
Dua Tahun Enam Bulan Kemudian
Anin sukses menjadi wanita karir, dan juga Anin bisa mewujudkan mimpinya menjadi desainer dan juga pelukis terkenal dengan bimbingan master Long dua tahun yang lalu.
"Dilan bukankah ini berlebihan jika Aku menampilkan lukisanku di Art galeri milikmu? lukisanku tidak sebagus itu untuk di pamarkan di museum seterkenal ini" ucap Anin pada Dilan, saat Dilan menyimpan lukisan Anin di Art galerinya.
"Bukankah dari dulu lukisanmu yang lainnya juga di pamerkan?" tanya Dilan menaikkan alisnya, pasalnya sudah banyak berbagai lukisan Anin yang habis terjual dengan harga yang fantastis.
"Tapi tidak dengan memamerkannya di Art Galeri mu yang terkenal ini" protes Anin.
"Aku memamerkannya disini karena lukisanmu bagus, dengan begitu Aku juga bisa menghasilkan banyak uang, Aku kan managermu sekarang, dan ini adalah bisnis" Dilan mengedipkan sebelah matanya, membuat Anin menghela nafas, Ia lupa bahwa pria di hadapannya sekarang sudah menjadi managernya.
"Karena Kamu sudah meraih impianmu, kini saatnya Aku yang akan meraih impianku" ucap Dilan senyum. "Ayo Kita rayakan keberhasilanmu ini"
Dilan mengajak Anin ke sebuah kafe yang terbilang sangat mewah, mereka memilih duduk di sudut ruangan agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan mereka.
"Apa maksudmu akan meraih impianmu?" Anin memulai pembicaraan karena Dilan enggan memulainya.
"Karena Kamu pernah mengatakan tempo hari, bahwa ingin memulai hidup baru, maka Aku juga ingin melakukan itu" kegugupan mulai melanda hati Dilan.
"Oh hanya itu" jawab Anin acuh yang belum menyadari perasaan Dilan selama ini, toh Dilan tidak pernah menunjukkanya pada Anin.
"Anin Aku......." Dilan tidak melanjutkan perkataannya saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Terimakasih" ucap Anin sopan.
"Anin Aku ingin mengatakan sesuatu padamu" Dilan diam sebentar mengatur kata-kata yang bagus untuk di ucapkan.
Ya Dilan memutuskan untuk mengungkapkan persaanya pada Anin, setelah Dilan mengetahui bahwa Anin akan memulai hidupnya dari awal lagi, yang artinya Anin sudah mulai lupa dengan masa lalunya.
"Katakanlah" ucap Anin menyesap minumannya dan tidak menyadari kegugupan pria dihadapannya.
"Mungkin yang Aku katakan ini akan membuatmu tidak nyaman, tapi Aku harus mengatakan itu. Anin selama tiga tahun lamanya Aku memendam persaan ini, Aku mencintaimu." Dilan Diam sebentar mengatur nafasnya yang meburu seiring dengan detak jantungnya yang serasa lari maraton.
"Dilan......."
__ADS_1
"Sangat sulit bagiku menyembunyikan perasaan ini selama tiga tahun lamanya, berusaha tetap biasa saja jika di dekatmu walau jantungku serasa lari maraton, dan sekarang Aku tidak bisa lagi menyembunyikannya bahwa Aku mencintaimu Anin, maaf jika itu membuatmu tidak nyaman" Dilan segera memotong perkataan Anin, Ia takut perkataan Anin akan membuatnya hilang keberanian untuk mengatakan perasaanya.
"Glek" Anin benar-benar tidak menyangka Pria yang dianggapnya sebagai kakak ternyata mencintainya dan menganggapnya sebagai wanita bukan sebagai adik.
"Di...dilan, A..Aku. " lidah Anin terasa kelu, Ia tidak enak jika menolak cinta Dilan setelah sekian lama Dilan membantunya, namun di sisi lain hatinya masih menyimpan satu nama yaitu Kevin.
"Aku mengungkapkan perasaanku, bukan untuk Kamu balas Anin, Aku hanya ingin Kamu tahu perasaanku agar Aku tidak lagi bersandiwara di depanmu. Jangan terbebani dengan perkataanku tadi Aku tidak suka itu" ucap Dilan yang mengetahui kegugupan Anin, dan juga tahu bahwa Anin tidak mungkin mencintainya karena di hatinya masih ada Kevin, Dilan selalu mendengar Anin menyebut nama Kevin jika sedang tidur.
"Maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu Dilan" Anin mencoba memperlihatkan senyumnya.
"Tapi berhati-hatilah Anin, sekarang Aku akan mulai menyerangmu, Aku tidak segang-segang memperlihatkan perhatianku padamu dan juga tidak akan menjaga jarak lagi darimu" Dilan mengedipkan matanya mencoba mencairkan suasana walau hatinya terasa perih karena di tolak. Tapi Dilan tidak masalah dengan itu, yang terpenting baginya adalah wanita yang Ia cintai hidup bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kevin yang juga berhasil mengatasi kesedihan hatinya, walau terkadang masi merindukan Anin. Sekarang Ia benar-benar menjadi pengusaha muda yang sangat sukses, kini bisnisnya menyebar hingga keluar negeri dan berkembang di berbagai bidang, salah satunya Kevin membangun anak cabang yang begerak di bidang fasion.
Kevin memutuskan membuka anak cabang baru di bidang fasion dan beberapa butik di luar kota hanya untuk mewujudkan impian Anin yang ingin memiliki sebuah butik.
"Tiga hari lagi, ada meeting penting dengan Tuan Fang untuk membahas anak cabang yang ada di Beijing Tuan, Saya akan mempersipkan semuanya, untuk keberangkatan Anda kesana" jelas Ans membacakan agenda Kevin hari ini dan beberapa hari kedepan.
"Baik Tuan" ucap Ans dan berlalu pergi untuk menemui Elvan di ruangannya. Ya sekarang Elvan sudah bekerja di kantor pusat dan juga memegang jabatan penting.
____
Kevin yang sedang sibuk dengan pekerjaanya di kagetkan dengan suara ponselnya yang bedering. Kevin mendegus kesal namun tetap menjawab panggilan dari Elvan
"Ada apa ?" tanya Kevin datar.
"Kak Aku tidak bisa berangkat ke Beijing, Aku tidak di perbolehkan naik pesawat karena demam" ucap Elvan di seberang sana. Ya Elvan sudah berada di bandara namun tidak di perbolehkan naik pesat kerena suhu tubuhnya yang panas.
Kevin mendegus kesal mendengar berita Elvan, dan mau tidak mau, Dia yang harus berangkat ke Beijing untuk menemui Tuan Fang.
"Pulanglah, Aku yang akan pergi" perintah Kevin dan memutuskan sambungan telfonnya. Setelah itu Kevin segera menghubungi sekretarisnya dan menyuruhnya keruangannya.
"Ada apaTuan memanggilku?" Ans berjalan memasuki ruangan Kevin dengan langkah gontai dan kurang semangat hidup.
__ADS_1
"Segera persiapakan keberangkatanku ke Beijing hari ini" perintah Kevin.
"Baik Tuan" Ans mengiyakan perintah Kevin tanpa protes seperti sebelum-sebelumnya.
Kevin merasa aneh dengan sikap sekretarisnya. Biasanya Ans akan selalu memprotes setiap keputusan Kevin namun ini tidak dan malah mengiyakan saja. "Kau kenapa?" tanya Kevin informal saat melihat wajah lusuh sahabatnya.
"Aku bertengkar dengan Tari, dan Tari meminta putus padaku" curhat Ans pada Kevin.
"Kenapa?" tanya Kevin penasaran.
"Dia menolak lamaranku" jawab Ans singkat
"Bukankah kalian saling mencintai?"
"Ya Kami saling mencintai, namun masalahnya Tari tidak ingin menikah sebelum nona Anin kembali, Dia ingin nona Anin yang mendampinginya saat menikah nanti, Kamu kan tahu sendiri Tari tidak mempunyai siapa-siapa kecuali Anin." jelas Ans panjang lebar.
"Hah ternyata Tari sehati denganku" batin Kevin.
Bukannya bersedih, Kevin malah mengembangkan senyumnya " Aku setuju dengan pacarmu itu, bersabarlah hingga Istriku kembali" Kevin senyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Ans kesal.
"Dasar teman tidak punya akhlak" kesal Ans membuat tawa Kevin pecah.
-
-
-
-
-
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.
__ADS_1