
Hari ini Anin akan belajar berdansa dengan Elvan, dan kini mereka sedang menunggu Elvan di taman belakang rumah.
"Ibu sepertinya Elvan tidak bisa mengajari Anin hari ini, soalnya Elvan sedang sibuk di pabrik, banyak pesanan yang harus di selesaikan, makanya Dia turun tangan" jelas bibi Ajeng setelah menghubungi Elvan.
"Lalu siapa yang akan mengajari Anin berdansa?" tanya Oma Jelita.
"Siapa ya?" Ajeng berfikir.
Oma Jelita mengembangkan senyumnya, saat melihat seseorang tengah berlari-lari kecil menuju taman belakang dengan senyuman yang begitu menawan. "Aku sudah mendapatkan pasangan yang tepas" Oma Jelita terus menatapa Pria tersebut, hingga Pria itu berdiri di hadapannya.
"Ini Kado Oma" Dilan memberikan kado yang di bawanya.
"Kenapa cepat sekali? acaranya kan dua minggu lagi?" protes Oma Jelita namun tetap mengambil pemberian Dilan.
"Lebih cepatkan lebih bagus Oma" Dilan bela-belain ke cina hanya untuk membelikan hadiah untuk Oma Jelita.
"Dilan, bisa tidak Kamu bantu Anin belajar berdansa?" pinta Oma Jelita.
"Tentu saja Oma" Dilan mengembangkan senyumnya, Ia menghampiri Anin dan menguluekan tangannya.
Dengan sabar Dilan mengajari Anin beberapa gerakan dansa, walau Anin beberapa kali menginjak kaki Dilan. "Jangan kaku oke, ikuti saja gerakanku" Dilan senyum.
Sementara bibi Ajeng hanya menikmati pemandangan yang begitu romantis baginya, Ia mengambil ponselnya dan merekam gerakan-gerakan yang dilakukan Anin dan juga Dilan.
Setelah di rasa cukup, mereka menyudahi kegiatan tersebut. "Oma Dilan pamit dulu ya, sudah sore soalnya." ucap Dilan mengembangkan senyumnya dan mencium punggung tangan Oma Jelita dan berlalu pergi.
Setelah kepergian Dilan, Anin masuk kekamarnya untuk membersihkan diri
Ceklek
Anin keluar kamar mandi hanya menggunakan kimono sebatas lutut, kerena lupa membawa baju ganti kedalam kamar mandi.
"Ma....mas Kevin sudah pulang" Anin jadi gugup saat mendalati Suaminya tengah duduk bersantai di sofa dengan memainkan ponselnya.
"Kenapa Kamu kaget begitu? apa Aku mengagetkanmu" tanya Kevin yang masih duduk di tempatnya.
"Ti tidak" Anin berlari masuk kedalam ruang ganti baju.
"Kamu mau kemana buru-buru gitu, duduk sini" karena melihat raut wajah Anin yang memerah hanya karena Ia melihatnya memakau kimono, sebesit ide jahil hinggap di kepala Kevin.
__ADS_1
Anin masih tak bergeming di tempatnya, pikirannya sudah terfeling kemana-mana, jika Ia mendekat. "Tunggu apa lagi? ayo duduk di sini" Kevin menepuk-nepuk tempat di sampingnya.
Mau tidak mau, Anin melangkahkan kakinya secara perlahan mendekati Kevin yang tenga menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bagaimana dengan latihanmu? apa semuanya berjalan lancar?" Kevin melayangkan pertanyaannya setelah Anin duduk di sampingnya.
"Iya mas"
"Bagaimana kalau Kita menari seperti ini?" Kevin menyodorkan ponselnya kehadapan Anin dan memperlihatkan video pada Istrinya.
"Hah? tarian apa itu, apa mas Kevin serius menyuruh Aku melakukannya? jika Ia, akan ku pastikan bahwa Oma akan pingsan setelah melihatnya"
"Siapa bilang Kamu akan memperagakannya di depan orang? Kamu akan memperagakannya saat bersamaku saja" Kevin menyeringai.
"Jangan aneh-aneh deh mas, Aku mau pakai baju dulu" Anin berdiri dan hendak pergi, namun langkahnya kalah cepat dengan tangan Kevin.
Anin jatuh kepangkuan Kevin. "Bagaimana kalau Kita belajar menarinya sekarang saja?" Kevin lagi-lagi mengoda Anin.
