
"Dani!" Teriak Bara memanggil asistennya dengan nada yang membentak. " Singkirkan perempuan ini dari sini! Kedatangan hanya mengundang lalat masuk hingga mencemari udara di kantorku ini!"
Habislah Celina. Bara sudah benar - benar merasa jijik hingga menganggap artis cantik itu bagaikan sampah hingga dapat mengundang binatang yang suka mengerubungi pada tempat kotor itu.
"Jika mencabut nyawanya hanya akan mengotori tangan kita saja!" Bara mengulas senyum ironi. "Lebih baik jadikan dia orang yang tidak berguna di muka bumi ini. Agar tidak di terima di tempat manapun kakinya berpijak hingga dia sendiri yang akan memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia memang pantas menerima rasa sakit yang tadi dia berikan kepada Kiranku."
Celina tak lagi berlari. Kedua kakinya tak lagi memiliki tenaga untuk berjalan apalagi untuk berlari. Kata - kata menakutkan dari lidah tajam Bara sukses menghantarkan rasa ketakutan yang luar biasa pada Celina. Menyelimuti seluruh tubuh dan jiwa hingga membuat sekujur tubuh Celina bergetar.
Nyali Celina menciut. Kemewahan hidup yang selama ini susah payah di raihnya kini terbang tak lagi berada di genggaman. Penyesalan lalu datang menghampiri namun percuma untuk di ratapi.
"Dan satu lagi yang harus kau dengar, Celina. Kiran itu tidak pernah merebutku dari perempuan lain. Justru akulah yang sudah datang mengusik kebahagiaannya bahkan sedang mengemis cinta kepadanya. Dulu Kiran memang pernah mengejar - ngejar cintaku. Tapi, Kiran tak pernah sekalipun merendahkan diri bahkan tak pernah menyerahkan dirinya padaku. Tubuhnya yang suci akulah yang merebutnya dengan cara paksa." ucap Bara yang membersihkan nama Kiran yang ada di pikiran Celina.
"Lakukan semua yang aku perintahkan, Dani! Karena aku orangnya tidak sabaran. Dan setelah kalian mengusir dia dari sini, tolong seisi kantorku ini di semprot oleh pengharum ruangan. Aku tidak mau udara di kantorku tercemari oleh udara yang bau!" Titah Bara dengan menyindir kasar dan tak berperasaan.
...***...
Kiran kini sedang duduk di atas sofa. Tangannya masih bergerak menempelkan handuk kompres yang Gita berikan.
Tatapan Kiran kosong tak terbaca lurus pada dinding kaca raksasa yang menampakkan view atap - atap gedung bangunan. Kiran yang sedang melamun, mengusik perhatian dari Gita yang sejak tadi terabaikan di sisi sebelahnya.
"Kau sedang memikirkan apa? Apa kau memikirkan apa yang Bara dan Celina sedang lakukan? Atau kau sedang memikirkan bagaimana caranya untuk balas dendam atas perbuatan Celina kepadamu tadi?" mulut Gita mulai bawel.
"Itu hanya akan membuang waktuku saja, jika aku memikirkan hal yang tidak berguna seperti itu. Bara sudah pasti akan turun tangan membereskan aktris yang karirnya semakin terancam itu. Karena Bara itu mencintaiku jadi sudah pasti dia akan membelaku." Kiran dengan santainya menjawab rasa penasaran Gita.
"Kiran!" Teriak Gita yang terperangah.
Kiran memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan mata yang menyipit, seolah-olah tengah berpikir keras.
"Hei, Gita? Tidakkah kau berpikir jika Bara itu semakin tampan?" tanya Kiran tiba - tiba yang semakin mengguncang pikiran Gita.
"Oh astaga, Kiran! Kau masih sehatkan? Enggak lagi demam,kan?" Gita kini sedang sibuk memeriksa suhu tubuh Kiran dengan menyentuh - nyentuh wajah Kiran. "Bagun Kiran! Bangun! Kau tidur, ya?" sambungnya yang masih tidak percaya akan ucapan dari Kiran tadi.
"Apa - apaan sih Gita?"Kiran menepis - nepis tangan Gita yang menggerayangi wajahnya.
__ADS_1
"Apa kau sadar, apa yang tadi kau ucapkan Kiran?" tanya Gita memastikan lagi.
