
"Mengetahui apa? Semua sudah terlambat Rea, kami sudah tahu kebusukan suamimu itu," ucap Tika dengan tatapan tajamnya yang mengarah kepada Raka.
Raka hanya diam, dia mendengar perkataan Ibu mertuanya. Apakah dia seburuk itu dalam pandangan Ibu mertuanya? tanya Raka didalam hatinya.
"Tidak! Suamiku tidak seperti itu."
"Kamu membela Raka?" tanya Santi.
"Kak Raka tidak bersalah, Amanda juga tidak bersalah. Aku lah yang bersalah di sini," ucap Rea.
Tangis Rea semakin deras saat dia mengumpulkan semua tenaga dan keberaniannya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada keluarganya.
"Jelas-jelas mereka bersalah Rea. Rea kamu itu cantik masih banyak laki-laki yang akan mencintai kamu dengan tulus, tidak seperti Raka yang sudah mengkhianatimu."
Tika bicara pada Rea dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Dia turut merasa sakit dengan apa yang dialami oleh putranya.
"Mama benar, di luar sana banyak sekali laki-laki yang bisa mencintai Rea lebih dari aku mencintainya. Apa aku begitu egois karena aku ingin memiliki Rea untuk selamanya?" ucap Raka dengan suara yang bergetar.
"Aku tidak bisa hamil," ucap Rea.
Tika dan Santi menatap Rea secara bersamaan. Perkataan Rea membuat dua wanita paruh baya itu terkejut sekaligus tidak percaya.
"A_apa kamu bilang?"
Tika meneteskan air matanya lagi, dia merasa sakit dan sesak di dadanya.
"Kecelakaan itu membuat aku kehilangan bayiku dan juga rahimku. Karena itu lah aku meminta kak Raka menikah dengan Amanda, aku yang memaksa mereka menikah," sambung Rea dengan tangis yang tanpa henti.
"Tidak mungkin?" lirih Santi.
Sama seperti Tika, Santi juga tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rea.
"Kenapa kamu melakukan ini, Rea? Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri?" tanya Tika.
Santi hanya diam sembari menatap Rea tak percaya.
"Kalian terus saja meminta cucu, aku tahu kak Raka juga menginginkan seorang anak dan aku juga sangat ingin sekali menimang seorang bayi."
Rea terus berbicara meski dia sudah kesulitan untuk berucap karena terlalu banyak menangis.
"Kalau kamu mengatakan yang sebenarnya kami tidak akan pernah meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa kamu berikan kepada kami," ucap Santi.
Raka memeluk Rea dengan penuh kasih sayang!
"Jangan menangis lagi Rea, aku mohon jangan menangis. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini," ucap Raka sembari mengusap air mata Rea yang tak pernah berhenti mengalir.
"Amanda adalah satu-satunya wanita yang mau menikah dengan suamiku. Bagiku dia adalah malaikat dalam hidupku, setelah dia melahirkan nanti, kak Raka akan memiliki keturunan meski bukan terlahir dari rahimku."
"Sayang, kamu ... maafkan Mama. Jika saja Mama tahu ini dari awal mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini," ucap Tika.
"Tidak perlu meminta maaf, Ma karena ini bukan salah Mama. Aku minta agar kalian memperlakukan Amanda seperti kalian memperlakukan aku karena dia juga istrinya kak Raka istri sahnya. Mereka menikah sah secara agama dan negara," ucap Rea.
"Rea, Mama gak tahu hati kamu terbuat dari apa sehingga kamu bisa melakukan ini. Meminta suamimu menikah dengan orang lain dan tinggal bersama denganmu di dalam satu rumah yang sama, membayangkannya saja hati, Mama sudah sesak," ucap Tika.
__ADS_1
...****************...
"Istirahatlah, Lisa."
Jasson membantu Lisa untuk berbaring di atas tempat tidur.
"Aku ada urusan sebentar. Kamu istirahat saja dan jangan pergi kemana pun," ucap Jasson pada Lisa.
Lisa menganggukkan kepalanya, lalu menarik selimut yang akan dia gunakan.
"Aku pergi dulu!" Jasson langsung pergi meninggalkan Lisa di kamar hotelnya.
Jika biasanya Jasson akan mencium kening Lisa saat dia akan pergi kemanapun, kali ini tidak. Jasson langsung pergi meninggalkan Lisa bahkan senyum pun tak Jasson suguhkan untuk istrinya itu.
