
"Bagaimana Kamu mau kan?" tanya Ans penuh harap.
"......." Tari menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Yes" Ans melompat kegirangan sakin bahagianya.
"Sarapanlah dulu" ucap Tari datar.
Ans mengikuti perkataan Tari, kembali duduk dan melanjutkan sarapannya, dan sesekali memperhatikan wanita bar-bar didepannya yang kini sudah resmi menjadi pacarnya.
Ans menyeka sudut bibir Tari saat melihat ada noda selai di sana "Kalau makan itu jangan seperti anak kecil, belepotan kemana-mana."
Tari hanya menyunggingkan senyumnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ans, jujur saja, Tari pun mulai jatuh cinta pada Ans.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sarapannya sudah siap Mas," setelah mengatakan itu Anin berniat untuk keluar kamar, namun langkahnya terhenti saat Kevin menariknya.
"Pasangkan dasi ini untukku" Kevin memberikan sebuah dasi berwarna hitam dengan senyuman yang mengembang.
"Tapi mas, Aku tidak pintar memakaikan dasi" jujur Anin.
"Biar Aku ajarkan." Kevin memasangkan dasi ke leher Anin, membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi Anin yang hanya sebatas bahunya saja.
"Mulai hari ini dan seterusnya, Kamu yang akan memakaikan dasi untukku, itu adalah kewajibanmu, mengerti?"
"........."Anin hanya menganggukkan kepalanya.
Kevin menarik ujung dasi yang melekat di leher Anin, membuat sang pemakainya lebih mendekat ke arahnya. Kevin menatap wajah Anin dengan intens dan berakhir di bibirnya. Bibir yang membuatnya candu jika melihatnya.
Kevin mendekatakan wajahnya hingga bibir mereka menempel, meraih pinggang Istrinya agar menempel sempurna pada tubuhnya, semakin lama ciuman Kevin semakin menuntut membuat Anin kehabisan oksigen.
"Ma...mas." Anin mendorong tubuh Kevin karena tidak dapat bernafas lagi. Sementara Kevin hanya cengegesan melihat wajah Istrinya yang susah sangat merah seperti kepiting rebus.
"Siapa?" tanya Anin saat mendengar ponsel Kevin bergetar.
"Dari Anna, katanya Dia sudah tiba" jawab Kevin datar.
"Oh" hanya itu yang keluar dari mulut Anin.
__ADS_1
"Anin dengarkan Aku, mulai hari ini dan seterusnya, Aku hanya akan mencintaimu walau Anna kembali sekalipun Aku tidak akan berpaling darimu percayalah" Kevin mengunci netra Anin.
"Bukan itu yang Aku khawatirkan mas" Anin menundukkan kepalanya. "Aku hanya tidak enak dan merasa bersalah pada Anna, Dia akan tersakiti jika mengetahui hubungan Kita." lirih Anin.
"Percaya padaku, Aku akan menjelaskannya secara perlahan untuk menetralisir rasa sakit yang akan Anna rasakan, tapi Aku tidak berjanji bahwa Anna tidak akan tersakiti dalam hal ini" jelas Kevin yang sudah tau dimana letak ke khawatiran Istrinya.
Keduanya turun ke lantai bawah dimana semua orang sedang menunggu untuk sarapan pagi.
"Kek pengantin baru aja, jam segini baru keluar kamar" goda Elvan.
"Bilang saja Kamu iri, kepengen tapi nga ada yang mau" ledek Kevin sembari menarik kursi untuknya dan juga Anin.
"Benar tuh kata kakakmu, kapan Kamu nyusulnya? ntar jadi perjaka tua baru tahu rasa" bibi Ajeng ikut menimpali.
Elvan mengerucutkan bibirnya, merasa sangat menyesal menggoda kakaknya, yang jadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Mereka sarapan pagi di temani dengan obrolan-obrolan ringan
"Berhubung sebentar lagi Oma ulang tahun, Aku ingin membahas tentang perayaannya" Kevin kembali bersuara setelah menyelesaikan makannya. "Aku ingin perayaan ulang tahun Oma di gabung dengan pertemuan tahunan perusahaan, .l
a.sekalian untuk mengumumkan nyonya muda Adhitama." Kevin menatap wajah Istrinya sekilas dan melemparkan senyumannya.
