
"Pak Abian?" ulang Kevin. "Apa Dia mempersulitmu?"
"Pak Abian tidak mempersulitku sama sekali" kilah Anin yang nyatanya rela tidur di depan apartemen semalaman hanya untuk membujuk pak Abian.
Kevin merangkul tubuh Anin kedalam pelukannya, menyatukan jari jemari mereka "Tidak usah membohongiku, Kamu itu tidak pandai berbohong, Aku juga tau bagaimana sifat pak Abian."
"Mas Kevin tahu pak Abian?" Anin mendongak menatap mata Kevin, Kevin senyum dan mendaratkan ciuman di kening Anin.
"Iya, dulu Aku juga perna menemuinya, Dia bukan saja tidak ingin menjualnya padaku, bahkan baru pertama kalinya dalam hidupku, Aku di usir dengan angkunya." adu Kevin mengerucutkan bibirnya membuat Anin terkekeh.
"Sebentar mas" Anin melepaskan pelukan Kevin saat ponselnya berdering.
"Ada apa kak?" tanya Anin setelah menjawab panggilan tersebut.
"........"
"Baiklah, Aku akan kesana sekarang" Anin memutuskan sambungan telfonnya.
"Siapa yang menelfon? dan kenapa Kamu terlihat panik?" tanya Kevin saat mendapati wajah anin yang terlihat khawatir dan juga panik.
"Kata kak Rara Ibu sakit mas, Aku harus menemui Ibu" Anin mengambil tasnya dan melangkah pergi .
"Tunggu" Kevin menarik tangan Anin, membuat Anin menghentikan langkah kakinya. "Ini sudah malam sebaiknya kita berangkat besok saja" pinta Kevin yang khawatir dengan kesehatan Istrinya.
"Ibu ada di kota ini, Ibu baru saja pidah minggu lalu" jelas Anin.
"Baiklah, Aku akan mengantarmu sekalian menjenguk ibu" Kevin menarik tangan Anin dan membimbingnya masuk kedalam mobil.
"Ponsel mas Kevin berdering terus dari tadi, kenapa nga di angkat?" Anin memecah keheningan setelah keduanya lama terdiam di dalam mobil. Sunggu hati Anin terasa sakit melihat nama id penelfon.
Kevin segera mengambil ponselnya dan mengeser gambar merah yang tertera di layar, menandakan Ia menolak pangilan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana keadaan Ibu kak?" Anin berjalan tergesa-gesa mamsuki rumah sederhana yang baru seminggu ini di huni Ibunya.
"Bibi ada di dalam masuklah" Rara mempersilahkan Kevin dan juga Anin masuk.
__ADS_1
"Kak kenapa ruang tengah gelap sekali?" apa tidak ada lampu?" tanya Anin saat mendalati ruang tengah gelap gelita.
HAPPY BIRTDAY
Teriakan beberapa orang bersamaan dengan menyalanya lampu ruangan. Anin begitu bahagia mendapatkan kejutan dari orang-orang terdekatnya, Ada Ans, Tari, Ibu Sandra, Elvan, Jefri, dan juga kak Rara.
Anin menangis sakian bahagianya. "Sayang kenapa Kamu menangis? siapa yang menyakitimu? bilang padaku, biar Aku yang menghajarnya" Tari melirik Kevin saat mengatakan menyakiti.
"........"Anin mengelengkan kepalanya. "Aku menangis kerena sangat bahagia" Anin memeluk sahabatnya.
"Sudah dramanya saatnya tiup lilin dan potong kue, Saya sudah lapar ini" Ans menyahuti membuat semua orang tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah acara selesai semuanya pamit pulang, dan menyisakan Anin, Kevin, dan Ibu Anin.
"Mas Aku nginap di rumah Ibu malam ini ya"
"Tidak boleh, kalau Aku tidak ikut menginap"
"Memangnya mas Kevin mau nginap di rumah ini? apa mas Kevin akan nyaman?" Anin memastikan takut Suaminya merasa tidak nyaman dan hanya terpaksa tidur di rumah ibunya.
"Ada apa?" tanya Ibu Sandra yang baru saja dari dapur.
"Ini mas Kevin bertanya apa ada pestisida di rumah ini, Dia takut ada kecowak bu" Anin terkekeh, sementara Kevin mengaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali karena malu.
