
Dengan penuh perjuangan dan juga usaha keras, akhirnya Anin bisa mendapatkan jam tangan tersebut, walaupun itu sangatlah sulit.
Anin pulang kerumah pada sore hari, dan langsung istirahat setelah membersihkan diri, lagi pula tidak ada yang harus Ia kerjakan, apa lagi semua penghuni rumah sedang tidak ada, Oma Jelita sedang liburan bersama dengan Elvan dan bibi Ajeng. dan akan pulang besok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini adalah hari spesial untuk pasangan Kevin dan juga Anin, karena hari ini adalah hari ulang tahun mereka.
Anin bangun pagi sekali untuk membuatkan bekal untuk Suaminya, karena lagi-lagi Kevin tidak ada waktu untuk sarapan dirumah.
"Ini sarapan nya mas" Anin memberikan kotak makan tersebut pada Kevin. "Oh iya, ada sesuatu juga didalamnya" Anin senyum.
Kevin mengambil kotak tersebut. "Tangan Kamu kenapa?" Kevin meletakkan kotak makan tersebut dan memeriksa tangan Anin.
"ini tidak apa-apa mas, hanya luka kecil saja" jawab Anin, Ia tidak sengaja melukai tangannya saat memotong sayuran.
"Lain kali kalau masak itu hati-hati" Kevin mencium tangan Anin yang terluka dengan lembut, membuat hati Anin menghangat.
"Aku pergi dulu ya" pamit Kevin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Anin Kamu sekarang ada dimana?" tanya Tari di seberang telfon.
"Aku ada dirumah, kenapa?" jawab Anin.
"Datanglah kerumah, Kita rayakan ulang tahunmu dirumah saja oke" pinta Tari. "Oh iya, apa Dilan sudah pulang?" lanjut Tari.
"Iya Dia sudah pulang, Dia baru saja menelfonku setelah sampai di bandara." jawab Anin.
"Benarkah? Dia menelfonmu setelah tiba di kota ini?"
"Iya" jawab Anin singkat.
"Aku rasa Dilan menganggapmu spesial deh, jangan lupa ajak dia kerumah oke" Tari memutuskan sambungan telfonnya tanpa meminta persetujuan Anin.
Ans yang sedari tadi menguping pembicaraan Tari, membuatnya sangat kesal, karena lagi-lagi Tari memulai aksinya untuk mempersatukan Dilan dan juga Anin.
"Astaga, Kamu benar-benar ingin membunuhku hah?" bentak Tari saat Ans berhasil mengagetkannya. "Kamu itu seperti hantu saja, yang muncul tiba-tiba, apa Kamu sedang mengikutiku?" celoteh Tari.
"Apa Kamu tidak salah? yang seharusnya bertanya itu Aku, apa Kamu segitu rindunya padaku hingga Kamu datang ke kantor ini" Ans menyeringai dan melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Aku datang kesini itu, karena Tuan Kevin menyuruhku, jadi tidak usah ke ke-gr-an jadi orang" Tari senyum sinis dan memasuki sebuah lift.
"Kenapa Kamu begitu plin plan jadi orang? Kamu marah jika Tuan Kevin kembali pada kekasihnya, namun mendukung hubungan Dilan dan Nona Anin, apa sebenarnya tujuanmu?" Ans ikut masuk kedalam lift.
"Tujuanku hanya satu yaitu membuat Anin hidup bahagia" jawab Tari acuh.
"Teman macam apa Kamu ini, menjerumuskan temannya kedalam sebuah dosa dengan menjodohkannya dengan Pria lain sementara temannya sudah mempunya Suami."
"Buat apa harus bertahan dalam sebuah pernikahan, jika tidak ada kebahagian didalamnya, dan hanya penyiksaan batin yang Kita terima, apa lagi saat mengetahui bahwa Suaminya mempunyai wanita lain."
"Aku yakin Tuan Kevin mempunyai rencana di balik semua ini, jadi tidak usah menghakimi seseorang sebelum Kamu tahu dengan jelas kebenarannya."
"Apa Kamu salah minum obat?" tanya Tari.
"Obat?" ulang Ans mengerutkan keningnya.
"Tumben mulutmu itu mengeluarkan kata-kata yang bijak" ejek Tari.
Ting
Pintu lift terbuka, Tari melangkahkan kakinya keluar dari ruangan berukuran kecil itu setelah menginjak kaki Ans begitu keras.
