
Tujuh belas tahun kemudian, Anin dan Kevin berhasil mendidik anaknya menjadi gadis cantik nan baik hati, yang di beri nama Alana Seizha Kevindra Adhitama.
Namun siapa sangka sikapnya berbanding terbalik dengan sang bunda yang lemah lembut.
***
Gadis itu sama sekali tak terusik dengan suara teriakan dari luar pintu, bahkan dia kembali menarik selimutnya, masih enggang untuk bangun padahal matahari pagi mulai menyapa kedalam kamarnya.
"Alana bangun sayang!" teriakan itu kembali terdengar.
"Hmmm." gumanya kemudian melanjutkan tidurnya hingga guncangan di tubuhnya membuatnya mau tak mau harus bangun.
"Bangun Alana, udah siang kamu herus sekolah sayang." ujar Anin bunda Alana.
"Bentar lagi bunda." jawabnya masih dengan mata terpejam.
"Udah jam setegah 7 Al!" geram bundanya.
Mata Alana sontak membulat. "Bunda!!! kenapa nggak bangunin Alana." teriaknya berlari masuk kedalam kamar mandi.
Bunda Anin hanya mengeleng melihat kelakuan anak semata wayangnya.
"Bunda udah bangunin dari tadi, kamunya aja susah di bangunin. Cepat mandi Aska udah nunggu kamu di bawah." ujar bunda Anin sembari membereskan tempat tidur Alana.
Alana mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi dengan mulut penuh busa. "Auskwa?" Beo Alana tak jelas karen sikat gigi di dalam mulutnya.
__ADS_1
"Cepat mandi!" Anin sungguh tak percaya anaknya akan sebar-bar itu, nurun dari siapa sih?
***
Setelah siap dengan seragam sekolahnya, dia melangkah menuruni tangga menghampiri orang tuanya dan satu pria tampan di meja makan.
"Pagi Nda, Yah." sapanya pada orang tua tercinta, kemudian melirik Aska. "Pagi rang jelek." ledeknya penuh tekanan.
Aska mendelik "Kayak lo cantik aja."
Alana duduk di samping bunda Anin, mengibaskan rambutnya kebelakang. "Gua emang cantik lo buta."
"Udah-udah buruan makan nanti kalian terlambat." Ayah Kevin menegahi.
Ke empatnya makan dengan khidmat hingga sarapan mereka selesai. Alana dan Aska pamit undur diri menyalami satu persatu orang tua di hadapannya.
"Aska juga pamit Bunda, Ayah." ujar Aska.
"Hati-hati sayang."
Sepanjang perjalanan Alana tak henti-hentinya mengoceh memakai ataupun memarahi Aska. "Lo ngapain jemput gue?" teriaknya agar suaranya tidak hilang di telan angin.
"Mau-mau gue, motor-moror gue." jawab Aska ketus.
Alana memukul pundak Aska. "Gue tau, lo pasti datang kerumah gue cuma pengen sarapan aja kan." tuduh Alana.
__ADS_1
Karena Alana sangat tahu Aska benci sarapan sendiri sedangkan Mami Tari dan Papi Ans sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Lo jadi cewek ngapa nggak ada terimakasih nya sih, udah gue jemput juga malah nuduh yang nggak-nggak." kesal Aska.
Tak terasa motor yang di kendarai Aska memasuki gerbang SMA Angkasa. Alana turun dari motor Aska, kemudian melepaskan helm yang di pakainya lalu memberikannya pada Aska.
"Mau masuk bareng?" tawar Aska.
"Nggak, gue nunggu Salsa dulu." jawab Alana merapikan rambutnya yang berantakan akibat naik motor tadi.
Aska hanya mengangguk paham setelahnya melangkah masuk kedalam lingkugan sekolah meninggalkan Alana di parkiran seorang diri.
Baru saja akan melangkah tubuh Alana menabrak seseorang membuatnya tersungkur ke tanah. Dia mendongak dengan tatapan yang begitu tajam, siapa gerangan yang berani menabrak tubuh Alana Seizha Adhitama.
Bukannya marah, mulut Alana terganga melihat pria berbadan tegap dengan rahang tegas berdiri di depannya dengan wajah datarnya namun masih terlihat tampan.
"Tampan sekali, sungguh indah ciptaanmu ya tuhan. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan." batin Alana.
Pria itu mengeluarkan sapu tangan di saku jasnya, kemudian menunduk.
...****************...
Penasaran gimana kehidupan Alana selanjutnya? yuk burun intip.
__ADS_1
Author punya Cb baru lagi loh. Bertema anak SMA dan geng motor. Tau Tari dan Ans kan? di sini anak mereka jadi ketua geng motor. Anak Elvan dan Dilan juga ada