
Alvaro tertawa. Sampai - sampai tawanya hampir terdengar konyol. Bulu - bulu halus di tubuh Viona dan Kiran seketika bergidik. Kedua perempuan cantik yang habis - habisan menggunjingkan Alvaro seketika merinding mendengar tawa lelaki itu.
"Jangan marah, sayang. Karena apa yang mereka katakan itu benar adanya." ucap Marsha menjadi pembela bagi kedua saudari Iparnya.
"Aku tidak marah, istriku."
Awan cerah langsung menghampiri Alvaro dengan sinaran pelangi yang mewarnai. Lelaki tampan yang terkenal akan sikap angkuhnya itu langsung melembut pada sosok istri tercintanya. Binaran lembut dari kedua mata Marsha bagaikan penyejuk di jiwa Alvaro.
"Selamat..." gumam Viona dan Kiran secar bersamaan.
"Tapi aku hanya kecewa pada dua sosok adik yang selalu aku bela dan...."
"Maaf Tuan dan Nyonya muda," sela pelayan memotong ucapan Alvaro.
"Ada apa, Bik?" tanya Saga dengan nada yang lembut.
"Tuan dan Nyonya besar meminta semua Tuan dan Nona muda untuk ke taman belakang. Tuan muda Julian telah datang bersama dengan pacarnya."
"Pacar?" sahut semuanya secara serempak yang mengagetkan pelayan rumah.
"I..iya, Tuan dan Nyonya muda." jawab pelayan tergagap.
...***...
"Ini Naura, pacar Julian dan Naura ini keluargaku." Julian mengenalkan Naura di hadapan keluarganya. "Naura, dokter bedah yang magang di rumah sakit Julian sekaligus anak bimbing Julian." sambungnya memberitahu.
"Halo! Om, Tante..."
Ucapan Naura terhenti oleh remasan tangan Julian pada genggaman tangan mereka yang saling menjalin.
Naura menggigit bibir bawahnya, kedua kelopak matanya pun terpejam akan diri yang lupa pada peringatan dari Julian sebelum memasuki kediaman Tuan dan Nyonya besar Alvarendra.
"Cukup perkenalkan dirimu saja, Naura. Aku sudah bilang kan, jangan tegang!" Gumam Julian memperingatkan.
Lisa tersenyum, dan bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Naura yang berdiri sambil bergandengan tangan dengan putra keduanya itu.
"Tidak usah tegang seperti itu, wajah mereka memang terlihat kejam. Tapi hati mereka baik." ucap Lisa dengan menyentuh lembut lengan Naura.
"Ah iya, Tante." Naura meringis senyuman.
__ADS_1
"Naura pasti tegang, karena baru pertama kali bertemu dengan kita. Kebetulan yang sangat kebetulan, kita semua sedang berkumpul di rumah ini." Anton ikut mengomentari sikap normal Naura yang terkejut karena sudah di bawa mendadak ke rumah orang tua Julian, tanpa ada kesiapan mental.
"Besok, Pamannya Julian akan menikah. Maka dari itu kita semua berkumpul di sini." Lisa memberitahu.
"Oh, maaf, Tante. Saya tidak tahu, karena Julian tidak memberitahuku."
"It's oke!" Anton memaklumi. "Karena kebetulan Naura di sini, makan siang lah bersama dengan kami."
Naura duduk bersebelahan dengan Julian. Di sisi lainnya terdapat Berlin yang begitu ramah yang sejak tadi kepada dokter cantik itu. Kehangatan keluarga konglomerat itu terhantar sempurna di jiwa Naura.
Hati dan jiwa dokter cantik itu di selimuti oleh kasih sayang dari sebuah keluarga. Kasih sayang yang tak pernah Naura dapatkan sedari kecil. Kasih sayang yang tak pernah datang menghampiri dari sebuah keluarga lengkap. Sedari kecil, Naura hanya menerima kasih sayang dari Bunda tercintanya. Hidup tanpa ada andil besar dari Ayah tercinta. Bayang - bayang dari seorang Ayah pun tak Naura dapatkan, hingga perempuan cantik itu menginjak dewasa. Hanya uang yang menjadi wujud perhatian yang Galang berikan pada Naura.
