
Nindy tampak memasuki pesawat first class. Dia sengaja kebarangkatan jam siang ke Jepang, karena masih ada beberapa urusan kantor yang harus dia kerjakan tadi pagi.
“Hufft..” Nindy menghembus kuat nafasnya ketika dia sudah duduk di seat. Cukup melelahkan, karena tadi dia terburu-buru saat menuju bandara.
Pandangan Nindy menatap keluar saat pesawat lepas landas. Nindy menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Tangannya juga memegangi tengkuknya. Sepertinya dia benar-benar lelah.
Saat pramugari datang menawarkan makanan dan minuman padanya, Nindy meminta pramugari untuk mengubah kursi seat nya menjadi tempat tidur. Agar dia bisa beristiharat setelahnya.
Tentunya dengan senang hati, pramugari membantu. Setelah selesai Nindy langsung duduk bersandar, membuka meja portable dan manaruh makanannya.
Sebelum mulai makan, Nindy menyalakan LCD di depannya. Agar lebih privasi lagi, Nindy mau menggeser pintunya, tapi seketika mata Nindy membulat.
“Kak Jiang He?” ucapnya heran, ketika melihat Jiang He tepat di sampingnya. Sementara Jiang He juga tampak terkejut saat menoleh padanya.
“Jepang, Luna.” ucapnya bersamaan, lalu dengan cepat Nindy menutup mulutnya karena takut suaranya yang cukup keras mengganggu penumpang lainnya.
Jiang tampak tertawa pelan melihat tingkah Nindy, lalu dia menyuruh Nindy untuk melanjutkan makan dengan gerak tanggannya. Karena dia melihat Nindy sudah siap dengan makanan di mejanya.
“Kakak tidak makan?” tanyanya.
“Tidak. Aku ingin istirahat.” Ucap Jiang He. Dia melempar senyum, lalu menutup pintu seat nya.
Nindy tampak kegirangan, dia bahkan melambaikan tangannya walaupun Jiang He sudah menutup pintu seat.
“Ya ampun.. kenapa bisa begini? Apa Luna sengaja melakukannya?” gumamnya sambil menggeser pintu. “Tapi kenapa? Dia kan tidak mengetahui bahwa aku ingin mengejar kak Jiang He.” Nindy memiringkan kepalanya tampak berfikir. “Ah, masa bodoh.” terus senyum-senyum. Saat makanpun dia tidak bisa mengendalikan senyumnya. Seolah lelahnya yang dia rasakan tadi juga hilang.
"Aku bohong pada kak Key jika ke Jepang untuk reuni teman kampus, karena takut dia akan mentertawaiku mengganggu pasangan yang sedang honeymoon. Tapi jika kak Jiang He juga ikut, kira-kira apa yang direncanakan Luna ya? "
Di sisi lain, Jiang He tampak terdiam. Setelah beberapa saat, Jiang He menggelengkan kepalanya. Lalu memulai ritual istirahatnya.
***
“Kenapa kamu sangat yakin jika pertemuan mereka seperti ekspektasimu?” Mark mengusap pipi Luna yang bersandar di bahunya.
Saat ini mereka sedang bersantai di kursi selonjoran yang cukup besar, menghadap balkon kamarnya. Dimana dari sana mereka bisa menikmati view langit biru dan bunga sakura yang bermekaran
“Tentu saja aku yakin sayang. Aku mengenal mereka berdua,” Luna tampak senyum-senyum dengan kalimatnya.
“Aku telah mengatur semuanya dengan baik. Memesan tiket mereka berdua dan aku juga memilih tempat yang starategis untuk drama pertemuan Nindy dan kak Jiang He di pesawat. Agar mereka bisa saling melihat, terkejut, bingung, lalu saling lempar senyum. Yang satu antusaias dengan manjanya dan yang satu tetap kalem dengan sifat dewasanya. Huh.. ekspektasi ku pasti tidak beda jauh dengan realitanya.” Dengan senyum semangat Luna mencurahkan isi pemikirannya.
Ternyata semuanya memang diatur oleh Luna. Hal ini Luna lakukan atas izin Mark yang awalnya tidak membolehkan Luna ikut campur dalam urusan perkembangan hubungan Nindy dan Jiang He. Tapi karena Luna merasa bahwa hubungan Jiang He dan Nindy belum berjalan jauh, oleh karena itu dia meminta izin Mark untuk membuat sedikit drama ini pertemuan di pesawat.
Sementara untuk acara pasangan ini, tentunya hanya untuk senang-senang saja.