"Sit." umpat Ans "Ternyata kakinya yang kecil itu, jika menginjak sakit juga" Ans meringis kesakitan dan kembali memencet tombol lift menuju lantai tertinggi di mana ruangan Tuannya berada.
"Baik Tuan" Ans mengeluarkan satu per satu kotak yang ada di dalam paper beg. "Tuan sepertinya Tari mulai bereaksi untuk mempersatukan Nona Anin dan Dilan, apa lagi akhir-akhir ini Dilan sering menemui Nona Anin baik di rumah maupun di luar rumah" lapor Ans.
Kevin mendengus kesal saat mendengar penjelasan Ans, menyandarkan tubuhnya agar sedikit rileks
"Tuan makanannya sudah siap"
"Makanlah, Saya sudah tidak bernafsu lagi" jawab Kevin ketus.
"Tuan" Ans memberikan sebuah kotak berukuran kecil yang Ia dapatkan di dalam paper beg tersebut.
"Aku tidak membutuhkannya, pergilah"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kevin mendatangi museum Dilan
"Maaf Tuan, Pak Dilan nya sedang keluar," ucap sekretaris Dilan.
__ADS_1
"Saya Akan menunggunya" ucap Kevin dan mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa yang terdapat di dalam ruangan kerja Dilan.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Dilan datang juga.
"Pak, Tuan Kevin sedang menunggu Anda di dalam" sekretaris Dilan memberikan hormat saat atasannya saat akan memasuki ruangannya.
"......" Dilan hanya mengangukkan kepalanya.
Dilan mengembangkan senyumnya dan ikut duduk di hadapan Kevin.
"Tuan Kevin, ada apa Anda menemuiku?" tanya Dilan masih dengan senyumannya.
"Apa Kamu belum mendapat pelajaran setelah kejadian kemarin, Anin harus bertanggung jawab atas pingsan nya Direktur, tapi Kamu terus menganggunya."ucap Kevin dingin.
"Apa Kamu tidak tahu bahwa Dia adalah....."
"Saya tahu bahwa Anin adalah Istri Anda, atau lebih tepatnya seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan Istri Anda, karena telah menandatangani perjanjian perceraian bukan?" ucap Dilan dengan santainya.
"Dari mana Kamu tahu itu? siapa yang memberitahumu?" tanya Kevin dengan ekspresi datarnya.
"Kenapa? apa itu membuat Tuan Kevin malu? karena rahasianya di ketahui orang lain?" Dilan senyum sinis, ingin rasanya Ia melayangkan tangannya ke wajah angkuh Pria dihadapannya untuk membalas rasa sakit Anin.
"Tidak ada yang tahu masa depan itu seperti apa, tapi yang pasti sekarang adalah Anin masih Istri Saya. Anin adalah wanita polos dan juga lugu, asalkan seseorang berbuat baik padanya, Ia akan percaya begitu saja, walaupun orang itu membohonginya dan berniat menyakitinya." jelas Kevin.
"Kamu benar Dia adalah wanita yang sangat polos, bahkan keinginannya hanya satu, yaitu memiliki keluarga yang bahagia. Setelah Dia menikah denganmu, Dia memprioritaskan keluargamu, bukan Oma saja bahkan bibi Ajeng dan juga Elvan mampu Ia ubah. Lalu bagaimana denganmu? adakah rasa terimakasih Kamu padanya?" Dilan benar-benar bisa membuat Kevin membisu dengan kata-katanya.
"Pada akhirnya Kamu lah yang paling menyakiti Anin begitu dalam, lalu untuk apa Kamu membelanya?" Dilan senyum sinis.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang hubungan Kami, jadi tidak usah banyak berkomentar."
"Ya Saya tidak banyak tahu tentang hubungan kalian, yang Saya tahu adalah, Anin akan merayakan ulang tahunnya seorang diri karena Suaminya tidak bisa menemaninya dan lebih memilih merayakan ulang tahunnya dengan kekasihnya" lagi-lagi Dilan senyum sinis.
"Mau tidak mau Saya harus menemuinya, lagi pula Saya sudah memberitahu Anin, dan Dia tidak keberatan sema sekali" jawab Kevin.
"Bukankah..........
-
-
-
__ADS_1
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberika vote, komen, dan juga like.