
"Tu -Tuan Anton, saya mohon jangan bawa pergi Arkana. Tuan Bara bisa menendang ku nanti," Dani meringis, sambil memberikan ekspresi menangis yang frustasi Dani tampakkan saat memohon pada Anton.
"Jadi, kau itu lebih takut dengan dia daripada aku?" Anton menatap tajam.
"Sesungguhnya kalian berdua itu sangat menakutkan, Tuan!" Jawab Dani polos di tengah kefrustasiannya.
"Sudah semuanya, sayang?" tanya Anton pada Lisa yang sedang menggendong Arkana.
"Ayo, cepat kita pergi! Sebelum mereka akan mengadu pada Bara." ajak Anton sambil merangkul mesra seolah memberi perlindungan pada Lisa.
"Kiran belum memberi kabar?" kecemasan Lisa langsung mendapat gelengan kepala dari Anton. "Semoga Kiran berhasil mengelabui Bara dan tidak terjebak di sana." sambungnya dengan doa yang tulus.
Kini Anton dan Lisa berhasil membawa kabur Arkana beserta dengan pengasuhnya dari kediaman tempat tinggal Bara. Puncak dari misi yang berhasil mereka lakukan sesuai dari siasat Kiran yang mencoba untuk mengelabui Bara di tempat lain. Sengaja menggiring Bara keluar dari kediamannya untuk memudahkan Anton dan juga Lisa membawa Arkana tanpa melukai bayi tampan itu.
"Tuan...! Tuan Bara nanti pasti akan memarahi saya setelah ini." ucap Dani yang masih meringis tangisan setelah Anton dan Lisa hendak pergi meninggalkan kediaman minimalis modern itu.
...***...
Kiran masih terduduk di atas sofa dengan gelas kristal yang ada di tangan dan berisikan red wine di dalamnya. Perempuan cantik itu masih mengatur perasannya dari kemanisan dan kelembutan Bara yang di dapatkan malam ini.
Hati Kiran mulai kacau. Perempuan cantik itu bimbang bercampur dengan bingung yang mendera seluruh jiwanya.
Hati yang sudah lama membeku kini perlahan mulai mencair. Ego yang berdiri kokoh kini mulai terkikis oleh suasana kamar hotel yang bermandikan cahaya remang - remang dengan taburan kelopak mawar di atas lantai.
Kiran meluluh dan hatinya mulai meleleh, atas perlakuan dari Bara yang dia idam - idamkan terlebih sejak dulu. Layaknya seorang pasangan, Bara menghujami Kiran dengan menggoyahkan hati. Memandikan Kiran dengan segala keromantisannya yang sengaja di persiapkan untuknya. Dan sudah bisa di pastikan jika Kiran akan gagal mengelabui Bara. Perempuan cantik itu sebenarnya, berniat membuat Bara untuk mabuk hingga tak sadarkan diri dan pergi menggagalkan niatan Bara untuk menikmati tubuhnya.
Tapi, kini semuanya berubah. Kiran malah terjebak dalam permainannya sendiri dan terbuai dalam perlakuan hangat Bara yang tidak terduga.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Bara sambil menarik dagu Kiran.
"Kamar ini tidak sesuai dengan kita. Kita bukanlah suami istri yang terikat. Apalagi menjadi sepasang kekasih." Kiran menjawab dingin.
"Benar, kita bukanlah suami istri yang terikat." balas Bara sambil duduk berlutut di hadapan Kiran. "Tapi, aku ingin menjadikan itu nyata." Bara mengambil gelas yang ada di tangan Kiran dan meletakkannya di atas meja.
"Kiran...." sebuah cincin berlian Bara sodorkan di hadapan Kiran.
"Menikahlah denganku. Terimalah aku sebagai suami yang akan menebus segala kesalahanku di masa lalu. Aku sangat mencintaimu, Kiran." ucap Bara dengan lembut melamar Kiran, memijat dengan penuh harapan tanpa ingin ada penolakan.
"Bara, aku..."
Deringan handphone milik Bara berbunyi memotong ucapan Kiran. Lelaki itu acuh. Dan tak menggubris handphone miliknya yang menjadi pengganggu dari momen mendebarkan di kamar hotel itu. Kemudian handphone itu berkahir di raih kasar oleh Bara.
"Aku akan menendangmu jika ini tidak penting!" Geram Bara kesal.
"Kau memang akan menendangku,Bar." sahut Dani cepat dengan suara yang menangis. "Arkana sudah di bawa pergi oleh Kakakmu dan istrinya."
"Aku yang meminta bantuan mereka," Kiran langsung menyambar cepat. Membocorkan secuil rencana yang terangkai.
Handphone milik Bara kembali tergeletak di atas meja setelah pemiliknya memutuskan sepihak sambungan telepon itu."
"Kiran? Kau...,"
"Ya, aku berniat untuk menjebakmu. Tetapi kenyataannya aku yang malah terjebak. Kau pasti akan menghabisiku tanpa belum bisa aku melumpuhkanmu."
Kini, Kiran sudah pasrah dalam situasi yang di luar paraduga. Situasi yang tak terpikir apalagi terbesit di benak. Pengakuan Kiran seolah-oleh menyerahkan diri setelah tertangkap. Mau melawan pun percuma, karena Bara telah mengetahui rencana tersembunyi dari perempuan kesayangannya itu.
"Apa sebegitu bencinya kau kepadaku. Hingga kau tak sudi untuk hidup bersama denganku?"
Rasa kecewa terlihat jelas dari kata - kata Bara. Ada gelenyar rasa sakit yang datang dan menusuk - nusuk di hati lelaki yang berdiri di hadapan Kiran.
"Rasa sakit yang kau torehkan di hatiku masih belum bisa aku lupakan." dengan datar dalam tunduknya Kiran menjawab rasa kekecewaan dari Bara. "Tetapi saat ini aku bisa apa, Bar? Aku sudah tidak bisa berlari." dagu Kiran terangkat, kedua mata sendu membalas tatapannya Bara.
__ADS_1
"Di matamu aku seperti apa, Kiran?" tanya Bara yang ingin tahu.
"Haruskah aku jawab?" Kiran malah balik bertanya dengan nada yang dingin.
"Ya! Aku mau dengar dari mulutmu sendiri!"
Kiran bangkit dari duduknya. Dan berdiri tegak dengan tatapan kedua mata yang masih membalas tatapan dari Bara. Kedua kaki lalu bergerak beberapa langkah kemudian terhenti di hadapan Bara yang masih menyisakan jarak satu langkah sebagai pemisah.
"Sosokmu yang seperti ini sungguh seperti Bara yang sangat aku idam - idamkan saat aku mengejarmu dulu. Kau yang lembut, tatapanmu yang hangat, keromantisanmu yang begitu nyata. Semuanya bagaikan mimpi yang meruntuhkan pertahanan ku. Apa kau memiliki maksud tersembunyi yang tidak aku ketahui, Bar? Apa kau ingin memisahkan aku lagi dari Arkana?"
Bara terperangah mendengar tuduhan dari Kiran yang begitu hati - hati di ucapkan dan senyum tipis terulas di bibir Bara. Namun, seketika lenyap berubah menjadi penuh keseriusan.
"Jadi kau menilaiku sampai seburuk itu?" tanya Bara tersenyum kecut.
"Ya!"
"Tidak bisakah kau memberikanku kesempatan, Kiran?" Bara memaksa, tangannya mencengkram lengan Kiran yang kuat hingga menghentak kesadaran Kiran.
"Bar..."
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1