
Kevin yang tersadar akan perbuatannya, segera menarik Anin kedalam pelukannya dan kali ini tidak ada penolakan dari Anin. Hati Kevin begitu teriris sakit namun tak berdarah, melihat wanita yang sangat Ia cintai, wanita yang beberapa hari ini terlihat kuat, sekarang sedang menagis pilu di dalam pelukannya. Kevin benar-benar menyesali perbuatannya yang tega membentak Anin.Kevin benar-banar tidak tahu bahwa wanitanya begitu tersakiti sehingga membuatnya trauma seperti ini.
"Sayang maaf kan Aku, Aku tidak bermaksud membentakmu tadi" Kevin mengelus rambut gelombang Anin. "Maaf kan Aku, karena tidak tahu, bahwa Kamu selama ini menderita karenaku"
"Mas Kevin Kamu jahat." isak Anin memukul-mukul dada bidang Kevin, dan Kevin tidak memperdulikan itu.
"Sayang ini semua salah paham, Aku tidak pernah menghianatimu, apa lagi kembali pada Anna, Aku hanya mencintaimu dan akan tetap seperti itu. Dan tentang surat perjanjian itu, ya Aku memang menambahkan beberapa poin, tapi bukan seperti yang Kamu terima. Surat perjanjian yang Kamu terima telah di palsukan oleh Anna. Anna yang merencanakan semua ini, Dia ingin membuatmu salah paham padaku, dan membuatmu pergi meninggalanku" Kevin menjelaskan semuanya pada Anin dengan hati-hati dan juga kata-kata yang mudah di pahami agar Anin tidak salah paham lagi padanya.
Anin mendongak menatap manik coklat Kevin, mencari kebohongan di matanya. "Lalu bagaiman dengan kamar hotel dan juga di kafe itu?" tanya Anin yang mulai tenang, Ia juga sudah melepaskan pelukannya pada Kevin.
Lama Kevin terdiam, mencerna setiap pertanyaan Anin. "Apa Anin ada di sana saat Anna menciumku? lalu kenapa Dia bisa salah paham? bukankah Aku mengatakan dengan jelas bahwa Aku tidak mencintai Anna dan hanya mencintai dirinya?" batik Kevin.
Ya Kevin tidak tahu bahwa Anin juga Ada di sana, namun yang tidak Ia mengerti adalah, kenapa Anin bisa salah paham jika Dia ada di sana, dan kenapa Anin tidak menghampirinya.
"Kenapa Kamu diam? Kamu tidak bisa menjelaskannya kan?" Anin membuat kesimpulan sendiri saat melihat Kevin terdiam dan tidak mengelurkan suara.
"Kenapa Kamu bisa salah paham jika Kamu ada di sana? apa Kamu tidak mendengar apa yang Aku katakan?" bukannya menjawab, Kevin malah mengelurkan pertanyaan yang mengusik pikirannya.
"Benar Aku tidak mendengar apa yang di katakan Kevin, dan langsung menyimpulkan sendiri saat Anna mencium dan memeluknya setelah Kevin mengatakan sesuatu. Siapapun yang melihat itu akan berfikir sepertiku kan?" batin Anin bermonolok.
"Aku akui, Aku tidak menolak saat Anna mencium dan memelukku, karena Dia mengatakan itu adalah pelukan terakhirnya, setelah Aku mengatakan bahwa Aku tidak mencintainya dan hanya mencintaimu. Aku tidak tega menolak permintaan Anna yang terakhir itu. Namun kabaikanku Ia salah gunakan, Ia memanfaatkanku untuk membalasmu. Dan tentang di hotel Itu, Aku tidak memeluknya dan bahkan Aku mendorongnya agar menjauh, namun Ia bersih keras memelukku dan menangis, dan saat itulah Kamu datang" Kevin kembali menjelaskan semuanya pada Anin agar tidak ada salah paham lagi di antara mereka.
"Apa yang Kamu katakan semua itu benar?" tanya Anin, ada rasa bahagia dan juga rasa bersalah, karena tidak mempercayai Suaminya dan malah meninggalkannya selama bertahun-tahun bersama Pria lain.
"Iya sayang, itu semua benar, dan Aku hanya mencintaimu" Kevin mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Maaf karena tidak mendegarkan penjelasanmu dan pergi meninggalkanmu selama bertahun-tahun." ucap Anin dengan nada sendu.
