
Naura tak berdaya saat Honda Civic pemberian Ayahnya di bawa pergi oleh ibu tiri dan kedua bodyguardnya itu dengan cara merampas kasar dari tangannya.
Penghinaan dan kekasaran yang telah di sengaja di tinggal jauh - jauh di kota S kini harus Naura rasakan lagi. Sesaat Naura bersyukur karena di parkiran itu tak dalam kondisi yang ramai di karenakan malam yang telah menyapa.
Namun, dalam hati dan jiwanya begitu menyesalkan. Mengapa diri harus kembali menerima pil pahit setelah di campakkan jauh ke tanah kota B.
Naura masih terduduk di atas lantai parkiran yang berdebu dengan kerikil halus yang mengasarkan. Rasa perih dari luka di lutut telapak tangan tak sebanding dengan rasa perih di hatinya yang menganggu sistem organ - organ vital di tubuh Naura.
Napas Naura tersengal. Paru - parunya di remas paksa. Ritme jantungannya melemah berharap berhenti berdetak hingga Naura tak ingin lagi merasakan pil pahit yang sudah muak di telan bulat - bulat. Kedua mata Naura pun ikut panas di genangi oleh air mata yang membanjir siap keluar ketika kelopak mata mengerjap.
Tetesan pertama jatuh membasahi pipi Naura tanpa bisa di tahan lagi. Tak lama tubuhnya pun mulai bergetar ketika isakan tangisan tak sengaja tertahan di tenggorokannya.
Perlahan Naura ingin bangkit. Takut jika kekacauannya saat ini akan tertangkap basah oleh orang - orang pemilik mobil yang terparkir di area khusus itu.
Baru saja Naura setengah bangkit dari terjatuhnya. Kedua mata Naura bersirobok dengan tatapan dingin Julian yang sudah mengawasi sejak tadi tanpa Naura ketahui.
"D- Dokter Julian?" Naura tergagap menyapa Julian.
Dirampasnya cepat hand bag miliknya yang tergeletak di atas lantai parkiran. Telapak tangannya yang terluka langsung Naura bersihkan sembarangan dengan menepuk - nepuknya. Rambutnya yang berantakan akibat tarikan kasar ibu tirinya pun juga menjadi perhatian Julian.
"Dokter mau pulang juga?" tanya Naura berbasa - basi.
Julian masih membisu. Kedua mata elangnya masih mengawasi Naura dengan jeli. Luka baru di lutut Naura pun tak luput dari perhatian mata elangnya.
Dengan gugup dan ketegangan luar biasa Naura berjalan menghampiri Julian. Berdiri di tempat itu pun sudah tidak ada artinya lagi. Kendaraan roda empat yang pagi tadi di kendarai olehnya sudah di rampas oleh ibu tiri yang Naura beri gelar nenek sihir.
"Saya permisi pulang dulu, Dokter. Sampai ketemu besok pagi." pamit Naura berpura - pura tidak terjadi apapun.
"Kau bodoh atau naif?" ucap Julian datar menghentikan langkah Naura.
"M- maksud Dokter Julian apa?" tanya Naura yang masih berpura - pura tak mengerti ucapan Dokter Julian.
__ADS_1
"Kau memang bodoh! Ayo ikut aku!" Ucap Julian lalu menarik paksa tangan Naura untuk naik kedalam mobil miliknya.
...****...
Lisa telah menurunkan handphonenya setelah panggilan masuk yang terhubung telah terputus. Hembusan nafas lembut keluar dari mulut Lisa yang terbuka kecil.
Raut wajah perempuan paruh baya yang masih awet kecantikannya itu terlihat muram, datar tanpa ekspresi. Senyum bahagia yang tadi terulas di wajah cantik saat menerima panggilan masuk langsung berubah ketika mendengar ucapan dari seseorang melalui sambungan telepon.
"Dari siapa?" tanya Anton mengusik keheningan Lisa.
