
"Akh, syukurlah. Aku bisa lega mengetahui semuanya selamat."
Berlin kembali membenamkan wajah sembabnya di dada bidang Rafael setelah kelegaan telah di rengkuh dengan sempurna. Mengusir gelisah, cemas, panik dan kebingungan yang tadi bersemayam di dalam jiwa, bergelayutan hingga membuat frustasi dan pasrah pada keadaan.
Kedua tangan yang memeluk semakin di kencangkan. Serta kehangatan yang menguar dari tubuh Rafael menghantarkan senyar kenyamanan di jiwa Berlin. Ya, perempuan cantik itu kini sudah merasa aman dan terlindungi dalam pelukan Rafael.
Sayap bidadari buatan itu masih di kenakan oleh Berlin. Ya, benda asing berwarna dengan bulu-bulu angsa putih yang mendominasi kini mengusik pandangan kedua mata Rafael. Dagu Rafael pun perlahan turun ke bawah hingga tatapannya berlabuh pada kemulusan paha Berlin.
Rafael pun langsung menarik tangan Berlin. Kedua mata yang tajam begitu teliti mengawasi tubuh Berlin. Sedangkan sikap aneh Rafael langsung mencuri perhatian Berlin. Namun, perempuan cantik itu berakhir kebingungan dengan benak di serbu berbagai pertanyaan yang melanda.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan kalian berdua? Kenapa kau bisa mengenakan
Pakaian seperti ini, Berlin?!" Tanya Rafael dengan dahi mengerut dalam.
Sontak saja, Berlin pun langsung tersadar. "Ah, maksudmu baju yang sedang aku kenakan ini, Kak? Ini... Ini... tadi itu kami... kami..."
"Apakah Garry sudah menyentuh kalian?" sela Rafael cepat.
"Tidak!" Bantah Berlin cepat. "Namun lebih tepatnya malahan kami berdua yang sudah menyentuh Garry." sambung Berlin agak meragu.
"Apa? Kalian berdua yang malahan menyentuh Garry?" kini bergantian dengan Rafael yang di landa kebingungan atas ucapan dari Berlin tadi.
"Iya, kami duluan yang sudah menyentuh dia. Tapi Kak Rafael jangan salah paham. Kami berdua melakukan hal seperti itu karena ada alasannya."
"Apa alasannya, Berlin? Coba kau jelaskan kepadaku?" tanya Rafael yang masih menuntut Berlin untuk memberikan penjelasan kepadanya.
"Lain kali saja, Kak. Jika aku menceritakan semuanya itu terlalu panjang. Intinya, kostum yang sedang aku pakai ini hanya bagian dari rencana kami untuk melarikan diri dari Garry."
"Ikut aku!" Rafael langsung menarik tangan Berlin.
__ADS_1
"Kak Rafael. Memangnya kita itu mau kemana?" tanya Berlin yang bingung saat Rafael menarik tangannya tiba-tiba.
Langkah kedua kaki Rafael pun kini sudah terhenti. "Lepaskan ini dulu. Menganggu saja!" Ucap Rafael kesal dengan melepaskan sayap buatan yang masih di kenakan oleh Berlin.
"Memangnya kita mau apa, Kak? Kak Rafael kan belum menjawab pernyataan ku tadi?"
"Diam Berlin."
"Aku tidak akan berhenti bicara, sampai Kak Rafael mau menjawab pertanyaan dariku."
"Kau ini memang keras kepala. Kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain."
"Aaaa....aaa.... aaa...aaaa...?!!" Teriak Berlin, saat Rafael membopong tubuhnya dalam gendongan kedua tangan Rafael.
"Kak Rafael apa yang sedang Kakak lakukan, hah?! Cepat turunkan aku, Kak!" Berontak Berlin dari dalam gendongan Rafael.
"Pakai ini, Berlin!" Perintah Rafael yang menyodorkan jas miliknya itu untuk di kenakan oleh Berlin.
"Kenapa aku harus memakai jas Kak Rafael?"
"Apa kau ingin, jika tubuhmu itu yang sedang berpakaian seperti itu di lihat oleh para bodyguard Kakakmu? Jadi, sebelum mereka semua berkumpul kesini lebih baik kau segeralah memakai jas ini!" Seru Rafael dengan tegas dan sambil memaksa kepada Berlin agar Berlin mau memakai jas miliknya.
