Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Lunch Bersama


__ADS_3

"Kalau begitu, bisakah Kakak Ipar membantuku untuk mengambil Arkana, keponakan Kakak Ipar berada tangan Bara? Karena Bara sudah menculik Arkana saat kami sedang berada di kota M. Dan Kiran sudah mendengar sendiri suara tangisan dari Arkana melalui sambungan telepon."


Kedua tangan Kiran mengepal kuat saat mengadukan permasalahan yang di hadapi dirinya saat ini. Air mata yang jatuh membasahi pipinya menggambarkan rasa keputusasaan Kiran yang tak tertahankan.


"Anak itu!" Geram Anton kesal.


"Bagaimana kami harus membantumu, sayang? Dengan cara yang terang - terangan atau tersembunyi?" tanya Lisa sambil memberikan saran.


"Kakak Ipar pasti mempunyai cara terbaik untuk mengelabui Bara, kan? Dan cara terbaik yang nantinya tidak akan melukai Arkana," ucap Kiran penuh teka - teki namun di mengerti oleh Lisa.


"Kami akan membantumu! Arkana akan aman. Dan saya sebagai Pamannya akan turun tangan langsung untuk membawa pulang kembali keponakanku." Anton menyanggupi permintaan Kiran dengan langsung melibatkan dirinya.


...***...


"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu?"


Keraguan Julian ikut menular pada Alvaro yang masih belum bisa melepaskan Kiran untuk menjalankan misinya. Laki - laki tampan bertubuh tinggi itu memincing tajam ke arah Kiran yang tengah duduk santai di sofa panjang yang juga diduduki oleh Marsha.


"Jika Kiran sudah menyatakan keyakinannya, itu tandanya Kiran sudah yakin. Kenapa kalian berdua masih belum percaya kepada Kiran?" Marsha memberikan pembelaanya kepada Kiran.


"Entah! Aku juga heran dengan kedua lelaki ini!" Telunjuk Kiran yang mengarah pada Alvaro dan juga Julian secara bergantian. "Haihh ..haiihhh!" Bahu Kiran terangkat seolah bergidik ngeri. "Beruntungnya aku tidak jatuh cinta pada kedua lelaki yang super bawel ini!" Sambungnya mencibir.


"Tapi kau mencintai lelaki yang tak bertanggung jawab seperti Om Bara!"Lidah Alvaro menyambar tajam.


Deg.


Jantung Kiran tersentak. Rangakaian kata - kata yang keluar dari mulut Alvaro menyentak kesadarannya hingga menyentuh hati Kiran yang membeku. memecahkan bongkahan es yang menyelimuti hingga menimbulkan bunyi yang hanya di perdengar oleh Kiran seorang..


Dagu Kiran terangkat. Tangannya juga ikutan terangkat dengan jemarinya yang merapikan rambut lalu menyelipkan sebagian rambutnya di balik cuping telinga. Perempuan cantik itu berusaha untuk menutupi dirinya yang salah tingkah.


"Kak Marsha kenapa betah sekali berhadapan dengan lelaki yang bermulut tajam seperti Kak Alvaro? Kalau aku jadi Kak Marsha, sudah pastikan akan langsung mencekik tipe suami seperti Kak Alvaro ini," Kiran mengejek mulut pedas Alvaro dengan memanas - memanasi Marsha.


"Cinta itu membutakan segalanya, Kiran!" Balas Marsha bijak dengan mengulas senyuman. "Bahkan aku menutup mata dengan sikap menyebalkannya Alvaro. Jika bukan karena cinta mungkin aku sudah berlari ke tempat di mana dia tidak akan menemukanku. Tapi, karena cinta aku bertahan dan semuanya jauh lebih indah di kehidupanku." sambung Marsha sambil tersenyum kecut.


"Orang bisa gila karena cinta. Semoga aku tidak ikut - ikutan gila karena cinta." Julian mendoakan diri sendiri.


"Hati - hati dengan ucapanmu, Lian! Kau belum kena saja. Jika sudah terkena, akulah orang pertama yang akan tertawa di hadapanmu!" Sambil menahan senyuman, Kiran mengingatkan sekaligus mengejek Julian.

__ADS_1


"Siang nanti kau akan menemui Om Bara, kan?" Marsha kembali ke topik pembicaraan.


"Ya Kak! Rasanya aku tidak sabar untuk bertemu dengan Arkana," Kiran menghela nafas kasar. Aku sudah rindu sekali dengan Arkana. Rindu wajahnya, suaranya, tawanya." Tatapan Kiran berubah menjadi datar saat merindukan sosok putra tercintanya.


"Kalau begitu sebelum lunch bersama Om Bara, sebaiknya kita segarkan dulu wajahmu! Kau pasti tidak bisa tidur semalaman.Seorang Kiran tidak boleh terlihat jelek di hadapan lawan!" Ajak Marsha untuk membuyarkan lamunan Kiran.


