
“ Luna sampaikan salamku pada om dan tante, maaf belum bisa menyapa” ucap Hanny melalui via telepon. Dia sedang menikmati minuman di tepi kolam dengan kakinya yang bermain dengan air.
“ Tidak apa-apa kak. Kakak nikmati saja liburannya.” Sambil menyemprotkan spray wajah.
“ Luna apa kau akan segera melangsungkan pernikahanmu dengan Mark?”
“ Kakak…”
“ Hahaha.. aku sungguh berharap begitu. Om dan tante sudah kembali, apalagi yang kau tunggu?”
“ Kakak kau jangan menggodaku lagi, aku tidak mau membahas hal itu. Kakak nikmatilah liburannya, aku akan menutup telvonnya.”
“ Baiklah. good night ” sambil memutuskan panggilan.
Luna melemparkan ponselnya di ranjang, lalu dia juga menghempaskan dirinya di ranjang. Dia memejamkan matanya, pertanyaan Hanny mengenai pernikahan juga terlintas di pikirannya.
Dia mengangkat tangannya ke atas , dia memandangi dengan senyum cincin pertunanganannya dengan Mark. Tapi seketika itu juga dia menyadari sesuatu, hingga pupil matanya membesar.
“ Oh iya, mengenai pertunangananku dengan Mark, apakah papa dan mama sudah mengetahuinya?”
Luna mengusap wajahnya, dia merasa sangat bodoh. Untuk hal ini tidak mungkin papa dan mamanya tidak mengetahuinya, karena papanya adalah orang yang update, meskipun Mark tidak memberitahunya. Tapi papanya pasti sudah membaca berita ketika dia sudah di orangtuanya sudah di berikan kebebasan oleh Mark.
Apalagi dia dan Mark juga memakai cincin yang sama, mustahil jika papa dan mamanya tidak memperhatikan itu.
“ Jadi hal apakah yang di bicarakan papa pada Mark tadi? Apakah ada kaitannya dengan ini?” Luna menjadi tidak tenang. semuanya berkecamuk dalam pikirannya, hingga dia memilih untuk menemui papa dan mamanya.
Luna langsung keluar dari kamarnya dan berjalan tanpa ragu menuju kamar orang tuanya. Saat sampai di depan pintu, Luna menghela nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu.
“ Hmmmm hufftt.. aku harus berani. Aku tidak boleh terlihat bodoh di depan papa dan mama.” Luna langsung mengetuk pintu.
‘ tok tok ‘
‘ Krack’ dengan segera mama Luna membukakan pintu.
“ Sayang, ayo masuk.” Ajak mamanya dengan senyum.
Luna tersenyum canggung, “ Kenapa mama langsung membuka pintu? Apa mereka memang sudah menduga bahwa aku akan datang?” Luna menerka-nerka dalam hatinya.
Mama Luna menggandeng tangannya untuk masuk, tapi di dalam kamar Luna tidak mendapati papanya.
“ Mana papa ma?”
“ Sini...” sambil menggiring Luna ke balkon.
Saat Luna sudah sampai di balkon, Luna mendapati papanya sedang membaca buku, 3 gelas minuman sudah tersedia di meja dan juga berbagai buah-buahan.
“ Ternyata benar, mereka sudah mengetahui semuanya.. dan mereka memang sudah memperkirakan aku akan datang menemui mereka.” bisik hati Luna merasa sangat malu.
“ Sayang ada apa dengan ekspresi itu?” tanya papa Luna dengan polos.
“ Hehe.. tidak ada apa apa pa” sambil duduk dan menundukkan kepala dengan canggung.
Luna masih menundukkan kepalanya, dia meremas-remas jemarinya dengan sesekali mengusap cincin pertunanganannya. Sementara papa dan mamanya saling tatap melihat tingkah putrinya itu.
“ Pa, ma..maafkan Luna, karena tidak mengatakan hal ini saat papa dan mama datang.” Luna memulai pembicaraan dengan memberanikan diri untuk menatap wajah kedua orang tuanya.
“ Aku rasa papa dan mama sudah mengetahuinya, dan kalian sekarang pasti sedang menunggu pengakuanku. Semuanya sudah begitu di siapkan.” Lanjut Luna dengan suara yang tiba-tiba memelan karna merasa bersalah.