Naura tertunduk menutupi kedua mata yang berkaca-kaca. Pun hidungnya yang langsung memerah di karenakan kulit putih yang di miliki.
Gerakan tangan Julian yang ingin mencengkram gelas di hadapannya terurungkan di karenakan perhatiannya yang tercuri akan sikap Naura.
"Are you oke?" tanya Julian dengan nada yang lembut. Jemari Julian dengan cara yang lembut juga mencengkram bahu Naura.
"Naura, apa kau baik-baik saja, Nak?" Lisa ikut merasa khawatir.
Wajah Naura terangkat. Beningan air mata yang tadi menggenangi dengan kekuatan sulap langsung lenyap dari kedua mata cantiknya. Namun, hidung Naura mancung masih memerah tak bisa menutupi kesedihannya.
"Naura tadi hanya merasa lelah sedikit, Tante. Kemarin malam ada jadwal operasi yang lumayan agak memakan waktu." Naura beralasan, berusaha menutupi kesedihan di dalam jiwa.
"Apa boleh Naura beristirahat di kamar Julian?" tanya Julian memastikan.
"Tentu!" Sahut Anton cepat.
"Tentu kau tidak boleh ikut bersama dengan Naura, Kak!" Saga menyambar cepat. "Bukankah begitu, Pa?" sambungnya kemudian.
"Hmmm!" Anton berdehem.
"Kau memang benar-benar anak Papa! Tos?" puji Anton pada Saga.
"Tentu aku ini anak Papa!" Sahut Saga
"Lalu kami anak siapa?" Berlin di landa cemburu.
"Kita anak Bunda, Dek?" Bastian menjawab cepat.
__ADS_1
"No! Kak Clara dan Kak Bastian adalah anak Bunda. Semua terbukti dengan sikap lembut yang kami miliki," sambung lembut Berlin yang mengundang gelak tawa dari orang - orang.
"Jadi, Berlin bukan anak Papa?" Elvano menginterogasi. Ada nada tidak senang yang terselip.
"Bukan!" Berlin membuang pandangan dari sorot tajam Elvano. "Karena Papa belum mengijinkan Berlin untuk tinggal mandiri." sambungnya bergumam.
Sebuah tawa kecil, lolos dari bibir Naura. Telapak tangannya menutupi bibirnya untuk membenamkan tawa yang tak mampu Naura tahan di dalam diri.
"Maaf ya, keluarga besarku memang seperti ini kalau sudah berkumpul. Harap maklum!" Julian memberikan penjelasan akan canda kecil yang sengaja di angkat untuk menghibur hati.
"Tidak apa-apa, Lian. Aku malah senang." Naura membantah. Senyum manis yang menampakkan gigi kelinci alaminya menyihir hati Julian.
"Naura malah senang, bisa di berikan kesempatan ikut dalam makan siang keluarga ini. Jujur saja, sejak kecil Naura belum pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga seperti ini," lanjut Naura dengan suara parau hampir bergetar.
"Kalau begitu, kami akan sering - sering mengundang calon menantunya Mama ini dalam jamuan makan keluarga selanjutnya." Lisa menyambut Naura dengan nada terbuka.
"Benarkah?" Naura tidak percaya.
"Itu sinyal lampu hijau dari Tante Lisa, Kak Naura?" Berlin menyambar cepat.
"Terima kasih, karena sudah mau menerima Naura." ucap Naura dengan penuh rasa haru.
"Jadi, Lian boleh menemani Naura beristirahat di kamar, kan?" Julian mengalihkan pembicaraan.
"Ucap ijab kabul dulu baru boleh menemani Naura di kamarmu." Anton menolak tegas. Wajah datarnya sudah mewakili dari keberatan hatinya yang tak memberikan ijin.
Lisa tertawa. Hatinya tergelitik oleh tingkah suami dan anaknya. "Naura bisa beristirahat di kamar, Lian."
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.