
Setelah menemui Dilan, Anin langsung pulang kerumah karena haru sudah gelap.
"Kamu sendiri ? mana Kevin?" tanya Oma Jelita saat melihat kedatangan Anin tanpa Kevin bersamanya.
"It...itu.. mas Kevin banyak kerjaan Oma jadi pulangnya agak larut." kilah Anin, yang juga tidak tahu di mana Kevin sekarang ini.
"Yaudah Kita makan malam saja, tidak usah menunggu Kevin" Oma Jelita bangkit dari duduknya, karena Ia sedari tadi menunggu kedatangan Anin dan Kevin untuk makan malam bersama.
"Kenapa tidak menungguku?" ucap Kevin yang baru saja masuk kedalam rumah dengan senyuman yang mengembang.
"Kata Anin Kamu ada lembur, kenapa sudah pulang?" Oma Jelita menatap curiga kepada sepasang manusia yang sedang berdiri di hadapannya.
Kevin melirik Anin sebentar, dan mengedipkan matanya, memberikan kode agar Anin tetap diam. "Aku sudah menyelesaikannya Oma" ucap Kevin yang masih melirik Anin, yang nyatanya kata-katanya itu tertuju pada Istrinya, Kevin merangkul tubuh munggil Istrinya.
"Ini nih kalau orang baru jatuh cinta, pengennya nempel terus" goda Elvan yang juga ikut berdiri.
Kevin melepaskan rangkulannya pada Anin "Kenapa? Kamu iri kan? jujur saja Ia kan?" Kevin menyentil kening Adiknya.
"Ngak, siapa juga yang iri" Elvan cemberut. "Sudah, Aku lapar ayo Kita makan, udah dari tadi nungguin kak Kevin dan juga Kak Anin." Elvan mengalihkan pembicaraan dan melangkahkan kakinya lebih dulu ke meja makan.
Sementara yang lainnya mengikuti di belakang masih menertawai kelakuan Kevin dan juga Elvan.
Setelah makan malam selesai Kevin dan juga Anin pamit duluan masuk kedalam kamar.
Keduanya menyusutkan diri kedalam selimut setelah membersihkan tubuh masing-masing. Suasana sangat hening, baik Kevin maupun Anin tidak ada yang membuka suara.
"Apa ada yang ingin Kamu tanyakan?" Kevin memulai pembicaraan, Ia sedari tadi menunggu Anin bertanya tentang Anna, tapi bukannya bertanya Anin malah diam saja membelakanginya.
"Apa yang harus Aku pertanyakan?" Anin pura-pura bodoh karena tidak ingin membahas masalah itu.
"Apa Kamu tidak ingin memgetahui masalah yang terjadi tadi siang?" Kevin sedikit kecewa dengan tanggapan Anin padanya, yang Ia harapkan adalah kecemburuan Anin, namun sepertinya itu tidak berlaku bagi dirinya.
__ADS_1
Anin membalikkan tubuhnya, dan tersentak saat mendapati wajah Suaminnya yang begitu dekat dengan wajahnya "Apa Aku boleh mempertanyakan itu?" tanya Anin lirih tidak ingin menatap netra Suaminya.
Kevin mengembangkan senyumnya dan mengelus pipi gembul Istrinya. "Tentu saja boleh, Kamu itu istriku dan Kamu berhak tahu apa yang terjadi padaku, termasuk tentang hubunganku dengan Anna" ucap Kevin.
Anin yang salah mengartikan perkataan Kevin, semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang Suaminya. "Mas, apa Aku masih bisa tinggal di rumah ini suatu saat nanti? apa Aku masih menjadi bagian dari keluarga ini?" guman Anin yang masih terdengar jelas di telinga Kevin.
"Hey, apa yang Kamu katakan? tentu saja Kamu akan tinggal dirumah ini selamanya, dan akan selalu menjadi nyonya Adhitama dan juga ibu dari anak-anak Kita nanti." Kevin memeluk tubuh Istrinya dan sekali-kali mencium puncuk kepala Anin.
"Bagaimana dengan Ann...."
"Hubunganku dengan Anna sudah selesai, Aku memberitahukan semuanya, walau Aku tidak menjamin bahwa Anna tidak akan merasakan sakit, mengingat hubunganku dengannya yang sudah terjalin begitu lama" jujur Kevin yang tidak ingin lagi menyimpan rahasia apapun lagi pada Istrinya.
