Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Benar-benar Pergi


__ADS_3

Tari hari ini menghabiskan waktunya bersama Anin di rumah ibu Anin, Tari bercerita banyak hal pada Anin, membuat Anin kembali senyum. Tari yang melihat Anin sudah membaik ingin mengatakan tentang surat perjanjian yang sebenarnya.


"Anin." Tari masih ragu untuk mengatakannya.


"Ya, ada apa? sepertinya Kamu ingin mengatakan sesuatu, katakanlah !" Anin yang tadinya sibuk mengemas barang-barangnya menoleh menatap sahabatnya.


"Apa keputusanmu itu sudah bulat? apa Kamu tidak ada niatan untuk memperbaikinya? bisakah Kamu memberikan Kevin sempatan, sebenarnya Kevin......." Tari menghentikan perkatannya saat melihat ekspresi Anin yang tadinya ceria tiba-tiba sedih.


"Apa Kamu datang kesini atas suruhan Kevin? jika Kamu hanya datang untuk membujukku lebih baik Kamu pulang, karena penjelasanmu sia-sia saja. Aku tidak ingin lagi mendegar tentangnya, Aku sudah cukup kecewa dengannya, mungkin berpisah adalah pilihan yang terbaik, dengan begitu Ia akan kembali bahagia bersama Anna" ucap Anin memalingkan wajahnya, tidak ingin Tari melihat kesedihan di dalam matanya.


Anin sebenarnya tidak ingin meninggalkan Kevin, namun Anin juga tidak mampu jika harus melihat Kevin, Ia terlalu kecewa pada Kevin. Dan Kevin akan selalu mengingatkannya pada almarhum anaknya.


"Maaf" ucap Tari lirih merasa bersalah pada Anin.


"Tidak apa-apa Aku mengerti, Kamu hanya ingin membantu pacarmu bukan? maafkan Aku juga ya yang terlalu sensitif belakangan ini" Anin memeluk Tari.


"........" Tari mengangukkan kepalanya dan mengembangkan senyumnya. "Sebenarnya Kamu mau kemana? dan pergi dengan siapa?" jiwa kepo Tari mulai keluar.


"Aku akan pergi jauh, dimana seseorang tidak akan mengenaliku, maaf ya Aku tidak bisa memberitahumu Aku mau pergi kemana, Kamu pasti mengerti maksudku, tapi Kamu tenang saja Aku akan baik-baik saja percayalah, Aku akan menghubungimu nanti setelah suasana hatiku membaik dan melupakan kejadian yang menyakitkan ini" jelas Anin panjang lebar.


"Jaga dirimu baik-baik ya, Aku akan mendukung setiap keputusanmu, semangat" Tari memberikan semangat pada sahabatnya walau berat baginya untuk berjauhan dan harus putus komunikasi bersama Anin untuk sementara waktu.


"Jangan egois oke, sering-seringlah mengalah pada Ans, kasihan Ans jika tarus mengalah darimu" Anin menasehati sahabatnya yang terlalu egois jika bersama Ans yang maunya menang sendiri, membuat Ans pusing di buatnya.


"Hmmm" gumam Tari. "Aku pergi dulu ya, sudah magrib, lagi pula Kamu tidak ingin di antar" Tari sekali lagi memeluk Anin sebagai salah perpisahan.


"Maaf"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam tujuh malam, akhirnya Dilan datang juga dengan supirnya, lama mereka bertiga mengebrol sebelum berangkat, dan yang mengetahui keberangkatan Anin hanya Tari dan juga Ibunya, bahkan Rara tidak di beritahu karena mulutnya itu yang tidak bisa menyimpan rahasia apapun.


"Ibu tahu Kamu tidak punya hubungan khusus dengan putri ibu, jadi ibu akan bertebal muka memintamu untuk menjaga putriku selama Ia jauh dari ibu" Ibu Sandra menepuk pundak Dilan.


Dilan mengembangkan senyumnya merasa senang karena di percayai oleh ibu wanita yang Ia cintai. "Ah ini seperti Aku baru menikah dan ibu mertuaku memberikanku amanah. Ah gila kenapa Aku berfikir sejauh itu, Anin kan baru saja berduka dan belum cerai dengan Kevin, bagaimanapun Dia masih Istri orang, dasar bodoh." batin Dilan bermonolok.


