Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Salah Tingkah


__ADS_3

"Kenapa?" Gita berdiri di belakang Kiran dengan tangan yang terlipat di depan dada. "Kenapa kau jadi salah tingkah seperti itu, Kiran?" lanjut Gita dengan memincing tajam.


"Mana ada!" Kiran menyangkal tegas. "Aku...aku..." kedua bola mata bergerak gelisah, otaknya sibuk memikirkan alasan yang tepat. "Kepalaku sedikit pusing! Kau tunggu saja aku di luar. Aku akan berganti pakaian sebentar. Sepuluh menit!" Kiran mengusir halus Gita.


Bibir Gita menipis akan senyum yang terulas. "Cepatlah! Aku tunggu kau di luar."


Gita keluar dari kamar tidur Kiran. Meninggalkan sahabatnya itu dengan menahan senyuman akan Kiran yang tertangkap salah tingkah.


"Bagaimana aku bisa berhadapan dengan Bara nanti?" kedua tangan Kiran menagkup wajahnya yang merona merah. "Sadar Kiran! sadar! Sekarang bukan saatnya kau memikirkan hal itu!" Kiran menepuk - nepuk wajahnya.


"Angkat dagumu, Kiran! Kali ini kau harus jual mahal dan buat Bara mengemis kepadamu untuk menebus kesalahannya!" Lanjut Kiran mensugesti dirinya sendiri.


...***...


Sesuai dengan niatan awal, Kiran kini mengangkat dagunya di hadapan Bara. Perempuan cantik yang tampil sempurna itu, bahkan tidak mau melepaskan kacamata hitam yang di kenakan sejak keluar dari Apartemen.


Kiran mengenakan pakaian yang serba merah, menunjukkan sisi berani dalam diri. T- shirt kasual berwarna putih polos di kenakan sebagai inner lalu chekered blazer berwarna merah dengan aksen putih kotak - kotak dari rumah mode ternama dunia, Chanel, menyempurnakan kemodisan seorang Kiran Aurelia Geovan. Rok span mini berwarna terang polos tanpa motif memamerkan kemulusan paha Kiran yang menyilang. Warnanya yang begitu cerah semakin menghidupkan kemulusan kulit paha Kiran yang seputih susu.


Bara menatap Dani. Sektretaris pribadinya itu berdiri tegak di sisi sofa yang di duduki oleh lelaki tampan itu. Aura menggelap datang menghampiri Bara saat kedua mata menangkap basah lirikan Dani yang mengarah pada Kiran.


"Bisakah Dani dan Gita keluar sebentar?" Bara memecahkan keheningan di ruang kerjanya.


"Apa?" Dani dan Gita menyahut secara serempak.


"Atau kau saja yang membicarakan masalah kontrak ambassador itu dengan Gita," titah Bara pada Dani. "Gita pasti sudah paham dan mengerti tanpa harus Kiran ikut andil, kan?" sambung Bara menatap Gita.


"Y-ya?" Gita tergagap. Tatapannya teralih pada Kiran yang duduk di kursi sebelahnya.


"Kenapa aku tidak ikut bersama dengan mereka?" Kiran menolak dengan hati yang penasaran. Perempuan itu masih canggung di tinggal berdua dengan Bara


"Ada hal pribadi yang ingin aku bicarakan padamu." kalimat datar dengan tatapan dingin Bara perlihatkan.


"Aku kesini bukan untuk membicarakan hal yang pribadi dengan anda, Tuan Bara!" Tolak Kiran tegas sambil melepaskan kacamata hitam yang di kenakan.

__ADS_1


"Tapi, aku ingin membicarakannya berdua saja denganmu." Bara menyahut cepat.


Bara kemudian berdiri dari duduknya. Bos eksekutif muda itu melepaskan jas yang di kenakannya hingga orang - orang di sekitarnya terheran. Dengan tatapan dingin Bara melangkah menghampiri Kiran lalu menutup keseksian paha Kiran dengan jas miliknya.


"K-kau...kau..? Apa yang kau lakukan?" Kiran tergagap, jiwanya terperangah mendapatkan sikap posesif dari Bara.


"Bisakah kalian keluar sekarang dan membicarakan kontrak ambassador itu?" kalimat datar keluar dari mulut Bara yang di tujukan pada Dani dan juga Gita.


