
Sepanjang perjalanan Anin diam saja setela pulang dari rumah sakit dengan Kevin. Anin merasa was-was menunggu hasil tesnya. Kevin yang menyadari kegugupan istrinya, mengengam tangan istrinya untuk menengkannya.
Kevin mengecup punggung tangan istrinya "Sayang Kamu kenapa?" tanya Kevin.
"Aku tidak apa-apa mas, Aku hanya kepikiran dengan hasil tes kesehatanku, Aku takut hasilnya tidak sesuai harapanku." lirih Anin.
Kevin menepikan mobilnya, Dia menangkup kedua pipi istrinya. "Tenanglah! ada aku, semuanya akan baik-baik saja." ucap Kevin. Walau Kevin juga merasa was-was menunggu hasilnya.
"Aku takut mengecewakan mas Kevin." ujar Anin tak ingin menatap mata suaminya, Anin merasa bersalah pada Kevin. Karena dirinya Kevin harus kehilangan anaknya tiga tahun yang lalu, dan sekarang Dia bahkan tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.
"Tenang saja sayang, aku tidak akan kecewa apapun hasilnya jadi jangan bersedih, itu membuatku sakit." Kevin mengecup kening istrinya dengan lembut. "Kita kerumah ibu ya! sudah lama Kita tidak mengunjunginya!" tanpa meminta persetujuan istrinya, Kevin melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya. Kevin berharap jika Anin bertemu dengan ibunya itu bisa menghilangkan kesedihan istrinya, karena Kevin tidak suka melihat istirnya bersedih.
"Kamu memang mengerti apa yang aku mau mas" Anin begelayut manja di lengan suaminya.
Tiga puluh menit telah berlalu, Kevin dan Anin sampai di rumah ibunya. Anin berlari masuk kedalam rumah mencari ibunya dan lansung memeluknya. Kebetulan ibunya tidak ke warung hari ini.
"Ibu Anin rindu." Anin melepaskan pelukannya dan mencium punggung tangan ibunya dengan khusuk. Kevin juga ikut mencium tangan ibu mertuanya.
Kevin hanya memperhatikan kedua wanita yang sedang berbincang di hadapannya, Kevin senang melihat senyuman istrinya.
"Ibu juga rindu nak. Ibu kira kamu marah sama ibu makanya kamu tidak mau menemui ibu setelah mengetahui yang sebenarnya." tak terasa air mata ibu Sandra mengalir begitu saja membasahi pipinya. Sandra mengira Anin marah dan kecewa padanya, karena tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Anin. Sandra melakukan itu semua karena tidak ingin Anin bersedih dan menganggap dirinya sebatang kara.
Anin menghapus air mata yang membasahi pipi ibunya. "Bu, aku tidak marah sama ibu. Anin malah berterima kasih sama ibu karena telah membesarkan Anin dengan penuh kasih sayang." ucap Anin. Ya Anin tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini.
"Tunggulah disini! ibu akan membuatkan minum untuk kalian." ibu Sandra beranjak dari duduknya.
"Tidak usah repot-repot bu." ucap Kevin.
__ADS_1
"Biar Anin saja bu!" ucap Anin yang hendak bangkit dari duduknya.
"Ibu saja, temanilah suamimu di sini!" Ibu Sandra melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk menantu dan anaknya. Sandra merasa lega karena Anin tidak berubah padanya dan juga kini Dia mempunyai dua putra yang menghormatinya, yaitu Dilan dan juga menantunya Kevin. Ya Dilan sering mengunjungi ibu Sandra dan menganggap ibu Sandra ibunya. Itulah Dilan sikapnya yang ramah dan penyayang membuat orang-orang di dekatnya terasa nyaman.
Kevin menatap istrinya yang sedang termenung dihadapannya. "Hemm," Kevin berdehem untuk mengalihkan perhatian Istrinya, dan benar saja Anin kini menatapnya. Kevin menepuk sofa di sampingnya.
Anin yang mengerti kode yang di berika suaminya segera beranjak dari duduknya dan duduk di samping suaminya. "Kenapa mas?" tanya Anin.
Kevin melingkarkan tangannya di pinggan istrinya agar istrinya semakin dekat dengannya. "Kenapa? kamu tidak suka dekat-dekat denganku?" Kevin menyetil hidung istrinya dengan lembut.
"Ais mulai lagi deh." Anin memukul pelan lengan suaminya.
Ibu Sandra datang membawa dua gelas jus jeruk dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Anin dan Kevin. "Minumlah dulu kalian pasti haus" ibu Sandra hendak melangkah kakinya meninggalkan meraka, tidak ingin menganggu sepasang kekasih yang sedang bermesraan itu.
