
Kevin melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dan terkejut melihat Istrinya duduk di sofa dan memandanginya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Sa...sayang Kamu ada di sini?" tanya Kevin gugup namun tetap mengembangkan senyumnya, Ia melangkahkan kakinya mendekati Istrinya.
Anin yang melihat Kevin mendekat segera bangkit dari duduknya. "Aku buatkan teh hangat buat mas Kevin ya" ucap Anin melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menghindari Kevin.
Kevin yang merasa Anin menghindarinya, segera mengikuti Istirnya ke dapur. Kevin memeluk Istrinya dari belakang yang sedang membuat teh hangat untuknya.
"Maaf Aku mabuk tadi malam jadi....." Kevin berusaha ingin menjelaskan apa yang terjadi padanya pada Anin, agar Istrinya tersebut tidak salah paham padanya.
"Aku tahu" potong Anin yang tidak ingin mendengar penjelasan Kevin, sudah cukup Ia mendengar penjelasan Anna yang begitu menyakitkan baginya.
"Aku sudah menjelaskan semuanya pada Anna, Aku mengatakan......."Kevin mencium telinga Istinya.
"Aku tahu itu, Anna sudah menjelaskannya" lagi-lagi Anin memotong perkataan Suaminya, Ia takut Kevin mengatakan apa yang tidak ingin Ia dengar.
"Sayang hubunganku dengan Anna sudah berakhir, jadi jangan marah lagi sama aku ya ! sayang Kamu percayakan sama Aku? kemarin malam Aku......." Kevin berusaha menjelaskan apa yang terjadi di kafe pada Anin, walaupun Ia tidak tahu bahwa Anin ada di sana, namun Ia hanya ingin jujur pada Istrinya dan tidak ingin menyembunyikan apapun.
"Aku hanya tidak percaya dengan diriku sendiri mas, waktu yang Kita miliki begitu singkat, dan itu membuatku tidak percaya bahwa Kamu secepat itu mencintaiku, jadi pertimbangkan sekali lagi jika ingin bersamaku, jangan memaksakan diri mas." ucap Anin, yang sudah termakan omongan Anna.
"Keputusanku sudah tepat sayang, Aku berjanji akan memberikanmu dan anak Kita sebuah keluarga yang bahagia" bujuk Kevin yang merasa aneh dengan sikap Anin hari ini, Ia merasa Istrinya itu benar-benar ingin menghindarinya, Kevin semakin mengeratÄ·an pelukannya seakan-akan Istrinya akan pergi dari kehidupannya.
"Jika bukan karena anakmu apa Kamu akan memilihku?, apa Kamu ingin terus bersamaku? jadi Aku mohon pikirkan sekali lagi jika Mas Kevin ingin hidup bersamaku, jangan memaksakan diri mas, kembalilah pada Anna jika itu keinginan mas Kevin." Anin mengeluarkan segala pertanyaan yang membuatnya cemas semalaman.
"Anin" Anin menundukkan kepalanya, Ia tahu betul jika Kevin memanggilnya dengan nama, itu artinya Suaminya itu sedang kesal. "Apa Kamu tidak tahu apa yang Aku inginkan? apa perhatian dan perbuatanku selama ini tidak cukup untuk membuktikan semuanya? Aku mencintaimu dan akan terus seperti itu, jadi jangan pernah meragukan perasaanku" Kevin membalikkan tubuh Anin dan memeluknya namun tidak terlalu erat takut baby yang ada di perut istrinya kesakitan.
Anin melepaskan pelukan Suaminya "Aku harus pulang mas, sebentar lagi acara ulang tahun Oma akan di mulai, Kita betemu di hotel saja nanti" Anin buru-buru mengambil tasnya di ruangan tengah dan pergi meninggalkan Suaminya seorang diri.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, Anin menerima sebuah pesan yang berisikan rekaman suara seseorang, karena penasaran Anin memutar rekaman suara tersebut.
Pak, Saya ingin mengubah surat perjanjian perceraian Saya, dan menambahkan beberapa poin di dalamnnya, Saya akan mengirimkan formatnya lewat email nanti, tolong serahkan pada Istri Saya sebelum acara di mulai.
Isi rekaman.