"Mari Nona Gita, ikut saya keruangan saya," ajak Dani kepada Gita.


"Aku tinggal dulu ya, Kiran." sedikit canggung, Gita pamit pada Kiran yang menatap lekat - lekat Bara.


Kedua insan yang saling menyimpan perasaan tersembunyi itu langsung di tinggalkan berdua saja di ruangan kerja Bara. Keheningan terasa nyata di ruangan itu. Kiran dan Bara masih belum mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir mereka. Masih saling tatap dengan raut wajah yang datar.


"Apa yang kau lakukan?" Kiran memecahkan keheningan.


"Apa kau itu tidak risih di perhatikan oleh lelaki lain?" Bara balik bertanya.


"Kau sudah sarapan?" Bara acuh pada ucapan Kiran. Lelaki tampan itu kembali menduduki sofa yang tadi dia duduki.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Bar! Lelaki lain siapa yang kau maksud?" tanya Kiran yang mendesak. Kakinya yang menyilang turun, lalu memposisikan tubuhnya tegak dalam duduk.


"Dani. Tadi Dani sempat memperhatikan pahamu yang mulus itu," dengan menunjuk - nunjuk pada Kiran, Bara berucap kesal.


"Astaga! Apa - apaan Bara ini? Jadi Bara cemburu hanya karena Dani melihat kemulusan pahaku?"


Rona tersipu merah menyelimuti pipi Kiran akan hati yang bergetar mendengar kecemburuan dari Bara yang tak sengaja terucap. Di dalam batin Kiran yang menyambut baik kecemburuan dari Bara. Namun, perempuan cantik itu menutupi dari luar dengan dagu yang terangkat menunjukkan keangkuhan diri.


"Lalu? Apa hubungannya denganmu?" tanya Kiran usil.


"Ada, sangat ada!" Sahut Bara dengan penekanan kata. "Dengar Kiran Aurelia Geovan, kau adalah milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Jadi, jangan pernah mengubar sesuatu milikku terhadap lelaki lain!" Sambung Bara posesif.


"Oh my gosh, Bara! Buat gemas aja sih?" batin Kiran yang kegirangan

__ADS_1


Bara kemudian bangkit dari duduknya. Lelaki tampan berlesung pipi itu masih di selimuti oleh rasa cemburunya dan berjalan menuju ke arah meja kerja lalu meraih sesuatu di atas meja kerja.


Hati Kiran berdesir melihat begitu karismatik dan wibawanya Bara mengenakan setelan resmi kantor. Kemeja putih di padukan dengan rompi yang berwarna hitam. Lalu celana formal hitam yang berwarna sama dan di sempurnakan dengan sepatu pantofel hitam mengkilap yang Bara kenakan menjadikan lelaki itu visual sempurna seorang Bos eksekutif muda.


Hati Kiran luluh lantah. Belum lagi aroma parfum Christian Dior Sauvage Man yang Bara kenakan menyeruak masuk kedalam hidung Kiran. Aroma pepper dan calabrian bergamot yang menyatu memabukkan perempuan cantik yang tak berkedip melihat Bara.


"Konsumsi ini!" Bara meletakkan sebotol vitamin di atas meja. "Aku dengar produksi ASi-mu itu menurun. Katanya vitamin ini bisa di konsumsi untuk ibu yang sedang menyusui dan menjadi booster yang terbaik untuk meningkatkan produksi ASI." sambung Bara begitu lancar.


"O..oh! Terima kasih," sahut Kiran yang sempat tergagap. Lamunannya terbuyar oleh penjelasan dari Bara hingga membuat perempuan cantik itu menjadi salah tingkah.


"Bisakah aku bertemu dengan Arkana malam nanti? Aku sangat merindukan anak kita?" tanya Bara penuh harap.


"Kau ingin bertemu dimana?"


"Bertemu dimana?" Bara mengulang pertanyaan Kiran. "Sudah pasti di Apartemenmu, Kiran? Kenapa? Apa kau tak mengijinkan aku untuk datang ke Apartemenmu itu?"


"Bukan! Bukan seperti itu. Aku hanya sedikit tidak nyaman jika....."


"Malam nanti aku akan tetap datang ke Apartemenmu. Suka atau tidak aku akan tetap datang kesana!" Sela Bara cepat. "Jadi, tak ada kata tidak!" Sambungnya tidak ingin di sanggah.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2