
π£π£ **Halo - halo cek cek. apa masih ada orang di siniπ hai... hai.. pencinta dunia halu mana suaranya nihπ Maaf yah author baru bisa Up sekarang dan selamat tahun baru 2023π₯³π₯³
Author menyapa lagi Kakak semua yang ada di sini hehehe.. yang nggak suka bisa langsung skip ajaπ Author mau ngucapin rasa terima kasih yang sebesar - besarnya karena sudah mau mendukung karya author Terpaksa Menikah sampai bisa di titik ini. Mohon maaf juga karena nggak bisa balas komen kalian satu persatu. Tapi jujur author selalu baca komentar - komentar kalian semuaπ€ bahkan kritik dan sarannya hehehe...π
Happy Reading....π€**
...πππππ...
"Tidak bisakah kau memberikanku kesempatan, Kiran?" Bara memaksa, tangannya mencengkram lengan Kiran yang kuat hingga menghentak kesadaran Kiran.
"Bar..."
"Aku sayang padamu, Kiran. Aku sangat mencintaimu! Sama dengan Arkana, rasa cintaku sama pada kalian berdua. Bagaimana mungkin bisa aku mau memisahkan mu dengan Arkana, anak kita?" ujar Bara yang sudah frustasi.
"Tapi kemarin kau melakukannya. Kau sudah memisahkan aku dari Arkana." Kiran masih saja tidak mempercayai Bara.
"Aku terpaksa melakukannya agar aku memiliki celah untuk bisa menyakinkan mu seperti ini." Bara semakin di buat frustasi oleh Kiran.
"Lalu bagaimana dengan tunanganmu, Celina? Karena aku juga tidak mau di cap sebagai pelakor!"
"Celina," tangan Bara menarik diri dari lengan Kiran. "Kau akan dengar segera jawabannya," sambung Bara ambigu.
Handphone milik Bara kembali di rampas kasar. Dengan sesekali Bara melirik ke arah Kiran yang menunggu maksud ucapannya. Bara berakhir menempelkan handphonenya itu di sisi kiri telinganya.
"Dani?" sapa Bara saat panggilan teleponnya terhubung.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya Dani ingin tahu.
"Sebarkan berita kepada media bahwa aku dan Celina Anastasya sudah berpisah. Dan ungkap juga hubungan gelap Celina dengan managernya itu dengan bukti yang sudah kita miliki. Aku juga tidak mau, jika Kiran sampai terseret - terseret dalam berita ini. Kau dengar itu, Dani?"
"Baik Tuan," ucap Dani patuh.
__ADS_1
Bara langsung memutuskan sambungan telepon yang di mulai dari dirinya setelah mendengarkan jawaban yang memuaskan hati dari Dani melalui sambungan telepon. Handphone milik Bara kembali tergeletak di atas nakas setelah pemiliknya tak lagi membutuhkannya.
"Ada lagi yang kau mau?" tanya Bara lebih lanjut.
Kiran terdiam. Bibirnya mengenakkan polesan lipstik sendu tertutup rapat. Saliva yang ada di dalam mulut pun berkahir di telan dalam - dalam.
Kiran menjadi salah tingkah. Lirikan matanya menjadi gelisah tak mau lagi beradu pandang dengan Bara.
Bara menyeringai dan bertanya. "Apakah ketulusanku ini masih belum cukup juga di matamu, Kiran?"
"Aku.... aku masih butuh waktu." sahut Kiran yang sempat terbata.
"Aku ini orang yang tidak sabaran, Kiran." ucap Bara yang seperti menolak.
"Satu minggu! Aku butuh waktu satu minggu." Kiran mengajukan keinginannya.
"Tiga hari!" Sela Bara egois.
"Bar! Kau harus ingat, kalau posisimu saat ini sedang meminta!" Kiran membentak kesal.
"Jika masih selama itu aku harus menunggu jawaban darimu, aku takut jika tak akan bisa menahan diri untuk bisa segera tinggal seatap denganmu dan juga Arkana." ucap Bara kemudian mengenakan jas miliknya ke tubuh Kiran untuk menutupi keseksian gaun dari tubuh perempuan cantik itu.