Mama Luna tersenyum, dia tidak tega melihat wajah putrinya yang merasa bersalah. Sementara dia tahu bahwa banyak hal sulit yang telah di lalui putrinya sepeninggalan mereka.
__ADS_1
“ Sayang.. kamu jangan seperti itu. Mama dan papa memang sedang menunggumu, tapi bukan untuk melihat kamu bersalah seperti ini.” sambil memegangi tangan Luna.
“ Luna.. papa dan mama benar-benar minta maaf padamu. Karena kami meninggalkanmu dan kamu harus mengalami masa-masa yang sulit dalam waktu yang lama. Papa benar-benar minta maaf.” Dengan suara yang sedih.
“ Tidak pa, aku tidak masalah dengan itu. Papa jangan seperti ini.”
“ Bagaimana tidak, karena kesalahpahaman ini, Mark memperlakukanmu dengan buruk. Dan mengenai pertunaganan kamu pasti sangat tersiksa.”
“ Iya sayang.. mama dan papa benar-benar minta maaf. Kau meninggalkan impianmu hingga belajar mengurus perusahaan, lalu bertunangan dengan orang yang memperlakukanmu dengan buruk. Bukankah itu sangat menyakitkan. Mama dan papa benar-benar merasa sangat bersalah. Hiks..” di iringi dengan suara tangis.
“ Tidak pa, ma.. kalian dengarkan dulu penjelasanku. Ini tidak seburuk yang kalian pikirkan.” Luna dengan tegas menghentikan persepsi orangtuanya. Dia tidak mau papa dan mamanya berfikiran lebih jauh lagi dan semakin salah paham.
“ Maksud kamu?” tanya papa dan mamanya secara serentak. Mereka benar-benar berakting seolah-olah tidak tahu apa-apa. Agar mereka mendengarkan penjelasan langsung dari putrinya.
“ Awal Mark datang ke rumah ini....” Luna mulai menceritakan semuanya.
.
.
Mark berada di ruang kerjanya sedang melakukan panggilan terlvon.
“ Ibu..apa kau tidak merindukanku? Aku setiap hari mencoba untuk menghubungimu tapi kau tidak menjawab panggilanku, dan ketika aku menelvon tante dan memintanya untuk memberi telvon padamu, ibu juga menolak untuk berbicara denganku. Sampai kapan ibu akan terus menghindariku???”
Dalam panggilan yang terhubung itu tidak ada respon sama sekali, hanya hening dan kesunyian. Hal itu tentu membuat Mark sangat sedih, karena ibunya selalu menghindarinya.
“ Baiklah, jika ibu masih tidak ingin bicara padaku. Tapi setidaknya ibu mendengarkanku. Ibu ingatlah baik-baik, aku sangat menyanyangimu sampai kapanpun. Mau bagaimanapun ibu menghinndariku, tidak mau bicara, bahkan sampai tidak mau menatapku nanti, aku akan tetap menyanyangimu.”
Dengan banyaknya kata yang telah di ungkapkan oleh Mark, tidak ada juga tanggapan. Mata Mark mulai berkaca-kaca, tapi dia tetap berusaha untuk tenang.
“ Ibu aku menghubungimu juga ingin memberitahumu, bahwa aku telah menemukan wanita yang sangat aku cintai. Dalam waktu dekat aku akan memperkenalkannya padamu dan meminta restumu.”
Mark tersenyum pedih, dia mengusap wajahnya.
“ Ibu.. sampai kapan ibu akan terus begini?” Gumam Mark penuh kepedihan.
.
.
“ Sungguh?” tanya papa dan mama Luna secara serentak, setelah mendengar penjelasannya.
“ Iya.. “ sambil menganggukkan kepalanya.
“ Oleh karena, itu aku dan Mark menggunakan cincin ini!” Luna menunjukkan jemarinya yang menggunakan cincin pertuanganan mereka.
“ Luna..apa kamu benar-benar sudah yakin dengan pilihanmu?” tanya papanya yang tiba-tiba dingin.
“ Iya pa, Luna benar-benar mencintai Mark dan Mark juga mencintai Luna.”
“ Baiklah, papa percaya dengan ucapanmu. “ dengan nada seolah-olah kurang percaya.
