
"Tapi Dokter! Dokter Julian harus mendengar penjelasan saya dulu. Aku mohon dokter!" Naura berteriak dan berusaha membujuk Julian yang masih marah atas ucapannya tadi.
Kedua tangan Naura mencengkram erat daun pintu Apartemen milik Julian. Berusaha sekuat tenaga untuk tubuhnya agar tak lolos keluar dari akses pintu masuk dan keluar hunian apartemen milik Julian.
"Pergi kau!" Bentak Julian kembali mengusir Naura.
Namun, setelah melakukan hal konyol yang membuat Julian marah Naura masih saja menebalkan mukanya. Perempuan cantik itu berusaha untuk membujuk Julian untuk mendengarkan alasannya di balik begitu nekatnya Naura mengajak Julian menikah dengan dirinya.
"Dokter, dengarkan dulu penjelasan saya. Dokter Julian jangan salah paham dulu dengan saya." Naura kembali membujuk Julian untuk mau mendengarkan alasannya.
Perempuan cantik berkulit seputih susu itu menahan pintu yang Julian dorong kuat dengan menghimpit tubuhnya di ambang pintu. Cara terbaik yang Naura putuskan hingga membuat Julian tak mungkin lagi menjempitnya dengan daun pintu yang terus di dorong.
"Naura!" Bentak Julian dengan kemarahan yang menyelimuti.
"Dokter Julian!" Naura tak mau kalah dengan membentak balik.
"Kau...."
"Lian....?" Seseorang menginterupsi hingga mencuri perhatian kedua insan yang sedang memicu keributan itu.
"Ma-Mama?" Julian tergagap dengan kedua mata terbelalak.
"M-Mama?" Naura juga ikut - ikutan tergagap mengetahui keberadaan orang lain di dekat mereka. Tatapannya langsung terarah pada dua orang yang sedang menatap mereka dengan terheran.
"Kau bilang ada pasien urgent di rumah sakit. Lalu, kenapa kau ada di sini, Lian? Dan siapa perempuan cantik ini?"
Lisa pemilik suara yang menginterupsi hingga membuat Julian terkejut atas kehadirannya di depan pintu Apartemennya. Di sebelah Lisa, Anton merangkul mesra istri tercinta juga dan ikut terperangah melihat putra keduanya yang sedang membuat keributan dengan seorang perempuan cantik yang tak di kenali.
"Mama, Papa ada apa kesini?" tanya Julian masih dengan posisi yang sama dengan Naura yang masih terhimpit di ambang pintu.
"Mama ngotot mau mengantarkan makanan ke Apartemen, karena kau bilang ada pasien urgent di rumah sakit. Jadi, Papa menemani Mama kesini dan melihat kalian....," ucap Anton tertahan di tenggorokan. Lirikan kedua mata secara bergantian terarah pada Julian dan Naura.
"Hmmmm!" Anton berdehem, melenyapkan rasa canggung di dalam diri. "Ayo sayang, besok saja kita kesini lagi. Sepertinya Julian masih ada pasien." sambung Anton mengajak Lisa lalu mengejek putranya yang tertangkap basah berbohong kepada mereka.
__ADS_1
Seketika kesadaran Naura tersentak. Otak cerdasnya kembali bekerja dan menghasilkan keputusan cemerlang yang membuat Julian semakin terpojok di mata kedua orang tuanya.
"Halo, Om dan Tante." Naura menyapa Anton dan juga Lisa dengan posisi yang berdiri sempurna tak lagi terhimpit di ambang pintu.
"Saya Naura, pacarnya Dokter Julian." sambungan Naura memperkenalkan diri.
Sontak saja Julian langsung melotot ke arah Naura yang dengan tenang dan santainya mengulas senyuman yang ramah kepada kedua orang tuanya.
...***...
"Pergi dari sini! Dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di Apartemenku!"
Ultimatum keras dari Julian kemarin malam masih terngiang-ngiang di kedua telinga Naura. Setelah mendengar pengakuan sepihak dari Naura, Julian hanya bisa berdoa kedua orang tuanya tak mempercayai pengakuan ilusi dari Naura yang penuh dengan kebohongan.
Beruntung Anton memaksa istrinya untuk segera pergi meninggalkan putra mereka dengan Naura. Lelaki yang telah pensiun dari dunia bisnis itu seolah memahami situasi yang sedang di hadapkan oleh putranya kemarin malam.