Kiran menghela nafas sejenak kemudian berkata. "Aku hanya jujur kepadamu saja. Karena kemarin Bara sudah melamarku."
"A-Apa?" teriak Gita yang sudah terkesiap luar biasa.
"Aku hajar kau, jika berteriak seperti itu lagi!" Kiran menggertak Gita dengan berancang-ancang ingin memukul. "Arkana nanti bisa bangun jika kau berteriak seperti itu!"
"Ma- maaf! Tadi aku kelepasan." Gita merapatkan bibirnya, lalu memukul - mukul bibirnya, dan memberikan hukuman pada bibirnya yang sudah membuat keributan tadi.
"Sekarang, ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin malam?" lanjut Gita penasaran.
"Bara melamarku dan memberikan aku waktu selama tiga hari untuk berpikir." tatapan Kiran kembali terarah pada dinding kaca raksasa.
"Lalu, apa keputusanmu?" tanya Gita lebih lanjut.
"Aku rasa Bara sudah benar-benar berubah. Bara begitu tulus mencintaiku. Bara juga benar - benar menderita selama aku lari dari jangkauannya." Kiran menyatakan isi hatinya kepada Gita.
"Bara sudah mengatakan, kalau aku adalah miliknya. Sudah berarti dia akan bertanggung jawab. Tapi.... tapi..., aku malah lari." suara parau Kiran bergetar saat kembali menyalahkan diri sendiri.
"Aku mengerti perasaanmu, Kiran. Tak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Lebih baik kalian bersama - sama memperbaiki hubungan kalian demi kebaikan Arkana." Gita menjadi penasehat terbijak dalam kegalaun hati Kiran saat ini.
"Tapi, apakah aku masih pantas. Setelah semua keegoisanku?" tanya Kiran yang seketika meragu pada keputusannya.
...***...
Tok..Tok .. Tok...
"Bu Kiran, Pak Bara datang. Beliau menunggu di ruang tamu." Mbak Dewi memberitahukan kedatangan Bara.
"Oh, iya. Aku akan keluar sebentar lagi." jawab Kiran dari depan meja rias sembari merapihkan rambutnya.
Kiran masih berada di depan meja rias, setelah Mbak Dewi menutup daun pintu kamar. Perempuan cantik itu merapihkan diri, menatap bayangan dirinya berada di dalam cermin.
__ADS_1
Sejenak kedua tangan Kiran menyentuh dada dengan merasakan debaran jantungnya yang berirama lebih cepat. Lalu menangkup wajahnya yang merah merona.
Ya, Kiran sedang gugup. Karena situasi yang di rasakan oleh Kiran saat ini seperti pertama kalinya bertemu dengan Bara. Debaran jantung cepat yang tak beraturan. Napas yang juga ikut - ikutan tidak merasa tenang, dan berkali-kali untuk mencoba menghela nafas lembut berharap kegugupan bisa lenyap dari diri.
"Rileks Kiran, jangan gugup! Semangat!" Kiran mensugesti dirinya sendiri pada bayangan diri dari dalam cermin.
Kedua kaki mulai bergerak. Langkahnya menuju ke arah pintu kamar, lalu tangannya melakukan tugasnya untuk membuka lebar agar tubuh bisa enyah dari ruangan kamar tidur itu.
Berjalan dengan senormal mungkin dengan langkah kaki yang menunjukkan kelegaannya. Kedua kaki yang mengenakan sandal rumah dengan karakter minnie mouse itu terhenti pada ruangan yang di tuju.
"Aku agak kemaleman datang. Mbak Dewi bilang kalau Arkana sudah tidur," sapa Bara saat kedua mata bersirobok dengan kedua mata Kiran.
"Karena kekenyangan setelah menyusui, Arkana langsung tertidur." Kiran menceritakan singkat kronologinya.
Bara bangkit dari duduknya. Kedua kaki melangkah menghampiri Kiran hingga terhenti berdiri sejajar.
"Apakah masih sakit?" jemari Bara menyentuh lembut pipi Kiran yang tadi tersakiti karena tamparan dari Celina.
"Sudah tak begitu sakit. Aku sudah mengompresnya tadi." tatapan Kiran menunduk, tak berani dalam - dalam membalas tatapan Bara.
...*******...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1