Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Rencana Anna 2


__ADS_3

Setelah menemui Tari, Anin ke apartemen Kevin tanpa sepengetahuan Kevin. Anin sengaja datang sore untuk menyiapkan makan malam untuk Anna.


Sesampainya di apartemen, Anna menyambut Anin seperti biasa, Anin meletakkan tasnya di sofa dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan bahan-bahan yang Ia perlukan, Anin begitu antusias menyiapkan semuanya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya, Ia sangat bahagia hari.


"Sepertinya Kamu sangat bahagia" Anna memulai pembicaraan tanpa mengalihkan pandangannya pada ponsel yang sedang Ia genggam.


"Sangat kelihatan ya?" tanya Anin masih dengan senyumannya.


"Aku harus memanggilmu apa?" kini suara Anna mulai terdengar dingin.


"Maksud Anda?" Anin belum menyadari perubahan Anna.


"Apa Aku harus memanggilmu Anin atau nyonya Kevin?" Anna mengalihkan pandangannya dan menatap tajam ke arah Anin.


"Ka....Kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Anin gugup, tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, Ia tahu Anna pasti sangat tersakiti setelah mengingat semuanya.


"Iya Aku sudah mengingat semuanya, atau lebih tepatnya Aku tidak pernah lupa dengan itu" Anna senyum sinis dan melangkahkan kakinya mendekati Anin.


"Aku minta maaf" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Anin.


"Apa permintaan maaf mu itu tulus dari hati hah? apa Kamu pikir dengan meminta maaf Kamu bisa mengembalikan segalanya?" bentak Anna dengan tatapan yang begitu tajam.


"Aku tidak bermaksud merebut Kevin darimu" Anin membela diri.


"Jika Kamu memang tidak berniat merebut Kevin dariku, kenapa Kamu mau melahirkan anak yang ada di dalam kandungammu hah?" lagi- lagi Anna membentak Anin.


"Bukan maksudku seperti itu, dari awal Aku tidak pernah berniat merebut Kevin darimu, Aku bahkan menandatangani surat perjanjian perceraian, hari dimana Aku melahirkan, itu adalah hari di mana Kevin menceraikanku" jawab Anin.


"Tapi yang di katakan Kevin berbeda denganmu" ucap Anna yang mengingat kembali pertengkarannya dengan Kevin, dan Kevin mengatakan tidak bisa bersama Dia lagi karena Ia mencintai Anin dan ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Ak....Aku" lidah Anin terasa kelu, Ia benar-benar tidak mampu mengelurkan sepatah katapun.


"Setelah anak itu lahir, apa Kamu benar-benar akan meninggalkan Kevin?" kini nada suara Anna melemah namun masih dengan kemarahan.


"Ak....Aku tidak bisa meninggalkan Kevin, Aku ingin melahirkan anakku dengan selamat, Kami bertiga ingin hidup bahagia" Anin memberanikan diri melawan Anna untuk mempertahankan posisinya, bagaimanapun Ia berhak bahagia bersama Kevin, Ia baru menyadari bahwa Ia tidak salah selama ini.


"Cukup" nada suara Anna naik satu oktaf. "Wanita yang di cintai Kevin hanya Aku, kalian menikah hanya karena Kevin ingin bertanggung jawab padamu dan juga baby yang ada di dalam kandunganmu, setelah anak itu lahir, mau Kamu ada atau tidak itu tidak masalah bagi Kevin. Apa Kamu berfikir Kamu bisa mengantikanku yang sudah menjalin hubungan begitu lama dengan hubungan singkatmu dengan Kevin hah? jangan mimpi" Anna senyum sinis dan meatap jijik pada Anin.


"Bukan seperti itu, tapi Kevin yang mengatakan........"


Brak


Semua bahan-bahan yang telah Anin siapkan kini sudah berceceran di atas lantai akibat ulah Anna.


"Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan Kevin padamu, itu semua terjadi karena Aku tidak ada di sampingnya. Tapi sekarang Aku sudah kembali, dan semuanya akan kembali seperti dulu, orang yang paling di cintai Kevin adalah Aku, dan Kamu hanya seseorang yang singgah di kehidupan Kevin. Dia antara kalian hanya ada rasa tanggung jawab bukan cinta ingat itu." Anna benar-benar meyakinkan dirinya bahwa wanita yang di cintai Kevin hanya dirinya bukan Anin.