Mendengar ucapan dari Rafael sontak saja membuat Berlin terkejut. Dia pun langsung mengambil jas milik Rafael dan mengenakannya.
"Kita akan pulang lebih dulu. Untuk itu, aku akan menelepon lebih dulu Tuan muda Alvaro dan yang lainnya jika kau telah bersamaku." lanjut Rafael memberitahukan rencananya.
"Tapi Kak Rafael, apakah kita tidak menunggu lebih dulu Kak Alvaro dan yang lainnya datang kesini?"
"Apa kau mau, jika Tuan muda Alvaro melihatmu mengenakan pakaian yang seksi seperti ini? Dan bisa saja kan, jika Tuan besar Elvano akan langsung datang kesini setelah mendapatkan laporan dari Tuan muda, Alvaro. Bagaimana? Apakah kau ingin mereka tahu jika kau sedang mengenakan pakaian..."
__ADS_1
"Oke! Aku ikut!" Berlin pun langsung menarik handle pintu mobil penumpang depan lalu lai duduk di dalam. "Ayo, kita pergi, Kak. Sebelum aku mendapatkan ceramah panjang dari Kak Alvaro."
Rafael pun menghela nafas sejenak. Lelaki itu langsung menutup pintu mobil penumpang lalu berlari setengah putaran mobil untuk duduk di dalam kursi pengemudi bersebelahan dengan Berlin.
Fokus Rafael kini masih tertuju pada Berlin. Ya, karena lelaki itu masih di rundung dengan gelisah pada perempuan cantik yang masih memamerkan kemulusan paha dan sepasang kaki jenjangnya yang terlihat begitu indah.
"Pakai ini untuk menutupinya." ucap Rafael yang langsung menyodorkan sebuah selimut yang diambil dari bangku penumpang belakang. "Aku akan menghubungi Tuan muda Alvaro dan yang lainnya dulu."
Berlin pun hanya tersenyum tipis, namun tak di pamerkan dengan jelas di karenakan wajahnya yang masih tertunduk. Kemudian, wajahnya kembali terangkat lalu memiringkan wajahnya agar bisa menatap Rafael yang sedang berada di sebelahnya.
"Terima kasih karena sudah menolongku, Kak."
' Ya, Kak Rafael telah menolongku dari situasi yang membuat jantungku merasa tidak sehat. Dan telah menolongku dari kemarahan Kak Alvaro dan keluargaku yang lainnya. Lalu melindungi ku dengan caramu yang selalu membuat hatiku selalu berdebar-debar, Kak Rafael.' sambung Berlin di dalam hati dan masih tersimpan dengan baik-baik sehingga enggan untuk di ucapkan oleh bibirnya kepada Rafael secara langsung.
***
Kedua mata yang masih tertunduk menatap jemari yang saling bergesekan dengan gelisah di atas kedua belah paha yang polos dan belum terjamah sehelai benang pun. Di tambah lagi dengan hembusan angin dari AC mobil yang dinyalakan dengan temperatur yang kencang hingga menaikkan bulu - bulu halus di tubuh, bergidik dengan tubuh Naura yang kini mulai menggigil.
Ya, baru saja Naura terlepas dari kandang buaya. Degupan irama jantung juga baru merengkuh ketenangan. Namun, Naura masih belum bisa menikmati kedamaian hidup setelah terlepas dari kandang buaya. Perempuan cantik yang mulai kedinginan itu dengan berat hati masuk kedalam kandang harimau yang mengawasi tajam tanpa mau beralih."
Karena costum cosplay cat woman yang sedang di kenakan oleh Naura masih lengkap dengan topeng mata yang masih tersingkap ke atas, lebih tepatnya di dahi. Dan bando telinga pun masih di kenakan oleh Naura sebagai aksesoris kepala. Sementara, kostum cosplay slim fit berbahan kulit itu tak mampu menghangatkan sekujur tubuhnya di karenakan panjangnya hanya sampai di ambang paha saja, memamerkan sebagian kulit putih mulus milik Naura hingga ujung kaki yang tak mengenakkan alas."
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
__ADS_1