"Maaf kan Aku juga jika menyakitimu selama ini, Kita pulang ya, Oma dan bibi sangat merindukanmu. Apa Kamu tidak kasihan pada sekretarisku? Dia tidak bisa menikahi Tari, karena Tari terus menolak untuk menikah sampai Kamu kembali ke Indonesia. Jadi Kita pulang ya, Aku janji akan membahagiakanmu dan tidak akan membuatmu menangis." bujuk Kevin dan janji Kevin, Ia tidak kuat lagi jika harus berjauhan dengan Anin, namun pekerjaannya juga banyak di Indonesia.
"Beri Aku waktu untuk berfikir mas, Aku belum bisa melupakan masa lalu yang menyakitkan itu, dan aku tidak bisa menjamin bisa mengontrol emosiku jika melihatmu" jujur Anin, agar Kevin tidak salah paham padanya, lagi pula ia harus memberitahu Dilan semua ini, bagaimanapun Dilan lah yang menjaganya selama ini, dan Anin sudah mengagapnya sebagai kakaknya.
Kevin menghela nafas kasar mendegar jawaban Anin, padahal Ia sangat berharap Anin akan ikut pulang dengannya. "Baiklah sayang, Aku akan menunggumu, tapi jangan lama-lama ya, Aku sudah sangat rindu padamu" goda Kevin untuk mencairkan susana yang terasa sesak, tapi mungkin sesak hanya untuknya saja.
"Aku pergi dulu ya" Kevin mendekati Anin dan hendak mencium bibir Istrinya, namun Anin memalingkan wajahnya, jadilah Dia hanya bisa mencium pipi Anin.
Kevin meninggalkan apartemen Anin dengan perasaan lega, karena sudah menjelaskan semuanya, walau respon Anin tidak seperti yang Ia harapkan dan membuatnya kecewa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini, Anin sangat di sibukkan dengan desain-desain yang harus Ia selesaikan hari ini, karena perwakilan Angelfasion dan juga Fang Grub, akan datang untuk memeriksanya. Dan Dia sendiri yang harus menemuinya mewakili Master Long, karena master Long sedang mengadakan kunjungan dengan teman lama.
"Suruh saja Dia masuk" perintah Anin masih fokus dengan desain-desainnya.
"Baik nona" Xiao melaksanakan perintah Anin dan menyuruh perwakilan Angelfasion untuk masuk keruangan bos nya.
"Silahkan Tuan" Xiao mempersilahkan perwakilan Angelfasion masuk keruangan Anin. Sementara Perwakilan Fang Grub yang bekerja sama dengan Angelfasion tidak datang, jadi sekalian perwakilan Angelfasion yang menangani semuanya.
"Silahkan duduk Tuan." ucap Anin tanpa mengalihkan pandangannya dari desain-desainnya dan mulai merapikannya untuk di tunjukkan pada perwakilan Angelfasion.
"Kamu semakin cantik jika sedang serius seperti ini" batin perwakilan Agelfasion yang terus menatap wajah cantik yang sedang sibuk merapikan berkas-berkas di meja kerjanya.
__ADS_1
"Terimakasih" ucap perwakilan Angelfasion yang tak lain adalah seorang Pria.
Pria itu tidak menyangkan akan bertemu dengan Anin di situasi seperti ini. Pria itu mengembangkan senyumnya, karena kini takdir dan juga dunia sedang berpihak padanya.
"Deg" jantung Anin seakan berhenti mendegar suara itu, suara yang begitu familiar baginya. Anin mengalihkan pandangannya, dan benar saja pemilik suara itu adalah Dia.
"Sekian banyaknya pebisnis di dunia ini, kenapa harus Dia yang menjalin kerja sama dengan Master Long? bukankah bisnisnya bergerak di bidang makanan dan juga wewangian?. Ah Aku lupa tiga tahun belakangan ini, Dia sedang mengembangkan Bisnis di bidang fasion" batin Anin bertanya-tanya melihat Pria tampan yang sedang duduk di sofa ruang kerjanya.
"Maaf Tuan membuat Anda menunggu" ucap Anin mencoba untuk profesional, walau Ia sedang gugup.
"Santai saja Nona....................
Hayo siapa Pria itu?
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.