“ Pa…” rengek Luna
“ Luna.. papa begini bukan berarti tidak merestui hubungan kalian. Kamu adalah putri papa satu-satunya, jadi orang yag menjadi pendampingmu haruslah orang yang benar-benar bisa diandalkan, melindungimu dan tidak akan menyakitimu. Papa dan mama tidak akan pernah rela jika ada orang menyakitimu.”
“ Seperti dugaanku. Papa memang tidak akan mudah menerima Mark untuk menikahiku. Jadi aku bisa bernafas lega, yee..aku bisa melanjutkan pendidikanku dengan tenang” soarak Luna dalam hatinya.
“ Humm..selamat berjuang Mark” lanjut Luna dengan senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
“ Sayang kamu kenapa senyum-senyum?” mama Luna memperhatiakannya dengan tatapan bingung.
“ Ah tidak apa-apa ma. Luna hanya senang saja” sambil tertawa.
“ Hey..papa baru saja mengatakan tidak akan memberi jalan yang mudah untuk hubungan kalian sayang! Kenapa kamu malah senang?”
“ Bukankah itu lebih baik. Jadi aku bisa melihat kegigihan Mark. Papa memang yang tebaik!” dengan mengacungkan kedua jempolnya.
“ Haha..baiklah. Terserah kamu saja” ucap mama Luna sambil mengusap kepala putrinya, tapi tawanya sedikit kecut.
Tuan Aliester memandang putrinya dengan tersenyum, tapi di balik senyum itu tersimpan ribuan siasatnya.
“ Suamiku, ada apa dengan senyummu itu. apa lagi yang kau rencanakan sekarang? Apa tidak cukup dengan mengerjai calon menantuku saja? apakah sekarang kau berencana mengerjai putriku juga?” gumam mama Luna sambil memandangi suaminya penuh kekesalan.
“ Oh iya… mengenai perusahaan dan rumah ini, papa tidak mungkin baru mengetahuinya darikukan?” tiba-tiba kesal.
“ Tentu saja papa sudah mengetahuinya dari awal” dengan sangat santai, lalu tuan Aliester mendenguk minumannya.
“ Lalu kenapa papa memperlakukan Mark seolah-olah tidak mengetahuinya?”
“ Terserah papa..tidak hanya itu, besok papa juga berencana untuk kembali ke kantor.”
“ Papa… sejak kapan papa menjadi tidak tahu malu begini?” Luna semakin kesal, karena setahunya papanya bukanlah orang yang seperti ini.
“ Kenapa kamu marah, Mark saja tidak mempermasalahkannya.”
“ Tapi kita tetap harus menjaga martabat kita. Besok aku akan mencari apartement, kita akan pindah…”
‘ tak ‘ tiba-tiba tuan Aliester menjentik kening Luna sebelum Luna menyelesaikan kalimatnya.
“ Awww..” sambil memegangi keningnya dengan mode merajuk yang imut.
“ Kenapa putriku bodoh sekali. Bukankah kau dan Mark saling mencintai? Jadi mana mungkin dia menolakku.” Sambil tertawa jahat.
“ Aaaaa..papa sejak kapan kau jadi seperti ini? mama..apakah ini benar-benar papaku? Kenapa tidak tahu malu sama sekali?”
“ Mama juga bingung..”
“ Benar-benar tidak dapat di percaya.” Teriak Luna sangat kesal.
Luna dan papanya berdebat panjang mengenai hal ini. Hingga akhirnya Luna di usir paksa untuk keluar dari kamar itu oleh papanya.
“ Paa..Luna mohon” sambil bergelantugan di tangan papanya yang terus berjalan menuju pintu.
“ Sudahlah, tidak akan ada kesepakatan antara kita.”
‘ toing..” Luna terlempar keluar.
‘ brackk..’ lalu tuan Aliester menutup pintu kamar dengan keras.
“ Pa..buka pintunya…” dengan terus menggedor-gedor.
“ Luna, jika kamu terus berisik, maka papa akan lebih tidak tahu malu lagi” sorak Tuan Aliester dari dalam.
“ Eh..” Luna semakin terkejut dan akhirnya dia memilih untuk berhenti dan kembali ke kamarnya.
“ Ya Tuhan… apa yang terjadi dengan papaku? Jika begini lebih baik aku harus menelvon Mark. Aku akan memohon pengertiannya. Aku rasa ada yang salah dengan otak papa karena kecelakaan itu.” Luna bergegas ke kamarnya.
Bersambung...
__ADS_1