
"Selamat Pagi, sayang." sapa Bara lembut saat kedua mata terbuka sempurna.
"Pulang!"
"Aku baru saja terbangun, sayang. Tapi kenapa kau malah mengusirku?" tanya Bara yang terheran.
"Kau sudah bisa tersenyum manis seperti itu tandanya kau itu sudah sembuh. Cepat pulang sekarang."
Kiran menarik Bara yang masih terbaring di atas ranjang tidurnya. Seluruh tenaga Kiran kenakan untuk bisa menarik tubuh gagah lelaki yang begitu enggan beranjak dari tempat ternyamannya itu.
Kiran kalah tenaga. Tanpa di duga dan tak terbaca, Bara malah menarik balik lengan Kiran. Hingga membuat perempuan kesayangannya itu jatuh di atas tubuhnya. Dengan gerakan sigap Bara langsung mengubah posisi dengan Kiran yang berada di bawah tubuhnya.
Kedua tangan langsung menahan lengan Kiran. Menguncinya agar tidak bisa memberikan perlawanan. Kedua kaki Bara pun sigap untuk mengunci kedua kaki Kiran dengan salah satu berada di tengah-tengah kedua belah paha Kiran.
"B-Bara? Kau... kau mau apa?"
Kiran tergagap. Tubuhnya mulai menegang dan mulai waspada pada sikap Bara yang sedang menindihnya. Kedua mata mengerjap - ngerjap akan rasa canggung yang menyelimuti.
"Kenapa kau mengusirku? Bukankah kita itu sudah berdamai?" Bara berbisik lembut dengan mengulas seringai.
"Kita memang sudah berdamai, tapi kita belum menyandang status resmi yang sah. Dan tidak baik bagi seorang laki-laki yang berlama - lama berada di kediaman seorang perempuan." jawab Kiran beralasan.
"Lalu, kenapa kemarin malam kau masih mengijinkan aku untuk menginap di sini?" tanya Bara semakim jahil dan menggoda Kiran.
"Itu karena.... karena... aarrgghhh! Kau itu menyebalkan!" Kiran bersungut-sungut marah. "Kau tahu sendiri jika kemarin malam kau itu masih lemah. Atau jangan-jangan kemarin malam kau hanya berpura-pura saja?" sambung Kiran menuduh.
Jantung Bara tersentak. Perempuan cerdas yang ada di bawah tindihannya itu begitu tepat menebak tingkahnya kemarin malam yang masih berpura - pura sakit demi kembali memilki alasan untuk menginap lagi di Apartemen Kiran. Demi memuaskan hati yang ingin kembali tidur bersama anak dan juga perempuan kesayangannya.
Bara bangkit menarik diri dari atas tubuh Kiran. Kiran yang terlepas dari penjara tubuh Bara langsung bergerak sigap untuk bangkit dan berdiri tegak.
"Ahh..., dadaku agak sakit!" Bara menepuk pelan dadanya, berpura-pura sakit untuk mengelabui Kiran. Lelaki itu menyempurnakan sandiwaranya dengan mengeluarkan suara batuk.
"CK! Akting kampungan!" Kiran berdecih lalu mencibir tingkah Bara yang sudah mudah terbaca.
"Kali ini aku sedang tidak berakting. Dadaku benar - benar sakit." Bara menyangkal tegas. Lelaki itu kembali mengeluarkan suara batuk yang di buat - buat dengan tangan yang menepuk pelan dadanya.
__ADS_1
"Terserah kau! Cepatlah mandi! Dan ganti pakaianmu!" Lirikan mata Kiran menunjuk pada stelan jas yang tergantung pada stand hanger.
"Siapa yang......."
"Dani yang mengantarkannya saat kau masih tertidur." Kiran menyela cepat. " Aku yang menyuruhnya untuk mengantarnya kesini?"
"Terima kasih, sayangku. Istriku ini ternyata perhatian sekali." ketulusan Bara yang di sempurnakan oleh senyuman manisnya.
"Aku belum sah menjadi istrimu, Bar!" Sahut Kiran kesal.
Perempuan cantik yang masih mengenakan stelan piyama itu melangkah kedua kaki menuju pintu kamar. Namun dengan sengaja memanggil Kiran mesra hingga kembali menyulut kekesalan perempuan cantik itu.