"Maaf kan Aku Anna, Aku mengatakan ini tulus dari hatiku. Dari awal Aku tidak pernah berniat merebut Kevin dari siapapun, namun sekarang Aku sadar mempertahankan rumah tanggaku tidaklah salah, dan Aku percaya Suamiku mencintaiku" ucap Anin yang juga ingin mempertahankan rumah tangganya dan juga cintanya. "Maaf karena Aku terlalu egois untuk yang satu ini" ucap Anin lirih.


"Kevin hanya milikku, Dia hanya mencintaiku, jika Kamu ingin bukti datanglah ke kafe xx, Aku akan memperlihatkannya padamu, Aku hanya ingin mengatakan ini padamu" Anna membisikkan sesuatu pada telinga Anin. "Jangan berharap terlalu tinggi, apa Kamu yakin Kevin akan memilihmu hanya kerena hubungan singkat yang kalian jalani ? jika di bandinhkan dengan hubunganku dengan Kevin yang sudah lama terjalin." Anna mendorong tubuh Anin kebelakang.


Untung saja Anin bisa mepertahankan kesimbangan tubuhnya jika tidak maka Ia akan terluka.


Setelah bertengkar dengan Anin, Anna menghubungi Kevin dan memintanya untuk betemu di kafe yang telah Ia sebutkan sebelumnya pada Anin jam tujuh malam.


Sementara Anin bejalan tak tentu arah setelah pergi dari aparteman Anna, kata-kata Anna terus memenuhi pikirannya, rasa takut kehilangan Kevin menyelimuti pikiran Anin untuk saat ini.


Sampai lamunan Anin buyar saat mendengar ponselnya berdering, dengan ragu Anin menjawab panggilan tersebut, tapi sebelum itu Ia berdehem untuk menetralkan suaranya agar tak terdengar bersedih.


"Ada apa?" tanya Anin setelah menjawab panggilan dari seseorang.

__ADS_1


"Aku sudah memperbaiki patung keramik yang di berikan master Long, apa Kamu punya waktu? apa Kita bisa bertemu?" tanya Dilan di seberang telfon, ya Dia adalah Dilan, sang panggeran yang selalu ada saat Anin jatuh terpuruk.


"Iya Aku ada waktu, tunggulah, Aku akan ke kantormu sekarang" ucap Anin, ya Anin berfikir dengan menghabiskan waktu bersama dengan Dilan, Ia mungkin sejenak akan melupakan masalahnya, lagi pula Dilan adalah pendengar yang baik dan juga penasehat yang bijak.


"Kamu di mana, Aku akan menjemputmu" ucap Dilan yang tidak ingin kejadian yang lalu terulang, dimana Anin basah kuyup karena menemuinya di kantor.


"Tidak perlu Aku bisa sendiri" Anin memutuskan sambungan telfonnya, jika tidak, Dilan akan memaksakan kehendaknya.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Anin sampai di kantor Dilan, Anin langsung saja menemui Dilan tanpa harus mengunjungi resepsioni terlebih dahulu, toh semua karyawan sudah pulang, karena sudah waktunya jam pulang kerja, hanya ada beberapa OB yang membersihkan di lantai bawah.


"Aku lama ya?" Anin mendudukkan tubuhnya di sofa setelah sampai di ruangan Dilan. Anin tidak begitu canggung pada Dilan, karena Ia sudah menganggap Dilan kakaknya.


"Tidak, Aku juga baru saja selesai dengan urusanku" Dilan menghampiri Anin sembari membawa kotak sedang yang berisikan patung keramik yang sudah Ia perbaiki.


Dilan membuka kotak tersebut, lalu mengeluarkan isinya dan memperlihatkannya pada Anin. "lihatlah patung ini kembali seperti semula, bahkan orang tidak akan menyangka jika patung ini pernah retak." ucap Dilan dengan senyumannya, Ia sangat bahagia karena bisa memperbaiki patung tersebut, dan Ia berharap Anin juga sama bahagianya dengan dirinya.


"Kenapa Kamu.............


-


-


-


-


-


TBC

__ADS_1


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2