
Anin terbangun dari tidurnya saat merasakan cacingnya meronta ingin segera di beri makan. Anin membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Kevin masih tertidur lelap memeluknya.
"Ais kenapa Kamu tampan sekali mas?" Anin mengelus pipi Kevin dengan lembut. "Pantas saja Anna tidak ingin melepaskanmu, tapi Aku berjanji tidak akan lagi meninggalkanmu dalam keadaan apapun itu" Anin mengecup lembut bibir Kevin membuat sang empunya mengeliat dan membuka matanya.
"Kamu sedang mengodaku hah?" gumam Kevin namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh Anin, Kevin semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di leher sang istri, dan sekali-kali menyesap leher Anin dan meninggalkan bekas kepemilikan disana.
"Mas Kevin geli ih" Anin menangkup kedua pipi Kevin agar Kevin menatapanya dan tidak lagi melakukan aksinya yang mengek-gesekkan hidung mancungnya di leher Anin.
"Kamu yang mengodaku duluan sayang" Kevin menindih tubuh Anin dan ******* habis bibir Anin membuat Anin medesah dan itu membuat gairah Kevin semakin berkobar.
"Massss, Aku lapar Kita makan dulu ya" Anin mendorong tubuh kekar Kevin karena Anin hampir kehabisan nafas.
"Tanggung sayang, Aku sudah lama puasa, nanti setelah Aku memakanmu Kamu boleh makan sepuasmu" Kevin menatap Anin dengan tatapan sayu membuat Anin tak tega jika harus menolak keinginan Kevin.
"Bukannya itu keingian mas sen....." Anin tidak bisa lagi melanjutkan perkatannya saat Kevin membungkam mulutnya dengan ciuman yang begit lembut, namun lama kelamaat ciuman itu berumah menjadi lu*atan dan semakin menuntut dan kasar.
"Mas Ak......" perkataan Anin lagi-lagi di potong dengan ciuman Kevin dan itu membuat Anin tak kuat lagi dan mulai terbawa suasana, lama Kevin bermain-main dengan tubuh Anin hingga Kevin tidak bisa lagi menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.
Kevin seketika menghentikan kegiatannya saat melihat bercak merah di bawah sana. "Sayang kok berdarah? Aku belum ngapa-ngapain loh" Kevin yang tadinya terbakar gairah kini seperti orang bodah karena terkejut dengan apa yang di lihatanya.
Anin tergelak dan tawanya pecah saat melihat ekspresi Kevin yang bingung dan juga kaget. "Mas Aku tuh mau bilang tadi bahwa Aku tuh lagi mens, tapi mas Kevin tidak memberiku kesempatan dan langsung menyerangku" Anin benar-benar puas melihat raut wajah Kevin yang kini cemberut dan merebahkan dirinya di sampingannya.
"Sejak kapan?" tanya Kevin menyelidik dan menarik selimut untuk menutupi tubuh bugil Anin.
"Kemarin mas"Anin memainkan jarinya di dada bidang Kevin yang terekspos sempurna di hadapannya.
"Pantas saja dari kemarin sensitif mulu, dikit-dikit marah" gumam Kevin namun masih bisa di dengar samar-samar oleh Anin.
__ADS_1
Seketika tangan Anin mencubit perut Kevin. "Mas Kevin mengumpatku ya?" Anin meleparkan tatapan menyelidik pada Kevin dan Kevin hanya cengegesan menanggapi tatapan tajam Anin.
Kevin mengengam tangan Anin yang masih setia berada di perutnya. "Sayang kondisikan tanganmu, apa Kamu tega membuatku tersiksa?"
Anin reflek memindahkan tangannya di perut Kevin. "Mas Aku lapar" rengek Anin manja.
"Kamu maunya makan disini atau Kita makan diluar sayang?" Kevin mengecup kening Anin.
"Kita makan di luar saja mas, sekalian Kita jalan-jalan sesuai janji mas Kevin sebelum tidur tadi" Anin menagih janjinya pada Kevin.
"Baiklah sayang, Aku akan menuruti semua kemauan nyonya Kevin" Kevin mengedipkan matanya. "Sana siap-siap" perintah Kevin melepaskan pelukannya, Ia tidak tega jika membuat Anin kelaparan.