Mama cantik itu menarik lengan Kiran dan mengajaknya untuk mengikuti langkahnya keluar dari ruang kerja Alvaro. Sementara Alvaro dan Julian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua perempuan cantik itu sudah sibuk membicarakan beberapa produk kecantikan dalam langkah meninggalkan ruangan itu.


"Kali ini kita percayakan semuanya pada Kiran. Backup-nya kuat jadi kita tak perlu ragu lagi apalagi takut. Paman Anton pasti sudah memikirkan rencana yang matang, hingga Kiran terlihat begitu percaya diri." Alvaro menghempaskan tubuh gagahnya di atas sofa yang empuk cokelat berbahan kulit.


"Aku akan balik ke kota M untuk mengurus rumah sakit yang ada di sana." Julian juga ikut - ikutan merebahkan tubuh gagahnya yang kini merasa lelah.


"Apa kau sudah tentukan siapa penanggung jawabnya?" tanya Alvaro penasaran.


"Sudah! Dan aku pun tak mungkin terus menerus berada di sana. Kak Alvaro tahu sendiri, Mama sudah bolak - balik menyuruhku untuk segera balik kesini." sahut Julian yang merasa frustasi.


"Report juga kalau harus bolak - balik Kota M dan Kota B." ujar Alvaro dengan gambaran berputar di kepalanya.


"Aku mau pulang dulu, Kak. Mau berendam di bathtub. Mau menikmati masa liburanku sebelum kembali ke ruang operasi."


Julian melangkahkan kaki panjangnya untuk segera meninggalkan ruangan kerja Alvaro. Kedua tangannya bergerak melakukan peregangan untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku.


...***...


Restoran yang sunyi, sepi dan tak ada pengunjung lain yang menempati kursi - kursi kosong pada setiap meja. Sengaja Bara kosongkan untuk tak menganggu lunch yang hangat bersama dengan perempuan kesayangannya. Dan sengaja Bara booking untuk memberikan kenyamanan pada Kiran.


Laki - laki tampan yang mengenakan stelan jas abu-abu itu mengulas senyuman manis saat melihat perempuan kesayangannya sudah tiba.


Kiran begitu cantik hingga tak mengedipkan kedua kelopak mata Bara. Hati Bara berdesir melihat Kiran yang mengenakan dress putih dari rumah mode Chanel beraksen gold yang menutupi tubuh Kiran hingga di atas lutut. Heels hitam menjadi pemanis yang sempurna dari outfit Kiran.


"Apa aku terlambat?" tanya Kiran dengan mengangkat dagu.


"Aku juga baru saja sampai," senyum Bara terulas.


Laki - laki tampan itu menarik kursi untuk Kiran duduk. Manner yang gentle Bara lakukan hingga membuat Kiran terkesiap. Dan jauh di lubuk hati yang terdalam, Kiran mulai meleleh dengan sikap lembut Bara. Namun, tak mudah terbaca oleh keangkuhan yang di junjung tinggi saat ini oleh Kiran.


"Silahkan duduk," ucap Bara lembut.

__ADS_1


"Terima kasih," jawab Kiran.


"Kau suka dessert yang ada di sini, kan?" tanya Bara saat menduduki kursi di hadapan Kiran.


"Kau cari tahu sampai titik itu?" tanya Kiran menuduh.


"Aku tidak mencari tau. Karena aku memang tahu kalau kamu itu suka dessert yang ada di sini sejak dulu kau mengejarku. Dan saat sejak dulu aku belum sadar akan perasaanku kepadamu." Bara menyanggah tegas dengan penyesalan yang menggelayuti diri.


"Bagaimana dengan Arkana? Apakah dia menangis ketika di malam hari?" tanya Kiran yang mengalihkan pembicaraan.


"Kau merindukan anak kita?Aku bisa menghubungi seseorang dari rumah agar kau bisa mendengar suaranya." ucap Bara yang menawarkan kebaikan hatinya.


Bara meraih handphone miliknya yang tergeletak di atas meja. Jemarinya yang menyentuh layar touchscreen menjadi perhatian dari kedua mata Kiran.


"Kau tidak berbuat yang macam-macam kan, Bar?" suara Kiran bergetar hingga menghentikkan jemari Bara.


"Ku sangat merindukannya sampai - sampai ingin menangis seperti itu."Bara mengulas senyuman yang menjengkelkan.


"Aku cekik kau jika berani menyiksa Arkana!" Geraman Kiran mengancam Bara.


"Jadi... kau sudah bersedia untuk malam nanti?" tanya Bara dengan nada yang sedikit melambat.


"Tapi aku ada syarat yang harus kau penuhi." Kiran mengajukan negosiasi dengan Bara.


"Katakanlah..."


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2