Kiran terkesiap, lagi - lagi hati Kiran di buat luluh oleh perlakuan lembut Bara yang tidak terduga. Pikiran negatif yang sempat terlintas akan jarak dekat di antara Bara seketika berganti menjadi palu yang terbesar meruntuhkan tembok pertahanan dari dirinya.
"Aku sudah tidak sabar ingin sekali tinggal seatap dengan kalian berdua." jemari Bara membelai lembut wajah Kiran. "Aku sudah tidak sabar ingin mendapati dirimu di sebelahku saat aku membuka mata. Aku juga sudah tidak sabar untuk menghadiahkan mu sebuah kecupan di pagi hari." Bibir Bara mengecup sekilas bibir Kiran.
"Kiran..., aku akan sabar menunggu jawabanmu tiga hari dari malam ini. Kenakan cincin itu di jari manis mu saat kau mau menerima lamaranku. Tetapi pulangkan cincin dan kotaknya jika kau menolakku." Bara berbisik di hadapan bibir Kiran.
Jarak yang tipis dengan deruan napas hangat menerpa wajah menarik hati Bara untuk melepaskan rindu sejenak pada Kiran yang terhipnotis oleh kelembutan dari dirinya.
Dengan lembut dan penuh perasaan bibir Bara mencecapi bibir Kiran. Menempelkan sejenak dan saling mempertemukan kedua permukaan bibir yang masih mengering.
__ADS_1
Kiran pun tak menolak, tangannya tidak mendorong tubuh gagah Bara. Dan tidak ada pemberontak dari Kiran.
"Rasanya lembut. Bara penuh dengan perasaan. Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan Bara yang begitu tulus. Haruskan aku tetap menjaga ego? dan bersikap menjadi munafik?" batin Kiran yang bimbang.
Bibir Bara pun semakin menekan. Kecupan itu kemudian berubah menjadi sebuah *******. Menenggelamkan bibir bawah Kiran dalam hisapan bibirnya. Lagi - lagi Bara begitu lembut dan tidak memaksa.
Hisapan penuh kehati-hatian dalam menyentuh kemanisan bibir Kiran. Begitu dewasa memancing hasrat Kiran untuk keluar.
Tangan Bara kemudian mulai merayap naik turun di punggung Kiran. Mengusap - usap dengan lembut tangan yang satunya telah berada di tengkuk leher Kiran.
Kiran masih menjadi pasif. Masih harus menerima setiap bimbingan gerakan bibir dari Bara yang mulai posesif, dan mulai berganti menghisap bibir atasnya. Sedikit keagresifan yang di sengaja, Kiran pun akhirnya mau membalas setiap ******* dari bibir Bara. Tangannya mencengkram kuat rompi yang di kenakan oleh Bara.
Bantin Bara terpuaskan. Tertawa penuh kegembiraan. Usahanya untuk melumpuhkan perempuan kesayangannya itu mulai menunjukkan titik terang, mulai memberikan secercah harapan pada dirinya.
"Aku mencintaimu," lirih Bara saat melepaskan sejenak ******* di bibirnya.
Bibirnya kembali ******* bibir Kiran yang terbuka kecil, seolah enggan di lepaskan dari kenikmatan bibir Bara yang memabukkan. Bara juga tidak mau menyia - nyiakan kesempatan yang ada. Dengan hati yang senang, Bara pun melepaskan rindu pada Kiran lewat kenikmatan bibirnya. Kemanisan dari bibir Kiran yang melebihi madu hingga sulit membuatnya beralih.
Keduanya pun semakin hanyut dalam ******* bibir yang saling berbalas dalam lautan cahaya yang remang - remang. Terbuai dalam suasana yang romantis di dalam kamar hotel yang sudah Bara atur sendiri. Terlena dalam semerbak aroma kelopak mawar merah yang bertaburan di atas lantai.
Jas milik Bara yang di kenakan pada Kiran pun berakhir jatuh ke atas lantai yang sudah bertaburan kelopak mawar. Kembali kemulusan kulit bahu dan keindahan tulang selangka Kiran terpamerkan jelas. Di jelajahi bebas dengan gerakan sensual dari jemari Bara yang sudah gelisah untuk melepas rindu.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih π·atau β juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian lohπ
Makasih...
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.