Yang mengirim rekaman tersebut tak lain adalah Anna, namun dengan kartu sekali pakai. Sebenarnya rekaman suara itu di potong, dan hanya mengambil suara Kevin saat memerintahkan pengacara Charles mengubah surat perjanjian perceraian tersebut, dan itulah rencana Anna yang sebenarnya, membuat kepercayaan Anin hilang pada Kevin.
Anin mengabaikan pesan tersebut karena Ia mengira bahwa rekaman suara bisa saja di rekayasa, namun setelah sampai di rumah Ia mendapatkan paket dari kantor hukum tempat Ia bekerja dulu, dimana pengacara Charles yang memimpin kantor hukum tersebut.
Dengan ragu dan rasa takut Anin membuka amplop coklat tersebut dan membaca isinya, tak terasa air mata Anin jatuh begitu saja membasahi pipinya setelah membaca berkas tersebut.
Bagaimana tidak, setelah Ia menepis segala pikiran buruk saat mendegar isi rekaman yang di kirimkan seseorang, kini Ia mendapatkan surat perjanjian perceraian yang telah di ubah, sesuai dengan permintaan Kevin dalam isi rekaman. Dimana isi surat peceraian sangat merugikan pihak kedua yang tak lain adalah dirinya.
Isi surat perjanjian.
Poin pertama, jika pihak pertama berpisah dengan pihak kedua, maka pihak pertama tidak lagi betanggung jawab pada pihak kedua, dan pihak kedua harus membiayai dirinya sendiri. Poin pertama tidak begitu menyakitkan buat Anin, toh Dia tidak pernah mengharapkan sepeserpun kekayaan Suaminya.
Anin kembali menangis, Ia tidak menyangka Kevin akan berbuat sekeji itu padanya. untungnya tidak ada anggota keluarga di kediaman Adhitama, karena semua telah berkumpul di hotel di mana acara akan di selenggarakan.
Anin kembali membaca poin terakhir, jika terjadi kecelakaan pada pihak kedua dan mengakibatkan pihak kedua kehilangan anaknya, maka saat itu juga pihak pertama menceraikan pihak Kedua. Sungguh poin terakhir yang dibaca Anin mebuatnya begitu hancur.
Hati Anin bagai di sayat-sayat membaca poin terakhir, Ia tidak menyangka Suaminya secara tidak langsung menyumpahi dan mendoakan dirinya dan juga calon anaknya dalam bahaya.
"Sungguh ayah macam apa yang tega mendoakan anaknya celaka" Anin menangis histeris meluapkan segala kesediahnnya.
Belum juga tangis Anin reda, ponselnya bergetar menandakan pesan telah masuk, dengan sesegukan Anin membuka pesan tersebut, dan Ia tahu siapa pengirimnya.
__ADS_1
"Datanglah ke hotel dimana acara berlangsung, dan masuklah kekamar no 221 lantai 11." isi pesan dari Anna.
Ya Anna mengirimkan pesan pada Anin untuk melanjutkan rencananya.
"Bukankah kamar ini? adalah kamar yang telah di pesan mas Kevin untukku? mengapa Anna menyuruhku kesana?" batin Anin
Dengan sesegukan Anin melangkahkan kakinya keluar gerbang setelah memesan taksi online, Anin bahkan masih menggengam erat surat perjanjian yang Ia dapat.
Surat perjanjian yang telah Anna tukar dengan surat perjanjian yang Ia buat tanpa sepengetahuan pengantar paket. Sementara surat perjanjian asli telah Anna bakar untuk menghilangkan bukti yang akan menjadi bumerang untuknya.
Tiga puluh menit telah berlalu, akhirnya Anin sampai di hotel, diaman hotel yang sudah di desain begitu mewah dan menarik untuk acara siang nanti, dengan terburu-buru Anin melangkahkan kakinya mendekati kamar no 221 setelah keluar dari lift.
Tidak susah bagi Anin untuk menerobos masuk kedalam kamar hotel presidential suite tersebut. Karena Ia mempunyai kartu akses keluar masuk di kamar hotel tersebut.
Anin mebulatkan matanya setelah berhasil masuk kedalam kamar hotel tersebut
"Mas Kevin..............
-
-
-
-
-
__ADS_1
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.