Dan kesialan menimpa Naura dengan cepat. Perempuan cantik itu semakin membuat Julian marah dan mengamuk lalu berhasil mengusirnya dari hunian apartemen mewah. Kata - kata ultimatum keras yang terekam baik di memori ingatan Naura masih terus berputar hingga menyandarkan Naura bahwa cara pendekatannya terhadap Julian benar - benar sudah salah besar.
Naura masih duduk melamun dengan pikiran yang melayang pada nasibnya pagi ini. Entah bagaimana perempuan cantik itu akan bertatap muka dengan Julian saat di rumah sakit nanti. Keberanian kemarin malam yang terkumpul seolah lari terbirit-birit pada detik Julian mengusirnya dengan cara yang kasar.
"Ahh! Maaf ya, Mas." Naura tersentak dari lamunannya. "Ini uangnya. Makasih ya, Mas. Nanti saya kasih bintang lima." sambung Naura sambil menyerahkan ongkos taksi lalu turun dari taksi online yang di naikinya.
Kedua kaki yang mengenakan sepatu kets berwarna putih tak kunjung melangkah. Sementara kedua mata menatap sendu bangunan rumah sakit yang berdiri di kokoh di depan matanya.
"Pagi ini, aku harus menghadap dia, kan? Aku harus bagaimana dong?" ucap Naura seorang diri dengan nyali hilang dari sarangnya.
"Memangnya Dokter Naura kenapa?" Bayu mengagetkan Naura yang melamunkan nasibnya di rumah sakit swasta itu.
"Ah...., Dokter Bayu? Dokter Bayu baru datang?" tanya Naura berbasa - basi, batinnya cukup terkejut menyadari kehadiran Bayu yang tak terduga.
"Iya, saya baru sampai. Sejak tadi, saya sudah panggil - panggil Dokter Naura. Tapi Dokter Naura tidak mendengar, malah sedang asyik melamun di sini." Bayu memberitahu.
"By the way, kenapa Dokter Naura naik mobil orang lain?"
__ADS_1
"Oh itu, mobil saya sedang masuk ke bengkel. Tadi saya naik taksi online ke sini?" jelas Naura terpaksa berbohong mengenai keadaan mobil miliknya.
"Oh begitu, kalau mobilnya masih di bengkel. Sore nanti, pulang bareng sama saya aja." ucap Bayu menawarkan diri.
"Enggak usah, Nantinya ngerepotin Dokter Bayu." Naura menolak halus.
"Enggak kok." Bayu membantah.
Seketika kedua mata dokter berperawakan manly itu memeriksa penampilan Naura pagi ini, ada yang berbeda dengan penampilan Naura di hari - hari sebelumnya. Jika dari hari pertama hinggap hari kemarin Naura selalu mengenakan rok span di atas lutut, pagi ini Naura mengenakan celana jeans hitam. Kemulusan dan keindahan kaki jenjang perempuan yang memiliki tinggi 167 cm itu tertutupi di balik celana jeans hitam panjang yang di kenakannya.
Namun, tak menutupi daya tarik Bayu pada sosok Naura yang masih sangat cantik di matanya. Setelan santai kemeja bermotif lurus dan dengan riasan wajah yang sederhana masih membuat Naura begitu menawan di hatinya.
"Dokter Naura masih pantas di sebut anak SMA," ucap Bayu memuji wajah baby face perempuan cantik yang ada di hadapannya itu.
"Apa?" Naura terperangah, tak mengerti arah pembicaraan Bayu.
"Bukan apa - apa. Ayo kita masuk." ajak Dokter Bayu "Karena berdiri lama di sini akan membuat Dokter Naura terlalu lama terpapar sinar UV!" sambung Bayu dan menarik pergelangan tangan Naura.
Pemandangan di pagi hari yang membuat para pegawai rumah sakit salah paham atas kedekatan partner kerjanya itu. Beberapa pegawai yang mengenal sosok baik Dokter Bayu pun jadi ikut - ikutan berbisik dengan rekan yang ada di sebelahnya. Mereka langsung membicarakan gosip baru nan hangat yang mungkin saja akan menaikkan pamor Naura.
"Wow! This is a big news! Dokter Bayu lagi PDKT dengan Dokter Naura." ucap seorang pegawai perempuan yang salah paham melihat kedekatan Bayu dan juga Naura
...**********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.