
Naura menatap sendu layar handphone di genggaman tangannya. Tombol on - off yang terletak di puncaknya tak sudah - sudah di tekan oleh Naura. Tingkah impulsif Naura yang sedang menanti kabar dari sang kekasih hati yang sudah seminggu meninggalkannya.
Rasa rindu kini mulai mendera jiwa pada sosok kekasih yang sudah seminggu berjauhan jarak dengannya. Keberadaan Julian di kota S sungguh tidak ketahui oleh Naura seujung kuku pun.
Perempuan cantik itu hanya tahu, jika Julian sedang memilki urusan di luar kota. Rasa cinta dan percaya yang mendasari membuat Naura menganggukkan kepalanya saja saat Julian melakukan sambung video call padanya.
Namun, kini rasa rindu itu sungguh terasa berat hingga tidak mampu di tahan oleh jiwa. Dan sudah beberapa hari ini Julian tidak menghubungi Naura dalam bentuk apapun. Telepon, pesan WhatsApp dan video call pun tak seintens dua hari yang lalu saat Julian meninggalkan kota B. Membuat pikiran Naura semakin terbang kemana - mana.
"Julian itu tipekal orang yang setia. Termasuk dengan pekerjaannya. Mungkin dia benar - benar sedang sibuk hingga tak sempat untuk menghubungimu."
Ya, Kalimat penenang dari Kiran yang tahu dan memahami betul sosok dokter tampan yang belakangan seperti hilang di telan bumi itu. Membuat Naura sedikit lebih tenang.
"Dokter Naura enggak pulang?" tanya Luna menghamburkan lamunan dari Naura.
"Hah? Oh iya. Ini aku mau pulang." jawab Naura dengan gugup.
"Apa dokter Naura hari ini akan di jemput lagi oleh Nona cantik itu?"sinyal kepo akut Luna mulai menyala.
"Berlian?" Naura langsung menebak tepat sasaran.
"Yes! Itu yang saya maksud. Kalau nggak salah, Nona cantik itu adalah Sepupu dokter Julian, bukan?" sebuah pikiran terlintas di benak Luna, hingga membuat perawat yang bertubuh tinggi itu membelalak kedua matanya pada Naura. "Jangan - jangan.., selama ini gosip yang beredar tentang dokter Naura dan dokter Julian berpacaran itu benar adanya?" tebak Luna dengan sedikit terkejut.
"Ya ampun Luna. Kenapa kamu sampai berpikir seperti itu?" Naura tidak mau mengakui dengan sikap tenangnya.
"Tapi itu benarkan dokter? Karena gosipnya itu sudah menyebar kemana-mana. Hanya tinggal menunggu saja klarifikasi dari kedua belah pihak yang sedang di gosipkan saja."
Mendengar ucapan dari Luna, Naura langsung tertawa. Handphone yang tergeletak di atas meja langsung di masukkan kedalam tasnya. Dan jas sneli yang tergantung di standing hanger juga di sambar oleh tangannya.
"Udah ah, aku mau pulang. Capek banget seharian ini. See you tomorrow, Lun!" Naura melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan Luna yang terlihat belum puas dengan jawaban dari Naura.
__ADS_1
***
Audi A3 berwarna tango red yang di kemudikan oleh Naura seorang diri telah terparkir di basement dari gedung apartemen miliknya. Sebuah mobil sedan mewah senilai lebih sekitar 700 jutaan pemberian dari Julian dengan warna kesukaan Naura. Mobil pengganti miliknya yang sudah di rampas oleh si Nenek Sihir.
Langkah kedua kaki menapaki lantai basement dengan suasana sunyi yang mencengkam. Langkah kedua kaki agak di percepat ketika kedua telinga mendengar deruan langkah dari arah belakang yang sedang mengikuti dirinya.
Sinyal waspada Naura pun mulai menyala. Debaran jantung pun berpacu lebih cepat akan aliran darah yang memacu sistem kerja jantung tak normal seperti biasanya.Keringat pun mulai membasahi dahi Naura di karenakan rasa takut yang mulai menguasai jiwa.
