
Kevin berencana keluar menghirup udara segar untuk menghilangkan kekacauan hatinya. Saat membuka pintu ia malah disuguhkan pemandangan yang sangat menarik.
Kevin melihat seorang pria bersama wanita seksi bermesraan memasuki kamar Anin. Kevin bisa menebak pria yang ia lihat adalah pacar Anin, tapi yang menjadi pertanyaan siapa perempuan itu?.
Kevin mengambil ponselnya, ia berencana merekam pembicaraan mereka, karena tidak bisa masuk kedalam kamar ia memasukkan ponselnya ke celah pintu kamar Anin.
Kevin menghampiri Anin di restoran kapal pesiar. Kevin berniat mengatakan apa yang ia lihat tadi, tapi ia mengurunkannya. Ia ingin Anin menangkap basah pacarnya. Tapi bagaimana caranya?
"Kenapa kamu belum makan?" Kevin duduk dihadapan Anin dan memakan makanan yang tersaji di meja. "jangan sia-siakan makanan." ucap Kavin sambil mengunyah makananya.
"Kenapa kamu memakan makanan yang di pesan pacarku?" kesal Anin.
"Jangan tunggu dia" ujar Kevin. "Makanlah!" pintanya menyodorkan makanan ke mulut Anin. Gadis itu menepis tangan Kevin karena kesal dengan sikap Kevin yang seenaknya.
"Makanlah yang banyak karena setelah ini selera makanmu akan hilang." ucap Kevin.
"Apa maksudmu?" tanya Anin mengerutkan keningnya.
"Setelah makan ikutlah dengan saya." Ajak Kevin.
"Saya ada kencan dengan pacarku." tolak Anin.
"Cincin saya hilang". Kevin berbohong, mungking dengan begini Anin mau mengikuti keinginannya.
"Lalu untuk apa kau menemuiku?" tanya Anin. "jangan bilang kau menuduhku? aku tidak mungkin mengambilnya." ucapnya membela diri.
"Tapi sepertinya kau sangat suka cincin itu" Kevin Menyeringai
"Kau tidak lihat tadi? aku bersusah payah membantumu mengambil cincinnya. jadi, tidak mungkin aku mengambilnya." ucap Anin.
"Kalau begitu ayo kita geledah kamarmu." ucap Kevin. Ia mencoba mengajak Anin kekamarnya.
"Apa kamu harus melakukan itu?" tanya Anin kesal.
"Ya." ucap Kevin tak terbantahkan.
__ADS_1
-
-
-
"Silahkan geledah sesukamu!" Perintah Anin setelah membuka pintu kamarnya.
Anin mebulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Pacar yang sangat ia percaya dan cintai malah bermain dengan perempuan lain di dalam kamarnya sendiri, sementara ia di suruh menunggu di restoran.
Anin membuka mulutnya. "Vito." Teriak Anin.
Vito turun dari ranjang dan menghampiri Anin. Vito memegang kedua lengan Anin. "Aku bertemu dia di balkon kamar sebelah, aku meminta obat padanya karena perutku sakit." Dalil Vito.
"Tapi kenapa dia memakai pakaianku? dan membawanya masuk kekamarku?" tanya Anin.
"Pakaiannya basah karena ombak di balkon kamar sebelah." ucap Vito berbohong. "Kamu curiga padaku?" bentak Vito.
"Kenapa kamu tidak tanya padanya! kenapa meminjam baju sampai naik ke ranjang? dan kamar sebelah adalah kamarku." ucap Kevin yang sedang duduk santai di sofa. "Bagaimana kalian menjelaskannya?" tanya Kevin.
"Kau pikir Aku bodoh?" Kevin bangkit dari duduknya dan menghadang Jeny yang akan keluar kamar. Kevin mengambil ponselnya dan memutar rekaman suara.
Isi rekaman :
"Bagaiman kalau pacarmu datang kekamar ini dan menangkap basah kita?" tanya Jeny manja.
"Pacarku orang polos, penurut, dan mudah dikendalikan. Dia tidak akan melawan dan akan percaya apapun yang aku katakan." ucap Vito.
Rekaman berakhir.
Anin yang mendengar isi rekaman itu bagai tersambar petir di siang bolong. Anin berlari meninggalkan kamar menuju balkon kapal pesiar.
Anin tak kuasa menahan air matanya, ia menangis tersedu-sedu.
Kevin menghampiri Anin. "Menangislah! keluarkan semua kesedihanmu jika itu membuatmu lega." ucap Kevin yang berdiri di samping Anin.
__ADS_1
"Kamu benar aku memang bodoh. Aku menururi semua kemauannya agar bisa menyenangkan hatinya. Tapi jelas-jelas ia tidak pernah menyukaiku. Setiap hari aku berharap dan selalu menuggu agar semua orang bisa melihat kebaikanku. Tapi semua orang seakan-akan tidak pernah menganggapku ada dan tak terlihat. Saya seperti post-in not, setelah selesai digunakan, akan dibuang." ucap Anin terisak.
"Lihatlah dirimu memakai kacamata bulat, model rambut begitu jelek." Kevin memegang rambut Anin yang terkepang dua. "Beritahu aku pria mana yang akan menyukaimu?" ucap Kevin tanpa rasa bersalah.
"Apa yang kamu katakan memang benar, penampilanku sangat jelek dan juga payah dalam menilai pria." ucap Anin lirih dan menundukkan kepalanya.
"Oh iy." Anin mengangkat kepalanya. "pergilah jangan menemaniku disini. Tunanganmu pasti sedang menunggumu, jangan membuatnya kecewa.
"Saya menghiburmu tapi kau malah mengusirku." ucap Kevin.
"Kamu tadi menghiburku?" tanya Anin.
"Saya bukan hanya menghiburmu tapi juga menghibur diri sendiri." ucap Kevin.
"Apa maksudmu?" tanya Anin.
"Orangnya sudah pergi sebelum saya melamarnya." ucap Kevin.
"Pergi kemana?" jiwa kepo Anin mulai muncul.
"Eropa, dia ketua grub balet, dan grubnya ada urusan makanya dia meningalkanku." ucap Kevin.
"Sepertinya nasib kita sama. Sama-sama diperlakukan seperti post-in not oleh orang lain. Ditinggalkan dengan kejam." ucap Anin.
"Tapi kenapa kita bersedih? sementara mereka senang dan bebas?" lanjutnya.
"Siapa bilang kita akan bersedih? kamu beruntung bertemu denganku hari ini." Kevin menyunggingkan senyumnya. "Ayo kita pergi" Kevin menarik tangan Anin.
"Kemana?" tanya Anin.
"Balas dendam" ucap Kevin.
TBC
Jangan lupa dukungannya buat Author. Jangan lupa di vote, like, and komen.
__ADS_1