"Ibu sudah bersihkan rumah ini jadi tidak akan ada kecowak"
"Kalian mau bermalam?" tanya Ibu Sandra yang juga tidak yakin pada menantunya yang biasa hidup mewah.
"Iya bu" Kevin menyahuti.
"Kebetulan, ibu sengaja membeli rumah yang punya dua kamar, untuk berjaga-jaga siapa tahu Anin bertengkar dengan Suaminya dan kabur dari rumah." sindir Ibu Sandra membuat Kevin menelan salivanya dengan kasar.
"Tapi Ibu tidak menyangka Kamu datang dengan Suamimu" Ibu Sandra melirik Kevin sekilas dan masuk kedalam kamarnya.
Setelah kepergian Ibu, keduanya juga masuk kedalam kamar, kamar yang tidak begitu luas, dan juga tidak ada sofa didalamnya.
__ADS_1
Kevin duduk di pinggir ranjang setelah membersihkan dirinya, "Sini" Kevin menyuruh Anin mendekat, saat melihat Istrinya kebingungan, dan Ia tahu betul apa yang membuat Anin bingung. Apa lagi jika bukan dirinya yang pernah mengatakan bahwa Ia tidak sudi tidur satu ranjang dengan Anin.
Dengan ragu Anin melangkahkan kakinya mendekati Suaminya dan duduk di sampingnya, Kevin mengembangkan senyumnya. "Aku iri sama Kamu" Kevin mengelus rambut Anin.
"Iri kenapa mas?" Anin menatap wajah Suaminya yang terlihat sendu.
"Aku iri karena Kamu masih mempunyai Ibu yang sangat menyayangimu, sedangkan Aku di tinggal ibuku saat duduk di bangku dasar. Ibu pernah berpesan padaku, bahwa Aku harus menjadi anak yang kuat dan tegar, tidak boleh terlihat takut di depan orang lain karena itu hanya merugikan diri sendiri dan selalu di tindas."
"Aku berhasil melaksanakan pesan terakhir ibu dengan baik, menjadi pria tegar dan juga bertanggung jawab, tidak terlihat lemah di mata orang lain. Tapi itu membuatku tersiksa karena tidak bisa menceritakannya pada orang lain."
"Berusaha tetap tegar saat Aku melihat Oma terbaring lemah di brankar, berusaha tetap tenang saat perusahaan hampir bangkrut, walau sebenarnya Aku merasa sangat takut." jujur Kevin.
"Terimakasih mas" Anin refleks memeluk tubuh Suaminya.
"Kenapa Kamu berterima kasih?" Kevin membalas pelukan Anin yang membuatnya begitu tenang.
"Terimakasih karena sudah mau terbuka padaku, mau menceritakan segala keluh kesah yang selam ini Kamu pendam sendiri. Jika mas Kevin punya masalah cerita pada Anin, jangan di pendam sendiri itu tidak baik, Aku akan selalu mendengarkan keluh kesah mas Kevin salama Kita masih bersama."
"Tidak apa-apa jika Mas Kevin terlihat angkuh dan dingin di luar rumah maupun di perusahaan, tapi ingat jika mas Kevin berada dirumah, jadilah diri sendiri, tidak usah menjadi orang lain, Aku akan selalu ada untuk Mas Kevin"
"Anin" Kevin melepaskan pelukannya, menatap dengan intens wajah munggil Istrinya. "Jangan lagi pernah mengatakan bahwa Kita akan bepisah, Aku tidak suka itu." Kevin Diam sebentar.
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, Aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Mungkin ini sudah terlambat tapi Aku harus mengatakannya, agar Kamu tidak ragu lagi padaku. Anin maukah Kamu hidup bersamaku? memberikan keluarga yang lengkap untuk anak Kita, membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta, Anin Aku sungguh mencintaimu." Kevin mengecup bibir Anin sekilas.
Anin meneteskan air matanya, merasa sangat bahagia, ternyata selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Anin kembali memeluk Suaminya dengan tubuh bergetar karena menahan isakannya.
"Aku juga mencintaimu Mas" lirih Anin namun masih bisa di dengar oleh Kevin.
-
-
-
-
TBC
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, Komen, dan juga Vote.