"Ibu mau kemana? aku ingin bicara dengan ibu" ucap Anin mencegah kepergian Sandra karena ingin menanyakan sesuatu pada ibu Sandra. Sandra mengembangkan senyumnya dan duduk di hadapan Anin dan menunggu pertanyaan Anin.
"Ibu pasti mengerti, jadi tetaplah seperti ini Aku masih rindu." tanpa malu Kevin mengecup puncuk kepala Anin di hadapan Ibu sandra, dan itu membuat wajah Anin memerah karena malu di lihat oleh ibunya, apa lagi saat melihat ibunya tersenyum. "Iya kan bu?" Kevin tanpa malu meminta persetujuan ibu Sandra.
"Iya, ibu juga waktu muda begitu kok, tidak ingin lepas dari ayahmu" ucap Sandra dengan senyum mengoda pada Anin.
Anin berdecak kesal mendengar jawaban dan kerlingan mata ibunya. "Ais, mantu sama mertua sama saja." Anin mengerucutkan bibirnya membuat Kevin dan ibu Sandra tertawa.
"Sudah puas tertawanya?" Anin menatap Kevin dengan tatapan permusuhan membuat Kevin ciut dan menghentikan tawanya. Kevin tidak ingin di hukum dengan tidur diluar.
"Apa yang ingin Kamu tanyakan nak?" Sandra mengalihkan perhatian Anin yang hendak memarahi Kevin.
"Ah ia, Aku sampai lupa tujuanku, ini semua karena mas Kevin!" Anin lagi-lagi menyalahkan Kevin. "Bu bagaimana ibu bisa menemukanku? aku ingin mendengar kisah ibu!" tanya Anin dengan berbinar, Anin sudah lama ingin menayakan itu. Anin ingin tahu bagaiamana ibu Sandra bisa menemukannya.
__ADS_1
"Iya bu, Kevin juga penasaran." Kevin ikut menimpali, Kevin juga penasaran bagaimana Anin bisa bertemu dengan Ibu sandra dan Dilan tidak bisa menemukannya sampai sekarang.
Ibu Sandra menghela nafas panjang dan mulai menceritakan semuanya. "Saat itu ibu sedang jalan-jalan ke kota ini bersama ayahmu. Ibu dan ayah singgah di sebuah taman bermain anak-anak hanya untuk melihat anak-anak bermain, karena ibu belum punya anak padahal usia pernikahan kami sudah lumayan lama. Saat ibu akan pulang ibu tidak sengaja mendegar ana-anak menangis di bangku taman sendirian. Ibu mengambilnya dan mengendongnya untuk menenangkannya, anak itu terdiam di dalam gendongan ibu dan ayahmu. Ibu jatuh cinta pada padamu pada pangan pertama, senyummu dan juga mata bulatmu membuat hati ibu tersentuh. Kami seharian menemanimu hanya untuk menunggu seseorang untuk mencarimu, namun hari mulai gelap belum ada yang mencarimu. Jadi Kami memutuskan untuk membawamu pulang. Ibu memutuskan tinggal di kota ini hanya untuk menunggu ibu kandungmu mencarimu, namun satu bulan pun telah berlalu tidak ada yang mencarimu. Tapi semuanya salah Ibu Karena sangat ingin mempunyai Anak, ibu dan ayah memutuskan untuk membawamu ke bali, tanpa melapor polisi dahulu. Ibu menganti namamu dan memasukkanmu ke dalam daftar keluar kami." Sandra menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Maafkan ibu Anin karena memisahkanmu dari keluargamu sejak usiamu tiga tahun." lirih Ibu Sandra.
Kevin melepaskan rangkulannya dari tubuh istrinya dan memberi kode untuk menghibur ibu Sandra. Anin duduk di samping ibunya dan sekali lagi menyeka air mata ibunya. "Ibu tidak salah dalam hal ini, wajar jika ibu membawaku pergi karena sudah berbulan-bulan tidak ada yang mencariku." jelas Anin menenangkan ibunya.
"Jangan salahkan keluargamu, apa lagi kakakmu Dilan, dalam hal ini." ucap Sandra yang tidak ingin ada kesalahpahaman Anin dan Dilan.
"Itu tidak akan terjadi bu, Dilan juga sudah menceritakan semuanya." Anin mengembangkan senyumnya dan mengengam erat tangan ibunya.
"Kebetulan sekali kalian ada disini"
-
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up
__ADS_1