Naura pun terselamatkan oleh kecepatan kedua kaki yang memasuki lift dan dengan cepat pula pintunya itu tertutup. Sesaat Naura pun merasa tenang dan melemas. Seluruh otot - otot yang menegang dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding lift.
Debaran jantung Naura kembali berpacu lebih cepat ketika kedua mata Naura membelalak mendapati barang - barang miliknya sudah di keluarkan dari hunian apartemen mewah miliknya.
Darah Naura pun langsung mendidih dengan deruan kaki yang melangkah cepat menghampiri orang - orang yang membuang barang - barang miliknya dengan sesuka hatinya.
"Apa yang sedang kalian lakukan di Apartemen milikku?!" Bentak Naura penuh dengan kemarahan pada tersangka utama yang berdiri dengan angkuhnya, siapa lagi kalau bukan si Nenek Sihir.
"Ya! Karena Apartemen ini milik Bundaku. Dan sudah pasti Apartemen ini juga milikku!" Naura kembali membentak sampai - sampai wajahnya merah padam.
"Dengar ya. Bundamu itu membelinya dengan uang suamiku! Dan sudah pasti Apartemen ini juga milikku! Dasar anak haram! Rupanya kau sudah berani melawanku ya!"
Plak
Tangan kurang ajar si tangan Nenek Sihir itu berhasil melayang keras dan melukai sisi pipi kanan Naura. Ya, perilaku yang dulu sering kali Naura dapatkan saat berada di kota S.
"Kau pikir kau siapa? Bisa mengusik kehidupanku dan Evan? Rasa sakit itu belum seberapa dengan rasa sakit hati Evan yang sudah sengaja kau buat malu kemarin. Kau sengaja membuat putraku malu di hadapan orang-orang, bukan? Dan seharusnya kamu itu bersyukur kalau aku tidak mempermalukanmu dengan cara yang sama." si Nenek Sihir itu semakin begitu percaya diri berucap dengan sikap angkuh dan tak berdosanya.
"Dasar pengadu!" Cibir Naura meluncur cepat.
"Dari pada kau si anak haram dan perempuan murahan." Ibu tiri Naura tidak mau kalah mencibir. "Kau pikir, siapa yang mau dengan perempuan murahan sepertimu. Dengarkan
__ADS_1
aku, mungkin saja Tuan muda Julian mendekatimu hanya menjadikanmu sebagai budak nafsunya saja. Setelah dia bosan, dia pasti akan langsung membuang mu. Seperti halnya Ibumu yang murahan itu."
"Mulut sampah kurang ajar! Diam kau!"
Emosi Naura tidak bisa di tahan lagi. Tanpa bisa di hindari lagi oleh si Nenek Sihir, jemari Naura sukses mencengkram erat rambutnya. Naura pun langsung menarik dan menjambak kuat rambut si Nenek Sihir dengan luapan emosi yang meledak-ledak di dalam diri.
"Lepaskan tanganmu! Dasar anak haram!" Erang Nenek Sihir kesakitan merasakan jambakan Naura yang begitu kuat di rambutnya.
"Mulut jahat! Kau rasakan ini!" Ucap Naura dengan jemarinya yang semakin menarik kuat rambut si Nenek Sihir.
Namun, kepuasaan hati Naura tak berlangsung lama ketika orang - orang dari Ibu tirinya mulai melerai keduanya dan mendorong Naura kasar hingga membuat tubuh dokter cantik itu jatuh membentur keras dinding di belakangnya.
"Kau! Ternyata semakin berani dan tidak tahu diri!" Geram kemarahan si Nenek Sihir dengan melotot kepada Naura. " Beri pelajaran pada anak haram ini. Agar dia bisa sadar karena sudah berani melawanku." Lanjutnya memberikan perintah pada para bodyguardnya untuk memukuli Naura.
"Hentikan! Apa yang sudah kalian lakukan pada Naura?!" Teriak seorang wanita yang menyaksikan ketidakberdayaan Naura yang sedang di keroyok tanpa ada seorangpun yang mau menolong.
********
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1