"Aku akan membagi tugas ini agar tidak terlalu kerepotan" Kevin menatap bibi Ajeng. "Bibi kan dekat dengan ibu mertuaku, jadi Aku menyerahkan kepercayaan tentang dekorasi dan juga pakaian seragam yang akan keluarga Adhitama pakai, kepada bibi dan juga mertuaku"
"Dengan senang hati bibi akan melakukannya." bibi Ajeng mengembangkan senyumnya.
"Iya bibi dekat ya sama Ibu? Ibu terus memuji bibi, bilang bibi itu baik, nga sombong, cantik lagi" ucap Anin.
"Ah Kamu padai berkata manis ya Anin" bibi Ajeng tersipu malu mendapatkan pujian.
"Dan tugas Kamu" Kevin kini beralih menatap Elvan. "Karena Aku mungkin akan sibuk akhir-akhir ini, jadi Kamu tolong ajarin Anin berdansa ya"
"Siap, dengan senang hati kak, kak Kevin tenang saja, gini-gini Aku pandai berdansa loh" Elvan membangakan diri.
"Mas kenapa harus Aku? Aku malu dan tidak biasa tampil di depan banyak orang, apa lagi harus berdansa" protes Anin.
Kevin menatap Istrinya dan mengembangkan senyumnya "Itu sudah tradisi keluarga Kita, jika mengadakan pesta, Tuan rumah akan membuka acara dengan cara berdansa" Kevin mengenggam tangan mungil Istrinya. "Dulu yang selalu menemani Aku tuh Oma, tapi sekarang kan, sudah ada Nyonya muda di rumah ini, jadi tidak mungkinkan Aku berdansa dengan Oma?" ucap Kevin.
Anin merasa sangat beruntung masuk ke keluarga Adhitama, mendapatkan cinta bibi dan juga Oma Suaminya, dan sekarang Ia juga mendapatkan cinta Suaminya yang begitu tulus mencintainya. walau disisi lain, Ia selalu terganggu dengan rasa bersalah yang menyelimuti hatinya, selalu menganggap dirinya perebut kebahagian Anna.
__ADS_1
Setelah berbincang tentang perencanaan perayaan ulang tahun Oma dan juga pertemuan tahunan perusahaan, Kevin berangkat bekerja dengan menyetir mobilnya sendiri, karena sang sekretaris telah lebih dulu berangkat atas perintahnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan bagaimana dengan hotel bintang lima yang baru Kita resmikan? belum ada kandidat yang cocok untuk memimpin hotel tersebut" jelas Ans memberikan laporan perusahaan pada Bosnnya.
"Serahkan hotel itu di bawah kepemimpinan Elvan" ucap Kevin datar.
"Hah, Elvan?" Ans tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan, Ia benar-benar tidak suka dengan Elvan, apa lagi saat mengingat semua kekacauan yang pernah dilakukannya, tanpa berniat Elvan selesaikan sendiri dan berakibat menyusahkan dirinya.
"Tuan nanti sore ada pertemuan penting" lapor Ans lagi.
"Suruh Elvan yang menghadiri pertemuan itu?" ucap Kevin lagi.
"Tuan kenapa Ans memberikan semua pekerjaan ini pada Elvan?" Ans keberatan bukan karena apa-apa, Ia hanya takut Elvan akan membuat masalah lagi.
"Memangnya ada apa dengan Elvan? kenapa Kamu begitu tidak menyukainya jika Dia bergabung di kantor pusat?" kini Kevin mulai Kesal dengan sekretarinya yang selalu memprotrs keputusannya jika menyangkut dengan Elvan.
"Saya hanya khwatir Tuan" ucap Ans.
"Kamu tidak usah khawatir, Saya lihat belakangan ini Elvan ada perkembangan dan mulai mengerti strategi perusahaan, jika Kamu belum yakin, Kamu silahkan periksa data-data pabrik di pulau bali yang sedang di kelola Elvan, belakangan ini mulai berkembang lagi dan terlihat rapi." jelas Kevin membuat Ans tidak bisa lagi berkata-kata lagi.
"Baiklah Tuan" Ans akhirnya mengalah dan akan mulai mempercayai Elvan kembali.
"Tuan kenapa hari ini wajah Anda berseri-seri? padahal kemarin Anda tidak enak badan" goda Ans, yang sudah tahu bahwa atasannya itu mulai bucin.
"Ans apa Kamu sudah capek bekerja?" Kevin menatap tajam sekretarisnya.
"Ti....tidak Tuan"
-
-
-
-
TBC
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, Komen, dan Vote.