
"Kenapa Kamu terlihat sedih? apa perbaikannya tidak rapi ya?" senyuman Dilan surut saat melihat Anin hanya diam saja tanpa ekspresi apapun.
"....." Anin mengelengkan kepalanya. "perbaikannya sangat rapi, Aku bahkan tidak mengira bahwa patung ini pernah retak" Anin memaksakan senyumnya, ya Ia bahagia karena hadiah dari master Long sudah utuh, namun perkataan Anna terus mengusik pikirannya.
"Lalu kenapa Kamu bersedih?" Dilan menatap intens wanita yang sedang duduk dihadapannya.
"Aku tidak bersedih" jawab Anin berusaha menyembunyikan kekalutan hatinya.
"Kamu tidak pandai berbohong Anin, katakan apa yang membuatmu bersedih?" bukan Dilan namanya jika tidak bisa membaca gerak-gerik wanita yang berada di hadapannya, Ia juga bingung kenapa Ia begitu mengerti dengan perasaan wanita yang sedang duduk dihadapannya.
Dilan merubah posisi duduknya di samping Anin, namun Ia tidak melakukan kontak fisik yang berlebihan pada Anin. Dilan sangat menghormati Anin sebagai Istri dari Kevin dan juga sebagai wanita yang sudah bersuami.
"Katakan kenapa Kamu bersedih?" Dilan mengulang pertanyaannya.
"Anna sudah mengingat semuanya" Anin semakin menundukkan kepalanya, tidak jngin jika Dilan melihatnya menangis.
"Kenapa Kamu bersedih? bukankah itu kabar baik, dengan begitu Kamu dan Kevin tidak perlu bersandiwara lagi bukan?" Dilan mengembangkan senyumnya berusaha mencairkan suasana.
"Anna mengatakan bahwa Kevin hanya mencintainya dan Dia menyuruhku datang ke kafe xx untuk melihatnya sendiri" gumam Anin namun dapat di dengar Dilan dengan jelas.
Dilan berusaha menahan emosi yang bergejolak di hatinya, dan memutuskan mempercayai Kevin sekali lagi, selama Ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Kevin menyakiti Anin dan membuatnya menangis.
Jujur saja, Dilan mulai ada rasa pada Anin, entah Dia juga tidak tahu kapan perasaan itu datang, namun Ia tidak ingin besikap egois untuk merebut Anin dari Kevin, Ia hanya melindungi Anin agar tidak tersakiti dan memutuskan menyembunyikan perasaanya pada Anin.
"Percayalah pada Kevin, Aku lihat Dia sangat mencintaimu, dan Anna Dia hanya belum siap menerima kenyataan itu" Dilan lagi-lagi meminta Anin untuk percaya pada Kevin, tanpa berniat menghasut Anin untuk meninggalkan Kevin.
"Aku ragu dengan hal itu" lirih Anin.
"Aku akan menemanimu ke kafe itu, jadi jangan cemas Aku akan selalu bersamamu" Dilan menenangkan Anin.
"......"Anin hanya mengangukkan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Kevin pulang kerja bersama Ans hampir jam tujuh malam, jadi Kevin memutuskan langsung ke kafe yang di sebutkan Anna, karena Ia belum tahu bahwa ingatan Anna sudah pulih atau lebih tepatnya tidak tahu bahwa Anna pura-pura lupa.
Ada perasaan ragu saat Kevin melangkahkan kakinya memasuki kafe tersebut, apa lagi saat melihat kafe sunyi tanpa penghuni di dalamnya. Namun Kevin tetap masuk kedalam kefe tersebut, dan di kagetkan dengan sambutan mc dan tepuk tangan dari semua pengunjung kafe yang entah muncul dari mana.
Kevin mengernyit heran mendapatkan kejutan seperti ini, namun keterkejutannya terjawab saat melihat wanita yang dulu Ia cintai muncul di atas panggung, dan menari di depan semua orang di iringin alunan musik yang begitu romantis.
Kevin diam mematung menyaksikan tarian Anna di atas panggung, hingga Anna menghampirinya pun Ia masih diam mematung.
"Ini adalah pertunjukan yang ingin Aku perlihatkan padamu" ucap Anna berjalan semakin dekat pada Kevin, membuat Kevin memundurkan langkahnya.
"Ka...Kamu sudah ingat semuanya?" tanya Kevin gugup, dan ada rasa bahagia menyelimuti hatinya, dengan begitu Ia tidak perlu bersandiwara lagi di depan Anna.
Anna menatap Kevin dengan tatapan penuh cinta. "Kevin hanya mencintaiku, ya Dia hanya mencintaiku, di dalam hatinya hanya ada Aku." batin Anna yang terus meyakinkan dirinya bahwa Kevin hanya mencintai dirinya seorang.
