Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Posesif


__ADS_3

"Nona akhirnya Saya bisa bertemu dengan Anda" ucap pria yang baru saja datang, pria itu tak lain adalah manajer di rumah baca, dan yang pria itu tahu, Anin adalah pemilik desain rumah baca ini dan sekaligus investor pembangunan rumah baca tersebut.


"Anda kenal saya?" tanya Anin mengerutkan keningnya sehingga kedua alisnya saling bertautan.


"Tentu saja nona, dan terimakasih atas semua yang Anda lakukan, berkat Anda anak-anak mempunyai tempat bermain dan juga belajar." ucap manager tersebut semakin membuat Anin bingung dan Kevin hanya diam saja tanpa ekspresi namun terus mengengam tangan Anin.


"Nona Saya tidak menyangka anda secantik ini" puji manajer tersebut tanpa takut dengan tatapan Kevin, karena manajer tersebut tidak kenal dengan Kevin, karena Kevin selalu bekerja di belakang layar, bahkan sulit bagi seseorang untuk menemukan identitasnya sebagai CEO Adhitama Grub kecuali orang-orang penting.


"Anda sendikit berlebihan pak, kalau begitu Saya pamit dulu" Anin memutuskan untuk meninggalkan rumah baca, saat merasakan ngengaman Kevin di tangannya semakin erat apa lagi saat Anin tersenyum pada Pria di hadapannya.


"Tunggu nona" manajer tersebut menarik tangan Anin yang satunya lagi saat Anin akan pergi.


Kevin menatap tajam pria di hadapannya dan mengeraskan rahangnya saat melihat tangan pria itu menyentuh istrinya, dada nya begemuruh ingin rasanya Ia memukul pria di hadapannya jika saja tidak ada anak-anak. "Lepaskan tanganmu dari tangan istriku jika kau tidak ingin kehilangan tanganmu itu" ucap Kevin penuh tekanan.


Anin segera menepis tangan tangan pria itu, sementara manajer tersebut sudah pias melihat tatapan membunuh Kevin.


"Mas Kita pulang ya?" bujuk Anin memeluk lengan kekar Kevin dan mengelusnya dengan lembut.


Anin tidak ingin ada keributan di tempat ini, dan Kevin masih berhutang penjelasan tentang rumah baca tersebut.


"Mas Kevin marah sama Aku?" tanya Anin karena sedari tadi Kevin tidak membuka suara dan hanya mengemudikan mobilnya.


"Aku tidak marah padamu sayang, Aku hanya kesal jika seseorang menyentuhmu" ucap Kevin datar.


"Mas percayalah, Aku tidak akan berpaling darimu karena Aku sangat mencintaimu" Anin bergelayut manja di lengan kekar suaminya.


"Aku tahu itu sayang" Kevin mengecup kening Anin sekilas.


"Mas Kevin Kita mau kemana lagi?" tanya Anin.


"Kamu mau nya kemana?"


"Aku hanya ingin pulang ke penginapan, Aku rindu dengan pantai di belakang penginapan mas"


"Baiklah, mungkin dengan begitu Kamu tidak dapat di lirik dengan pria." Kevin mengelus lembut tangan Anin

__ADS_1


"Ais suamiku kenapa posesif sekali" goda Anin membuat senyum di bibir Kevin terbit.


"Itu karena Aku sangat mencintaimu sayang, Aku tidak ingin Kamu pergi dari kehidupanku lagi."


"Itu tidak akan terjadi mas, Aku janji" Anin melepaskan pelukannya dari lengan Kevin dan memperbaiki cara duduknya.


"Kok dilepasin?" Kevin cemberut dan itu membuat Anin semakin gemas.


"Aku tidak ingin menganggu mas Kevin menyetir itu berbahaya untuk kita" ucap Anin menyandarkan kepalanya kesadaran kursi mobil.


"Kamu lelah?" tanya Kevin.


"Aku hanya pusing sedikit saja." Anin masih menutup matanya.


Mendegar jawaban Anin, Kevin tiba-tiba menepikan mobilnya. Membuat Anin membuka matanya kembali, dan kaget saat Kevin sudah ada di hadapannya menyentuh kening dan juga pipinya dengan tatapan khawatir. "Sayang Kamu sakit? kita kerumah sakit ya!" ucap Kevin.


Bukannya menjawab pertanyaan Kevin, Anin malah tertawa. "Mas Aku tidak apa-apa, kenapa Kamu begitu cemas? lihatlah wajahmu sangat lucu" Anin menangkup kedua pipi Kevin dan mengecup bibir Kevin sekilas.


"Apa kekhawatiranku ini Kamu anggap lucu ? apa Kamu tidak tahu ketakutanku begitu besar terhadapmu? dan Aku tidak ingin melihatmu untuk kedua kalinya masuk ke rumah sakit." batin Kevin.