Lisa menatap punggung laki-laki yang sudah menikahinya. Tanpa kata hanya ada air mata yang mengalir di pipinya, Lisa terus mencoba menguatkan dirinya dari musibah yang melanda dirinya.
...****************...
"Mai, aku langsung ke kantor ya," ucap Jhon setelah mereka selesai makan siang.
"Silahkan saja, aku pulang belakangan ya karena aku mau menemui temanku dulu. Boleh kan Jhon?" ucap Mai.
"Boleh, kenapa tidak."
Jhon mencium kening Mai lalu pamit pergi.
Sebuah senyuman manis di bibir Mai mengiringi kepergian suami tercintanya.
...****************...
Jasson melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia hendak pergi ke kantor Raka untuk menemui teman lamanya yang dia benci itu.
"Awas saja kamu Raka. Gara-gara kamu, aku jadi gagal punya anak, ali akan membuatmu tersiksa, aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia di atas penderitaan aku," gumam Jasson.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Jasson tiba di kantor milik Raka. Dia segera turun dari mobilnya dan bergegas memasuki area kantor!
"Raka!"
"Raka!"
"Dimana kamu? Aku tahu kamu ada di sini!"
Jasson terus berteriak sembari berjalan tanpa arah!
Dua orang satpam yang bertugas, tidak bisa menahan Jasson karena laki-laki itu terus memberontak bahkan dia tak segan memukul satpam itu.
"Pak Raka tidak ada di tempat. Tolong jangan buat keributan di sini," ucap salah satu satpam itu.
"Selain dari dia brengsek ternyata bos kalian itu juga pengecut. Katakan, dimana kalian sembunyikan laki-laki brengsek itu?" ucap Jasson.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Jhon yang baru keluar dari ruangan pribadinya.
"Gue mau ketemu sama Raka. Dimana lo sembunyikan dia?" tanya Jasson.
__ADS_1
"Pak Raka tidak ada. Dia sedang keluar."
"Bohong! Dia pasti bersembunyi. Kalian pasti menyembunyikan laki-laki brengsek itu."
"Untuk apa kami menyembunyikan Pak Raka. Dia memang tidak ada di tempatnya."
"Gue disini," ucap Raka yang baru tiba di kantornya.
Setelah selesai dengan masalah keluarganya, Raka segera kembali ke kantornya karena siang itu dia ada janji dengan rekan bisnisnya.
"Untuk apa gue bersembunyi? Gue bukan penjahat," sambung Raka.
Jasson menghampiri Raka dengan langkah cepat!
Bugh!
Jasson meninju perut Raka hingga Raka kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh ke lantai.
"Pak Raka!"
Jhon berlari menghampiri Raka! Dia hendak membantu bosnya itu.
"Ah," lirih Raka.
"Pak, Anda tidak apa-apa?" tanya Jhon.
Jhon hendak membantu Raka namun Raka menolaknya.
"Tidak. Saya tidak apa-apa," ucap Raka.
"Lo jangan bikin keributan di sini, kalau lo ada masalah sama gue. Ayo kita selesaikan masalah lo itu," ucap Raka pada Jasson.
"Gue akan bikin perhitungan sama lo karena lo sudah membunuh bayi gue. Lo yang menyebabkan Lisa keguguran," ucap Jasson.
"Jasson, lo punya mata gak? Jelas-jelas Lisa jatuh karena lo yang menarik tangannya."
"Gue akan laporkan lo ke polisi."
"Silahkan, Jasson. Gue gak takut karena memang gue gak salah."
Raka berjalan lebih dekat lagi dengan Jasson!
"Kalau gue mau, gue bisa laporin lo dan juga Lisa atas tindakan pemerasan. Lo tahu kan, istri lo itu sering pulang dengan membawa banyak belanjaan yang harganya sangat mahal bahkan kamu sendiri sebagai suaminya tidak pernah membelanjakan Lisa sampai puluhan juta."
Raka terus berucap sembari berjalan memutari Jasson! Sementara Jasson hanya diam dengan amarah yang makin memuncak.
Ingin sekali Jasson memukul mulut Raka yang berucap seperti itu tapi dia berusaha untuk tenang karena sebenarnya dia merasa memang ucapan Raka itu benar.
"Bagaimana jika Raka benar-benar melaporkannya ke polisi?" pikir Jasson.
Jasson tak ingin dipenjara atas kesalahan yang Lisa lakukan kepada Raka.
Bersambung
__ADS_1