
Setelah dari kantor KUA Kevin mengajak Anin makan siang bersama. Beberapa menit menunggu pesanan mereka telah datang. Keduanya makan tanpa ada yang membuka suara.
hening
hening
heining
"Maaf karena menulis namaku di berkas itu." ucap Anin membuka suara setelah menghabiskan makanannya.
"jangan bilang begitu! orang lain akan mengira saya adalah ......" ucapan Kevin terpotong oleh suara ibu-ibu yang bergosip di depannya.
"Bajingan, dia benar-benar bajingan." ucap wanita paruh baya itu dengan nada bicara sedikit keras. Dan itu membuat Kevin tersinggung.
"sst....pelankan suaramu!" perintah temannya saat kevin menatap tajam kearah mereka.
Kevin menghela nafas kasar mendengar pembicaraan wanita di depan meja nya itu. "Maaf, jika sikap saya tadi keterlaluan, kerena saya sedang panik." ucap Kevin.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku tahu....." ucapan Anin terpotong dengan suara keras wanita di depannya.
"Dasar wanita bodoh bisa-bisanya dia percaya pada pria bajingan seperti itu." ucap wanita itu.
Anin diam saja mendengar perkataan wanita di depannya itu. Ia juga merasa tersinggung dengan pembicaraan dua wanita paruh baya di depannya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi bisa-bisanya pembicaraannya nyambung sekali dengan pembicaraan mereka berdua.
"Berikan paspormu!" perintah Kevin sembari mengulurkan tangannya. "Aku akan memesan tiket pesawat untuk kita berangkat besok ke amerika." ucap Kevin mengalihkan pembicaraan.
Anin mengambil paspor di dalam tasnya dan memberikannya pada Kevin. "Apa kita harus ke amerika?" tanya Anin.
"Bagaiman lagi, itu tidak bisa diwakili" ucap Kevin dingin. "Tolong jangan bilang pada siapapun tentang hal ini." pinta Kevin.
"Sudahlah, kita bicara di tempat lain saja." ucap Kevin sembari bangkit dari duduknya hendak pergi.
Anin ikut berdiri dan memegang tangan Kevin agar tidak pergi. "Aku berjanji tidak akan mengatakan apapun pada orang lain tentang hal ini." ucap Anin.
Setelah makan siang, Kavin mengantar Anin pulang dan kembali ke kantor nya.
__ADS_1
Kevin duduk di kursi kebesarannya memandangi foto Ana dan buku nikahnya secara bergantian. Kenapa masalah ini tidak ada habis nya? batin Kevin.
Ans masuk tanpa mengetuk pintu karena itu adalah kebiasannnya. Kevin segera menyembunyikan buku nikahnya setelah mendengar pintu terbuka, ia tidak ingin Ans mengetahui masalah ini, karena ia yakin Ans akan memberitahu Oma Jelita.
"Pak Kevin tiket anda untuk ke amerika sudah saya pesan. Ini tiket anda dan ini tiket nona yang bernama Anindira." ucap Ans sembari memberikan dua tiket pada Kevin.
"Maaf tiket itu saya yang berikan padanya atau anda sendiri?" tanya Ans sopan saat menyadari raut wajah Kevin yang terlihat dingin.
"saya saja." ucap Kevin namun tatapannya tetap fokus menatap layar laptopnya dan menghiraukan keberadaan Ans.
"Bro aku sudah megenalmu bertahun-tahun, kau tidak pernah sepeduli ini pada gadis lain selain Ana." ucap Ans, ia heran pada temannya itu, karena ini baru pertama kalinya Kevin mengurusi seorang wanita selain Ana.
"Sekarang kenapa kau....." Ans berhenti bicara saat melihat tatapan tajam tertuju padanya.
"Apa kau tidak punya pekerjaan? dan sekarang kau ingin menertawakanku?" tanya Kevin dengan ekspresi dinginnya.
Ans merubah posisnya yang tadinya bersandar di tembok kini berdiri tegak setelah mendapat tatapan tajam dari bos galaknya itu.
__ADS_1
"Pak kevin" ucap Ans berubah formal. "Sudah waktunya anda mengadakan rapat di Firma Hukum pak Charles" ucap Ans.
TBC