"Saya akan menjaga Anin dengan baik bibi, tenang saja" ucap Dilan membukakan pintu pada Anin setelah Anin berpamitan pada ibunya dan mencium tangan ibunya, Dilan juga ikut mencium tangan Ibu Sandra sebelum pergi.


"Tunggu" tariak seorang pria yang baru saja turun dari mobil mewah berwarna hitam, siapa lagi jika bukan Kevin.


Ya Kevin baru saja tahu bahwa Anin akan pergi setelah Ans memberitahunya dan tentu saja berita itu Ia dapatkan dari Tari.


Dilan menatap Anin, meminta jawaban apa Ia harus melanjutkan perjalannya atau memberi Kevin kesempatan untuk menjelaskan. "Jalan pak" perintah Anin.


Kevin berusaha menghentikan mobil yang di naiki Anin tanpa Ia ketahui Dilan juga ada di dalamnya. "Anin Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu, Aku mohon jangan tinggalkan Aku, Kamu sendiri yang pernah mengatakan bahwa Kamu tidak akan meninggalkanku seorang diri, Kamu pernah mengatakan akan menemaniku susah maupun duka, jadi Aku mohon jangan pergi, Aku tidak tahu apa jadinya Aku jika tanpamu" Kevin terus merancau menghentikan kepergian Anin, dan tanpa malu Ia kembali meneteskan air matanya.


Kevin buru-buru melangkahkan kakinya menuju mobilnya dan berniat mengejar Anin, namun gerakannya terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya.


"Kevin" Kevin menghapus air mata yang membasahi pipinya, jujur saja setelah kehilangan anaknya, Kevin menjadi pria cengeng dan kembali arogan dan juga tidak banyak bicara. "Anin menyuruh ibu memberikan ini padamu" ibu Sandra memberikan amplop coklat pada Kevin.


Kevin mengambil amplop tersebut dan membukanya, hatinya bagai di remas-remas mengetahui isi amplop tersebut. "Apa ini surat cerai?" Kevin tertawa membuat Ibu Sandra heran melihatnya. "Sampai kapanpun Aku tidak akan menandatangani surat cerai ini ibu, Anin adalah istriku dan selamanya akan tetap begitu."


"Ibu tahu bagaimana perasaanmu nak, dan ibu tahu bagaimana hancurkan hatimu setelah kehilangan anakmu. Tapi perpisahan adalah jalan terbaik bagi kalian berdua, jika saja kalian tetap bersama ibu tidak yakin kalian akan bahagia, setelah apa yang Kamu lakukan pada Anin."


Kevin berlutut di depan ibu mertuanya "Ibu beritahu Aku kemana Anin akan pergi, biarkan Aku mencarinya dan menyelesaikan masalah ini" Kevin tanpa malu memohon dan berlutut di depan mertuanya dan tidak memperdulikan orang-orang yang lalu-lalang memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


"Ibu tidak bisa memberitahumu, yang jelas Anin pergi jauh, di mana Kamu tidak bisa menemukannya." ucap Sandra dan berlalu pergi meninggalkan Kevin yang masih berlutut di depan rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya bibi Ajeng membersihkan kamar Kevin, karena Kevin tidak ingin seseorang masuk kedalam kamarnya apa lagi menyentuh barang miliknya, kecuali itu Bibi dan juga Omanya.


Sifat Kevin semakin keras dan semakin angkuh belakangan ini hanya untuk menyembunyikan kesedihan dan kehancuran hatinya, dan hanya bersikap ramah pada keluarganya saja kerena itu adalah permintaan Anin saat mereka bersama dulu.


Bibi Ajeng tidak sengaja melihat pakaian Anin saat merapikan pakaian Kevin yang telah Ia setrika. "Beberapa bulan yang lalu, Aku sangat ingin mengusirmu dari rumah ini, tapi sekarang Aku ingin Kamu kembali kerumah ini, bibi merindukanmu Anin." bibi Ajeng memandangi pakaian Anin yang berjejer rapi di dalam lemari bersama dengan pakaian Kevin.


"Nyonya Ada seorang wanita cantik ingin menemui nyonya besar" ucap pelayan di balik pintu kamar Kevin.


"Baiklah Aku akan menemuinya" bibi Ajeng melangkahkan kakinya keluar dari kamar Anin dan menghampiri tamu di lantai bawah.


"Ada apa Kamu kesini?........


Hayo siapa yang datang?


-


-


-


-


-

__ADS_1


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.


__ADS_2