"Julian. Dia tidak bisa ikut makan malam dengan kita. Ada pasien urgent katanya."suara Lisa mengalun lembut dan datar. Ada rasa kecewa terselip dari pernyataannya yang keluar.
"Lisa, kamu tahu sendiri putra kita, kan? Mimpinya itu selalu ingin menjadi pahlawan superhero dan membuatnya berambisi untuk menjadi superhero dalam dunia medis." ucap Anton menjadi sosok bijak untuk mengubah rasa kecewa di hati istri tercintanya itu.
Lisa tersenyum. Cara Anton sukses besar melenyapkan rasa kecewa yang datang menjenguk hati istri tercintanya.
"Ini semua karena Papi karena sewaktu Julian kecil , Papi sering memberikannya mainan karakter superhero. Jadi, kebawa - bawa sampai Julian besar, kan!" Kenang Lisa yang teringat pada kesukaan putra keduanya itu.
"Ihhhh! Mas Anton lagi nyidir aku ya?"
Lisa memukul lengan Anton di karenakan hati yang panas mendengar kalimat yang keluar dari mulut suami tercintanya yang mengandung sindiran tajam nan menohok.
"Loh? Ya enggak dong, sayang? Mas kan cuma bicara sesuai fakta, kan? Kamu kan memang sangat teliti dalam pengeluaran kebutuhan kita?" Anton menahan tawa saat lidahnya kembali lancar menyindir istrinya dengan sengaja.
"Awas kamu ya, Mas! Malam ini enggak ada jatah! Tidur sana di kamar tamu!"
Lisa yang marah berakhir pergi meninggalkan suami tercintanya setelah melontarkan ancaman yang mengerikan bagi jiwa dan raga seorang Anton.
Enggak dapat jatah?
Oh my gosh! Anton pasti akan di serbu dengan rasa frustasi hingga fajar menyapa. Tak memeluk ataupun tidur terpisah dari Lisa merupakan ujian yang terbesar dalam kehidupan lelaki yang kini masih gagah dalam usia lanjutnya.
__ADS_1
"Sayang....! Honey....! Baby....! Lisanya Mas yang tercinta! Mas bercanda tadi, sayang. Come on, Honey! Mas mohon tolong cabut kata - katamu tadi, sayang!" Ucap Anton membujuk sambil berlari menghampiri Lisa yang menuju ke ruang makan di kediamannya.
"No!" Balas tegas Lisa.
...***...
"Julian, nggak jadi datang ya, Bi?" Alvaro langsung menebak, saat Lisa baru saja terduduk di kursi meja makan.
"Ada pasien urgent katanya?" jawab Lisa membenarkan.
"Belakangan dia memang sibuk, Mah!" Saga menimpali untuk meyakinkan alasan Julian tak menghadiri jamuan makan malam di rumah orang tua mereka.
"Kita bisa kumpul di rumah Kiran nanti, Mah? Jadi, Mamah jangan bersedih begitu, dong?" Viona menjadi penghibur hingga membuat Lisa mengulas senyuman hangat.
Di meja makan itu telah berkumpul orang-orang terdekat yang di cintainya. Kakak dan Kakak Iparnya. Adik sambungnya yang tampan, Bara. Kaylan, Anak sulungnya pun ikut datang meski selalu sibuk di kota D. Dan Kiran pun juga ikut memenuhi undangan makan malam. Hanya Julian yang beralasan karena urusan pasien dan Clara keponakannya yang masih berada di kota A.
Makan malam pun berlangsung saat pemilik rumah mempersilahkan para tamunya untuk menikmati hidangan yang tersaji. Ada tawa, kasih sayang dan canda menyelimuti ruang makan itu. Mereka pun beralih ke arah taman belakang untuk sekedar mengobrol setelah perut kenyang terisi oleh nikmatnya makan malam yang sudah Lisa persiapkan.
...***********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.