Anin mengecup bibir Kevin sekilas dan berlari masuk kedalam kamar mandi dengan balutan bed cover di tubuhnya. "Hei Kamu mulai berani ya" teriak Kevin saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari sang Istri, Anin yang mendegar teriakan Kevin hanya tersenyum.
"Akhirnya Aku bisa bernafa lega untuk beberapa saat, karena Anin benar-benar tidak hamil. Maaf sayang karena Aku begitu kejam padamu, bahkan Aku tidak membiarkanmu hamil untuk saat ini, walau Aku tahu Kamu sangat menginginkan itu" batin Kevin merasa lega dan juga bersalah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas sebenarnya Kita mau kemanasih? dan tempat yang mana? apa tempat yang Kita akan tuju juga ada di dalam buku ini?" tanya Anin antusias memperlihatkan buku panduan wisata yang di pegangnya.
"Liburannya besok saja ya! hari ini Aku ingin mengajakmu ke beberapa tempat yang belum pernah Kamu kunjungi sebelumnya di pulau ini" ucao Kevin mencium jari-jemari Anin yang di ngengamnya sedari tadi.
Beberapa menit berkemudi meyusuri jalan raya, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah perpustakaan khusus anak-anak. Anin mengedarkan pandangannya kesana kemari memperhatikan setiap bangunan di sekitarnya. Dari penilaian Anin sendiri sepertinya bangunan itu masih terbilang baru.
"Sayang ayo turun!" Kevin membukakan pintu mobil untuk Anin.
Anin mengikuti perintah Kevin dan memeluk lengan kekar Kevin. "Mas kenapa Kita kesini?" tanya Anin mengikuti langkah kaki suaminya memasuki perpustakaan khusus anak-anak itu.
__ADS_1
Kevin tidak menjawab pertanyaan Anin dan malah mengembangkan senyumnya saat melihat anak-anak sedang bersenda gurau dengan teman-temannya.
"Seandainya Kamu hidup nak, mungkin Kamu akan sebesar mereka" batin Kevin sedih mengingat anaknya yang belum sempat Ia dengar tangisnya namun sudah meninggalkannya.
"Maafkan ibu nak karena tidak bisa menjagamu" pikiran Anin menerawang jauh mengingat masa lalunya yang begitu memilukan.
"Sayang" panggil Kevin memecah lamunan Anin, Kevin tahu betul bagaiamana persaan Anin saat ini, Anin pasti kembali teringat dengan kenangan menyakitnya yang dulu mereka lalui. Ya Kevin sengaja membangun rumah baca ini khusus anak-anak tiga tahu yang lalu. Dan Kevin sengaja membawa Anin kesini, untuk mendekatkan Anin dengan masa lalunya, karena dokter mengatakan bahwa Anin bisa sembuh jika Dia benar-benar bisa menerima masa lalunya dan tentunya di bantu dengan obat-obatan.
"Mas jika saja Anak Kita masih hidup pasti Dia sangat bahagia berada di rumah baca ini, lihatlah rumah baca ini seperti bukan rumah, namun lebih terlihat seperti taman. Karpet sengaja di buat seperti hamparan rumput yang halus, dan terdapat pepohonan imitasi menghiasi ruangan di setiap ruangan, belum lagi bunga-bunga dan lihat itu" Anin menunjuk langit-langit ruangan tersebut. "Terlihat seperti langit sesungguhnya" Anin mengembangkan senyumnya walau terasa perih di hatinya dan berusaha menahan gejolak yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan sana seperti bom waktu.
"Sayang lihat senyuman mereka begitu menghangatkan hati yang melihatnya" Kevin menarik Anin untuk bergabung dengan anak-anak, dan dengan senang hati Anin bermain dengan anak-anak tersebut, membuat hati Kevin menghangat melihatnya namun juga ada rasa sesak mendapati kenyataan yang sebenarnya.
"Mas sepertinya Aku tidak asing dengan desain ini" ucap Anin yang baru menyadari bahwa desain rumah ini seperti desain yang pernah di buatnya tiga tahun yang lalu.
"Nona.........
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
TBC
Jangan lupa dukung Author dengan memberikan Like, komen, Vote, dan jangan lupa menambahkan sebagai cerita favorit kalian, agar mendapatkan notifikasi setiap up.