"Istriku...."
"Diam! Cepat mandi sana!" Titah Kiran kesal.
"Oh istriku....! Aku semakin mencintaimu." Bara semakin senang menggoda Kiran.
"Diam! Cepat mandi!" Teriak Kiran kesal, namun membawa tawa pada diri Bara.
Tawa bahagia tampak jelas terlihat jelas di wajah cantik Kiran. Satu telapak tangannya menagkup pipi yang terselimuti rona merah
sementara yang satunya sedang menempelkan handphone miliknya di sisi kiri telinganya.
Rona merah akan tersipu malu Kiran dapatkan saat perempuan cantik itu mengadukan kejadian manis kemarin malam pada Marsha melalui sambungan telepon yang di mulai dari dirinya.
Ucapan selamat dari Marsha langsung meluncur hingga terdengar dan mengisi telinga Kiran. Ucapan penuh ketulusan dan terselip doa khusus yang mampu menghantarkan senyar kegembiraan di hati Kiran. Hati Kiran mengembang bagaikan sebuah kuntum bunga baru yang mekar sempurna.
"Aku dan Arkana akan menemui Kak Marsha di cafe biasa. Jangan lupa ajak Miracle juga ya, Kak. Aku dan Arkana sangat merindukan bayi cantik itu. Aku juga akan menghubungi Viona untuk bertemu di tempat biasa."
lirikan Kiran teralihkan pada Bara yang berjalan menghampiri dirinya. Lelaki itu sudah rapi dengan setelan jas resmi kantor yang di kenakan.
"See you, Kak. Bye!" Kiran langsung memutuskan sambungan telepon setelah meminta ijin terlebih dahulu.
"Teleponan dengan siapa?" Bara posesif sambil mengecup lembut pipi Kiran.
__ADS_1
"Kak Marsha. Siang nanti aku sudah berjanji untuk bertemu dengan Kak Marsha dan Viona di kafe yang biasa kami kunjungi dulu." dengan nada hati - hati Kiran memberitahu.
"Apa tidak bisa di tunda besok saja?" Bara agak sedikit keberatan.
"Kenapa?" tanya Kiran yang penasaran.
"Siang nanti aku ingin mengajakmu dan juga Arkana ke suatu tempat. Tempatnya memang agak urgent dan sedikit menguji nyali." ucap Bara menakut - nakuti .
"Bicaralah yang jelas, Bar? Dan jangan bercanda!" Bentak Kiran yang merasa kesal.
"Aku sedang tidak bercanda. Tempatnya memang agak urgent dan sedikit menguji nyali bagiku. Jika siang nanti aku tidak segera mengajakmu kesana, bisa - bisa aku di keluarkan dalam daftar kartu keluarga." Bara begitu lancar memberitahu dengan nada yang bercanda yang mengajak Kiran untuk berpikir.
"Maksudmu, kau mau mengajakku dan juga Arkana pergi kerumah Om Anton dan Tante Lisa?" tanya Kiran memastikan.
"Kenapa kau masih memanggil mereka dengan sebutan Om dan Tante?" ucap Bara mengoreksi. "Yang benar itu Kakak Ipar dong, sayang. Kalau perlu kau bisa memanggil mereka dengan sebutan Papi dan Mami itu pasti akan seru. Kau adalah istriku. Jadi sudah sepantasnya kau memanggil mereka dengan sebutan seperti itu.
"Bar, aku belum menjadi istrimu! Berhenti memanggilku seperti itu!" Pinta Kiran tegas.
"Perkataan adalah doa, sayang. Jadi, anggap saja aku sedang meminta kepada sang pencipta untuk segera menjadikanmu istriku setiap kali aku memanggilmu seperti itu." Bara sungguh sangat pintar mencari - cari alasan. "Jadi, kau bisa menunda pertemuanmu dengan mereka, kan?" sambung Bara menuntut.
"Ya! Aku akan memberitahu mereka setelah ini." Kiran berakhir menyerah di karenakan hati yang sedang berbunga - bunga atas keseriusan dari Bara.
"Sarapanlah dulu. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu." Kiran mengajak Bara untuk beralih ke meja makan.
...******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.