"Mas lepaskan" Anin berusaha melepaskan diri dari pelukan Kevin, namun semakin Ia bergerak semakin erat pelukan Kevin pada tubuhnya.
Kevin mengelus perut Anin yang sudah membuncit "Kamu lihat sayang, Ibumu itu tidak ingin di sentuh oleh ayah" Kevin mendaratkan ciuman di perut Anin.
"Mas.." rengek Anin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ans yang bucinnya juga melewati batas, sekarang tengah membantu pacarnya cuci piring sembari bercerita banyak hal.
"Aku tidak menyangkan Tuan Kevin akan cepat luluh pada Anin" Tari benar-benar bahagia mendengar temannya juga bahagia.
"Iya Aku juga tidak menyangka Tuan Kevin akan jatuh cinta secepat itu pada Nona Anin, padahal dilihat dari sisi manapun, Anna adalah yang terbaik."
Tari menatap tajam Ans "Apa katamu hah?" kini suara Tari naik satu oktaf.
"Anna itu cantik, mempunyai kaki panjang yang indah, tubuh bak model, laki-laki mana yang tidak jatuh cinta padanya coba" Ans melanjutkan pujiannya, kerena belum menyasari tatapan pacarnya seperti singga yang siap menerkam mangsanya.
"Tapi Anin itu baik, polos dan juga penyayang, dan juga Dia tidak jelek-jelek amat, buktinya Tuan Kevin jatuh cinta" bela Tari.
"Oh iya, lalu bagaimana denganmu, kenapa Kamu bisa jatuh cinta padaku?" tanya Tari yang berhasil membuat Ans menghentikan pekerjaanya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kenapa Aku bisa mencintaimu, dan Aku juga tidak punya alasan untuk itu, tapi jika Kamu ingin mengetahui kekuranganmu Aku bisa mengatakannya dengan jujur." jawab Ans.
"Katakan apa kekuranganku !" ucap Tari dengan mimik wajah penasaran.
"Kekuranganmu itu, karena Kamu terlalu tangguh dan juga mandiri"
"Lah, kanapa Kamu mengatakan bahwa itu adalah kekuranganku? padahal orang lain mengatakan itu adalah kelebihanku" Tari mengerutkan keningnya.
"Bagiku itu adalah kekuranganmu, karena itu membuatku merasa tidak berguna menjadi pacarmu."
Tari semakin bingung dengan pembicaraan Ans.
"Jika Kamu itu tangguh dan mandiri, lalu apa gunanya Aku menjadi pacarmu, Aku ingin menjagamu, Aku ingin menjadi tempat sandaranmu. Tapi jika Kamu bersikap atau lebih tepatnya memaksakan diri agar terlihat tangguh, Aku merasa tidak berguna menjadi pacarmu."
"Ans Aku sungguh mencintaimu" Tari memeluk tubuh Ans. "Aku tidak akan berusaha lagi menjadi wanita tangguh, tapi jangan menyesal jika Aku menyusahkanmu."
"Aku tidak akan merasa Kamu menyusahkanku, Aku malah akan bahagia jika Kamu bersikap seperti itu." Ans membalas pelukan Tari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat akan berangkat ke kantor, Kevin melihat bibi Ajeng sedang membersihkan halaman rumah dan sesekali menari, membuat Kevin menghentikan langkahnya. "Kelihatannya suasana hati bibi sedang baik" tagur Kevin dengan senyumnya, ya semenjak Kevin menyatakan cintanya pada Anin, Ia mulai terbiasa menebar senyuman pada keluarganya dan sudah tidak kaku lagi pada keluarganya.
"Iya bibi sedang bahagia, apa lagi saat melihat video Anin saat latihan kemarin, gerakannya begitu indah" bibi Ajeng memperlihatkan video yang di ambilnya kemarin saat Anin latihan.
Kevin mengambil Alih ponsel bibi Ajeng, dan memperhatikannya dengan intens. Rahang Kevin mengeras, tatapannya berubah tajam, bagaimana tidak, Istrinya sedang berdansa dengan Pria yang selama ini membuatnya panas dingin jika melihatnya.
Kevin melempar ponsel bibinya sakin kesalnya.
"Kevin Kamu mau kemana?"
-
-
-
-
-
__ADS_1
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Vote, komen, dan like.