Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah
Ziarah


__ADS_3

"Kebetulan sekali kalian ada disini." Dilan mengembangkan senyumnya dan berjalan menghampiri Anin, Kevin dan ibu Sandra.


Anin menoleh ketika mendegar suara orang yang Dia rindukan. Anin berlari dan menghambur masuk kedalam pelukan Dilan, membuat Dilan tersyenyum."Kak Dilan sudah pulang? kenapa tidak mengabari Anin?" tanya Anin mengerucutkan bibirnya.


Ya setelah Dilan bertemu Kevin di Club, Dilan berangkat ke Beijing karena ada urusan mendadak.


"Sudah peluk-peluknya?" ucap Kevin kesal. Kevin ikut berdiri dan menarik istrinya menjauh dari Dilan.


Dilan geleng-geleng kepala melihat tingkah adik iparnya. "Posesif amat suami kamu Nin." goda Dilan.


"Iya nih kak, padahalkan bukan orang lain." cibir Anin.


Ibu Sandra dan Dilan menahan tawa melihat tingkah sepasang kekasih di hadapan mereka.


"Kamu tidak lupa kan apa yang aku katakan kemarin?" tanya Kevin.


"Aku ingat masku sayang. Kak Dilan itu juga laki-laki normal!" ucap Anin membuat Dilan dan ibu Sandra tertawa lepas. Bisa-bisanya menantunya itu cemburu dengan kakak iparnya sendiri.


"Sudah-sudah, apa kalian tidak capek berdiri." ucap ibu Sandra masih dengan tawanya, sementara Kevin terlihat kesal.


Merekapun duduk bersama, bercerita dan bersenda gurau, Anin merasa bahagia karena bisa berkumpul seperti ini, apa lagi suami yang sangat Anin cintai berada di sampingnya.


"Rencananya hari ini aku mau ziarah ke makam ibu ada ayah, apa kamu mau iku?" tanya Dilan pada Anin.


"Iya kak Anin mau ikut." Anin mengangukkan kepalanya. Anin menatap suaminya. "Mas boleh kan?" Anin meminta persetujuan suaminya.


Senyum Kevin terbit melihat binar kebahagian di mata istrinya. Kevin mengusap puncuk kepala istrinya dengan lembut. "Boleh dong sayang. Aku juga mau menemui orang tuamu?"


"Terimakasih mas." Anin memeluk lengan suaminya.


"Hem," Dilan berdehem. "Serasa dunia milik kalian berdua saja, sementara yang lainnya cuma ngontrak." ledek Dilan saat melihat kemesraan adiknya.


"Bilang saja kamu iri, pakai nyindir segala." ucap Kevin ketus. Kevin belum sepenuhnya terima jika Dilan terus berada di dekat istrinya walau Dia sudah tahu bahwa Dilan adalah kakak iparnya.


"Aku itu kakak ipar kamu ya!" ucap Dilan.


"Aku tahu, lalu kenapa?" tanya Kevin. Suasana mulai memanas.

__ADS_1


"Kamu harus sopan padaku!" Dilan menatap tajam pada Kevin.


"Apa aku harus mencium tanganmu agar aku di angap sopan hah?" bentak Kevin.


"Bisa tidak kalian akur!" bentak Anin yang sudah muak melihat mereka bertengkar jika bertemu.


"Tidak." jawab Kevin dan Dilan serempak membuat Anin menghela nafas panjang.


"Mas," panggil Anin.


"Iya sayang ada apa?" Suara Kevin tiba-tiba lembut.


"Hah giliran bicara sama Anin lembut begitu." batin Dilan.


"Kak Dilan itu saudara kandungku, jadi jangan cemburuan deh." bisik Anin di telinga Kevin.


"Hemm." jawab Kevin singkat.


"Kalian berangkatnya jam berapa?" tanya ibu Sandra yang hanya menyaksikan pertengkaran kedua Pria di hadapannya tanpa ingin ikut campur masalah anak muda.


"Ibu ikut ya, ibu ingin minta maaf ke orang tua kalian, karena memisahkan kalian selama dua puluh tahun." ujar ibu Sandra.


"Ibu bilang apa sih, itu semua bukan kesalahan ibu, takdir Anin aja yang harus berpisah dengan keluarga" Anin tidak suka jika ibu Sandra menyalahkan dirinya terus-menerus, bagaimanapun dia adalah malaikat tak bersayap selama dua puluh tahun ini.


"Yang di katakan Anin benar bu, ibu tidak salah, tapi jika ibu ingin ikut tidak masalah." Dilan ikut menimpali.