"Mas, ini biasa terjadi jika Aku sedang mens sebentar juga sembuh." ucap Anin menengkan Kevin yang masih terlihat khawatir.


"Benar Kamu baik-baik saja? berjanjilah jangan menyembunyikan apapun dariku apa lagi itu tentang kesehatanmu!" Kevin menatap Anin dengan tatapan sendu.


"Aku janji" Anin mengembangkan senyumnya dan itu membuat Kevin sedikit tenang.


Sepuluh menit telah berlalu akhirnya mereka sampai di penginapan, pelayan menyambut mereka seperti biasa, dan seperti biasa juga Anin akan membalas sapaan mereka dengan senyuman yang begitu manis, dan Kevin jangan di tanya lagi, Ia memperlihatkan wajah dinginnya pada orang lain selain keluarganya dan juga Istrinya.


"Ah lega rasanya melihatmu seperti itu mas, bersikap dingin pada wanita manapun, dan itu membuatku merasa nyaman, kamu sungguh menjaga perasaanku" batin Anin.


"Kenapa senyum-senyum hah?" bisik Kevin merangkul pinggang Anin.


"Mas kamu mungkin cape istirahatlah, Aku akan kebelakang dulu menikmati senja di pingir pantai." ucap Anin dan melepaskan rangkulan Kevin.


Kevin kembali mengeratkan rangkulannya di pinggang Anin. "Besok saja ke pantainya, kepala kamu pusing kan jadi istrihatlah dulu."

__ADS_1


"Tidak mau, Aku ingin menikmati senja di pinggir pantai" Anin mengerucutkan bibirnya.


Setelah perdebatan yang cukup panjang dan seperti biasa Anin lah yang menang, jadi Kevin ikut ke pantai menemani Anin, takut Anin akan di goda oleh pria-pria pengunjung penginapan yang juga ada di pantai.


Anin menyusuri pinggir pantai di temani dengan sang suami yang tidak pernah melepaskan gengaman tangannya sedari tadi, Anin mengurai rambutnya membiarkan angin pantai menerpanya. mereka bersenda gurau dan kejar-kejaran seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


"Mas kenapa pria tadi bisa mengenaliku?" Anin memulai pembicaraan. "Dan kenapa pria itu mengira Aku adalah salah satu investor rumah baca itu?" tanya Anin namun tatapannya fokus ke pantai menikmati ombak kadang pasang kadang surut seperti hubungan mereka.


"Aku kan pernah bilang padamu saat Kita pertama kali bertemu di Beijing, bahwa selama Kamu meninggalkanku, Aku berusaha mewujudkan semua impianmu, dan salah satunya rumah baca itu, dan Aku berinvestasi atas namamu." jawab Kevin singkat padat dan jelas.


Kevin menunggu reaksi Anin, Kevin mengira Anin akan meloncat kegirangan seperti biasanya dan mengatakan cinta padanya. Namun sepertinya itu semua hanyalah angan semata.


"Apa Aku salah bicara?" batin Kevin.


"Sayang apa Kamu bahagia? apa Kamu senang?" tanya Kevin namun Anin tetap tak bergeming dan pandangannya masih lurus kedepan.


Kevin yang juga menatap lurus kedepan segera mengalihkan pandangannya saat mendegar isakan Anin. "Sayang Kamu kenapa? apa perkataanku menyakitimu?"


"Apa Kamu pikir selama berpisah denganmu Aku bahagia dan hidup dengan senang?" isakan Anin semakin terdengar.


"Apa yang Aku lakukan sehingga penyakitnya kambuh lagi? apa perkatanku mengingatkannya tentang masa lalu?" batin Kevin


"Selama ini Aku berusaha tegar dan juga terlihat bahagia didepan semua orang, Aku bersikap seperti ini karena hanya ingin membuktikan padamu, bahwa Aku bisa hidup dengan tenang dan bahagia tanpamu, tapi saat Aku mulai melupakan semuanya Kamu tiba-tiba muncul begitu saja dan membuka luka lama yang selam ini Aku sembunyikan." isak tangis Anin semakin pilu terdengar di telinga Kevin.


Dada Kevin bergemuruh mendengar isak tangis Anin yang begitu memilukan baginya, tanpa terasa air mata Kevin jatuh membasahi pipinya seakan merasakan kepedihan dan penderitaan yang di alami Istrinya. Kevin menarik Anin kedalam pelukannya untuk menenangkan Anin dan tidak menjawab pertanyaan maupun bentakan Anin padanya. Kevin hanya perlu cukup mengerti karena setelah Anin kembali normal Anin akan melupakan semua apa yang di katakannya barusan.


-


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


__ADS_2