Sementara di tempat lain, sepasang mata memperhatikan mereka dari jauh, hingga Ia tidak mendengar percakapan Kevin dan juga Anna, apa lagi alunan musik yang mendominan di dalam Kefe.
Semua tamu bersorak, dan menyuruh Kevin menyatakan perasaannya pada Anna, membuat hati Anin begitu sakit mendengarnya.
Anna mengembangkan senyumnya. "Aku tahu itu, Aku hanya ingin memperlihatkan kejutan yang tertunda ini padamu" Anna berusaha meredam emosi yang ada dalam dirinya demi melancarkan aksinya.
Anna semakin melangkahkan kakinya mendekat pada Kevin, Kevin segera menahan tubuh Anna dengan memegang lengan Anna. "Sekali ini saja, biarkan Aku menciummu dan memelukmu sebagai bentuk perpisahan Kita." ucap Anna.
"Tapi Anna....." Kevin tidak melanjutkan perkatannya saat Anna tiba-tiba mencium pipinya dan juga memeluknya.
Ya Anna melancarkan aksinya memeluk dan mencium Kevin, saat mendapati Anin tengah berdiri memperhatikan mereka dari kejauhan bersama Dilan.
Anin tak kuasa menahan air matanya agar tak jatuh, sungguh hatinya sangat sakit melihat Suami yang katanya sangat mencintainya di cium dan di puluk oleh wanita lain di hadapannya, tanpa ada penolakan dari sang Suami.
Anin mengira bahwa Kevin mengatakan perasaannya pada Anna, sehingga Anna mencium dan memeluk suaminya, dan Kevin tidak menolak itu.
Dilan begitu geram melihat perlakuan Kevin, dan hatinya ikut sakit melihat wanita yang Ia cintai menangis di hadapannya hanya karena Pria bren*sek seperti Kevin.
Demi menghindari emosinya yang akan meledak jika terus berada di kafe tersebut, Dilan menarik tangan Anin keluar dari kafe dan mengajaknya ke sebuah taman yang sepi pengunjung.
__ADS_1
"Menangislah, mungkin dengan begitu Kamu akan merasa lega" ucap Dilan mendudukkan Anin di bangku panjang di dalam taman tersebut.
Mendengar itu, Anin benar-benar meluapkan segala sakit hati yang Ia rasakan dengan menangis, bahkan Ia tidak peduli dengan keberadaan Dilan disampingnya.
Dengan setia Dilan menunggui Anin hingga Anin benar-benar selesai menangis. "Apa Kamu sudah merasa lega?" tanya Dilan setelah melihat Anin berhenti menangis walau masih terdengar isakan dari Anin.
"......." Anin mengagukkan kepalanya.
"Bagaimana rencanamu selanjutnya?" Dilan memulai pembicaraan.
"Aku belum tahu." jawab Anin dengan suara serak khas orang menangis.
"Saran Aku, jangan bertindak ngegabah dulu, apa lagi mempercayai apa yang Kamu lihat tanpa Kamu dengar apa yang mereka bicarakan, pulanglah! tunggu suamimu dan minta penjelasan padanya. Setelah Kamu mendengar penjelasn Kevin Kamu bisa membuat keputusan apa yang Kamu inginkan, Aku akan mendukung setiap keputusanmu" Dilan lagi-lagi memberikan nasehat yang bijak pada Anin, Ia benar-benar tidak ada niatan merebut Anin dari Kevin.
"Kamu benar, Aku tidak harus mempercayai apa yang aku lihat tanpa mendengar apa yang mereka katakan. Tapi satu yang pasti, bahwa barang yang Kita pinjam, cepat atau lambat akan Kita kembalikan pada pemiliknya, sama halnya dengan Kevin, mungkin sudah saatnya aku mundur karena Anna sudah kembali."
"Apa yang Kamu katakan Anin? pertahankan rumah tanggamu jika itu masih bisa untuk di pertahankan, selama Kevin tidak meminta pisah padamu, makan Kamu masih berhak mempertahankan hubungan kalian." ucap Dilan.
"Tapi satu hal yang harus Kamu ingat, jika Kevin meninggalkanmu, jangan sungkan untuk menemuiku, Aku akan dengan senang hati menerimamu dan Anakmu, Kamu yang sudah berjanji padaku bahwa Kamu menganggapku sebagai kakakmu, dan kakak berhak melindungi adiknya bukan?" ucap Dilan setelah lama teridam.
"......." Anin hanya mengangukkan kepalanya.
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.
__ADS_1