_______


Sesuai rencana mereka berempat. Mereka berangkat setelah makan siang bersama di rumah ibu Sandra. Walau sebelum berangkat ada saja terjadi drama antara Kevin dan Dilan, yang berdebat hanya karena mobil siapa yang akan mereka pakai, dan akhirnya mereka membawa mobil masing-masing, dan tentu saja Kevin bersama Anin, dan Dilan bersama ibu Sandra.


Mereka menempuh perjalan kurang lebih satu jam untuk sampai di pemakaman orang tua Anin. Anin berdiri di belakang Dilan yang sedang mendoakan orang tuanya. Kevin sedari tadi terus mengengam tangan Anin untuk menguatkannya.


"Ayah ibu, lihatlah Dilan hari ini tidak datang sendiri, Dilan membawa adik Dilan yah, bu. Dilan sudah menepati janji Dilan pada ayah dan ibu, semoga ibu dan ayah sekarang bisa tenang di surga. Dilan berjanji akan melindungi Dela sampai Dilan menghembuskan nafas terakhir." lirih Dilan mengusap batu nisan ibu dan ayahnya secara bergantian.


Setelah berdoa dan mengatakan apa yang ingin Dilan katakan. Dilan meninggalkan Anin dan juga Kevin untuk memberikannya kesempatan berdoa dan mengutarakan isi hatinya. Dilan dan ibu Sandra pulang duluan setelah berpamitan dengan Kevin.


Anin dan Kevin berjongkok di tengah-tengah makam orang tuanya. "Ayah ibu, maafkan Anin yang tidak mengunjungi ibu selama dua puluh tahun ini, maafkan Anin karena tidak bisa berbakti pada ibu." Anin mengusap batu nisan orang tuanya secara bergantian dengan linangan air mata yang tak mampu di bendungnya.

__ADS_1


Kevin menarik Anin kedalam pelukannya, dan membiarkan Anin menumpahkan kesedihannya.


"Ayah ibu, lihatlah anakmu ini sudah besar, Dia sudah menikah dan mempunyai suami yang tampan dan juga sangat mencintainya. Jadi ibu dan ayah tidak perlu khawatir pada Anin, dan kak Dilan tidak perlu menepati janjinya, karena sudah ada mas Kevin yang akan menjagaku sampai Aku tua nanti." lirih Anin dalam pelukan Kevin.


Kevin tak mampu mengucapkan sepata katapun, lidahnya terasa kelu mendegar penuturan istrinya. Yang mampu Kevin lakukan saat ini hanya menengkan istrinya dan sekali-kali Kevin mengecup puncuk kepala istrinya. Tak terasa air mata Kevin ikut mengalir seakan merasakan kesedihan istrinya. Selama bertahun-tahun berpisah dengan orang tuanya. Dan saat Anin mengetahui semuanya, orang tuanya sudah tiada. hati siapa yang tidak akan hancur mendapatkan kenyataan itu.


Setelah Anin merasa tenang di dalam pelukan Kevin. Kevin melepaskan pelukannya dan menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipi istrinya. Kevin menyelipkan rambut Anin kebelakang telingannya, karena menutupi wajah cantik istrinya. Kevin mencium kening, pipi, hidung, dan bibir istrinya di hadapan makam orang tua istrinya. "Ayah ibu, aku berjanji akan membahagiakan anakmu!" janji Kevin di depan makam orang tua Anin.


Anin merasa terharu mendegar janji suaminya. Anin memeluk Kevin begitu erat seakan Anin engang untuk melepaskan suaminya.


"Mau jalan-jalan ngak? disini ada taman di pinggir danau, enaklo di nikmati sore hari begini." ajak Kevin pada Anin. Kevin mengajak Anin ke taman dekat danau, bertujuan agar Anin tidak bersedih lagi.


"Mau mas." Anin mengagukkan kepalanya, dan bergelayut manja di lengan Kevin.


Lima belas menit, akhirnya mereka berdua sampai di taman dimana Kevin ceritakan tadi. Anin merasa takjub melihat pemandangan danau di taman itu, danau yang begitu asri dan menyenjukkan hati, di tambah semilir angin semakin menyenjukkan pengunjung taman. Anin duduk di pinggir danau beralaskan karpet yang di beli Kevin dekat taman, karena tak ingin baju istinya kotor.


Kevin tidur di pangkuan Anin, dan sekali-kali mencium perut Anin. Anin mengangkat tangannya melindungi wajah Kevin dari sinar matahari sore itu.


Anin mengambil ponsel Kevin yang berdering di dalam saku celana Kevin. "Mas, dokter Rian." Anin memberikan ponsel nya pada Kevin. Perasaan Anin jadi cemas mengetahui dokter Rian menelfon suaminya, karena dokter Rian mengatakan bahwa jika hasilnya sudah keluar, dokter Rian akan menghubungi suaminya.



Foto mereka di taman.


-


-


-


-


-


TBC


Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up

__ADS_1


__ADS_2