"Jujur itu sangat sulit bagiku, untuk menjelaskannya, bagaimanapun banyak kenangan indah telah Kami au bersama."
"Aku mengerti mas, terkadang lebih mudah bagi Kita untuk menyambut masa depan, di bandingkan jika Kita mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, apa lagi masa lalu itu begitu indah jika di kenang" Anin diam sebentar. "Maaf, ini semua salahku" lagi-lagi Anin merasa bersalah pada Kevin.
Kevin melonggarkan pelukannya pada Anin, agar Ia bisa melihat wajah Istrinya dengan jelas. "Ini semua bukan salahmu, Aku tidak suka jika Kamu selalu menyalahkan dirimu sendiri walau itu bukan kesalahanmu." Kevin menatap Intens wajah Anin. "Mata Kamu sembab, apa Kamu habis menangis? apa ini karena masalah tadi siang" Kevin merasa bersalah dan juga sakit secara bersamaan membayangkan Istrinya menangis tanpa Ia ada di sampingnya.
Kevin mengeser tubuhnya menjauhi Anin, dan mengambil sesuatu di dalam laci samping ranjang. Kevin memberikan benda tersebut pada Anin dan mengembangkan senyumnya, Ia mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan jari-jarinya pada Anin "Lihatlah, sepertinya ada yang hilang dari jariku ini"
Anin mengerutkan keningnya, sembari memandangi benda yang ada di tangannya bergantian dengan jari-jari Suaminya yang masih bergerak-gerak dihadapannya.
Kevin mendengus kesal melihat tanggapan Istrinya yang lemot itu persis seperti siput. "Lihatlah ada yang kurang di jariku ini, apa Kamu tidak berniat untuk melengkapinya" ucap Kevin lagi.
Anin mengembangkan senyumnya setelah mengerti dengan apa yang sedang di bicarakan Suaminya. Anin meraih tangan Kevin dan memasankan cincin ke jari manis Suaminya. "Maksud mas Kevin ini kan?" tanya Anin menunjuk jari Kevin.
"Lihat jariku lebih indah jika di pasang cincin pernikahan Kita"Kevin mengecup kening Anin. "Tidurla!"
Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk terlelap. Jam dua dini hari ponsel Kevin bergetar, membuat sang empunya terjaga, Kevin mengambil ponselnya di atas nakas dengan susah payah karena tidak ingin membangungkan Anin yang sedang tidur terlelap di dalam pelukannya.
"Apa benar ini keluarga nona Anna?" tanya seorang wanita di seberang telfon.
__ADS_1
"Iya, ada apa?" Kevin mengerutkan keningnya.
"Nona Anna sedang di rawat di rumah sakit, Dia kecelakaan tabrak lari, bisakah Anda datang kesini !" ucap wanita yang berprofesi sebagai dokter.
"Baiklah" Kevin memutuskan sambungan telfonya.
Kevin berusaha melepaskan rangkulan Anin dengan sangat pelan agar tidak terbangung, namun usahanya sia-sia saja, sang Istri terbangung karena pergerakannya sendiri.
"Mas Kevin mau kemana?" tanya Anin dengan suara serak khas bangun tidur.
"Anna kecelakaan, dan Dia tidak mempunyai keluarga atau pun kenalan di kota ini selain Aku, jadi Aku harus mengunjunginya di rumah sakit" jelas Kevin, yang tidak ingin Anin salah paham, karena Ia tahu betul bagaiman sensitifnya emosi dan persaan ibu hamil.
"Hati-hati mas" ucap Anin lirih.
Sebelum Kevin turun dari ranjang Ia menyempatkan mencium kening Istrinya. "Jangan berfikiran macam-macam, percaya padaku, Aku hanya menolongnya karena Dia tidak mempunyai Keluarga, tidurlah, Aku pergi dulu." Kevin melangkahkan kakinya ke ruang ganti baju setelah itu Ia pergi menemui Anna di rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan setia Kevin menunggui Anna di rumah sakit, hingga Anna sadar dari pingsan nya. Kevin berjalan mendekati Anna saat melihat pergerakan tangan Anna yang menandakan sang empunya telah sadar.
"Sayang..........
-
-
-
TBC
Jangan lupan dukung Author dengan memberika like, vote, dan komen.
__ADS_1