“Sayang, kamu seperti ini pasti karena kebanyakan nonton drama ya?” sambil tertawa. Dia merasa lucu saja dengan rencana yang telah di susun sebaik mungkin oleh istrinya ini.
__ADS_1
“Entahlah sayang. Tapi yang jelas ideku ini bukan bersumber dari drama.” Jawab Luna dengan cengingisan.
“Lalu pemikiranmu sendiri?” Mark melirik Luna, seolah meragukannya.
“Tentu saja sayang. Kau jangan meragukan kepintaran istrimu ini.” mendongak, menatap Mark denagn cemberut. ”Saking banyaknya ideku. Aku rasa aku bisa membuat sebuah naskah drama romance sekarang.” tertawa, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Mark.
Asyik bermanja, sesaat kemudian Luna teringat sesuatu.
“Sayang, bagaimana jika kita keluar? aku rasa, kita perlu menambah beberapa cemilan.” Mendongakkan wajahnya menatap Mark.
“Begitu ya. Baiklah.” Mark menganggukkan kepalanya.
Mark dan Luna bangkit, sedikit merapikan diri, kemudian mereka berjalan beriringan sambil bergandengan.
Saat mereka menuruni tangga, tampak Rangga yang hendak menaiki tangga.
“Kalian mau kemana?” tanyanya sambil memperhatikan tampilan Luna dan Mark.
“Kami keluar sebentar.” Jawab Mark.
“Aku ikut kalian.” langsung berputar badan bahkan jalan duluan.
“Hei hei, siapa yang mengizinkanmu ikut? Kau di rumah saja. beristirahatlah!” teriak Mark kesal.
“Aku tidak bisa tidur dan aku juga sudah cukup bersantai. Aku tidak ada teman, Key tidur. Semuanya sedang istirahat. Jadi lebih baik aku ikut kalian saja.” balasnya judes dan tetap lanjut jalan.
“Sayang ini akibat dari kalian selalu bersama. Rangga benar-benar ingin selalu menempel denganmu.” Tertawa melihat kekesalan suaminya. “Tapi tidak apa-apa sayang. Lagian kita hanya belanja sebentar saja.
“Baiklah. kita lihat saja nanti, akan aku siksa kau Rangga.” senyum licik penuh siasat.
***
Di supermarket, tepatnya di bagian menjual makanan dan buah-buahan. Mark dan Luna memilih mana saja yang mereka inginkan dan memasukkannya ke troli mereka. Begitupun Rangga, dia juga melakukan hal yang sama, meski dia sendiri bingung untuk apa makanan sebanyak ini.
"Ayolah! kenapa kalian tidak mau mengatakan padaku, untuk apa makanan sebanyak ini?" tanya Ranggga yang entah keberapa kalinya. Karena sedari tadi bertanya, tapi tidak mendapat jawaban.
Luna dengan senyum menggelengkan kepalanya, sementra Mark diam. Dia menulikan telinganya dari pertanyaan Rangga.
"Menyebalkan." gerutu Rangga sambil memasukkan sembarangan makanan.
Beberapa saat kemudian mereka sudah selesai belanja. Luna dan Mark mengantri di kasir.
"Minuman soda sudah, segala macam cemilan juga sudah, buah sudah." gumam Luna menatapi trolinya. "Ya ampun.. aku lupa sesuatu." menepuk jidatnya sendiri.
"Apa yang kurang sayang?" tanya Mark bingung. Sudah belanja sebanyak ini, kurang apa lagi coba?
__ADS_1
"Sesuatu sayang. Kamu saja yang antri ya. Aku pergi mencarinya dulu." sudah mau pergi, tapi Mark menahan tangannya.
"Aku ikut denganmu. Rangga yang antri di sini."
"Sebentar saja sayang." memegangi tangan Mark yang menahannya dan tidak lupa ekspresi wajah memelas.
"Baiklah." ucap Mark terpaksa, lalu melepaskan tangan Luna.
"Aku segera kembali." sudah berjalan dan melambaikan tangan.
beberapa saat kemudian Mark sudah selesai urusan di kasir. Tapi Luna belum juga kembali. Mark dan Rangga menunggu dengan belanjaa mereka kantong belanjaan mereka tersususun rapi di trolli.
"Kenapa lama sekali?" Mark mulai gelisah sambil mengeluarkan ponselnya. Namun seketika dia melihat Luna berjalan ke arah mereka dengan senyum.
"Maaf, lama ya?" tanya Luna saat dia sudah dekat.
"Memangnya kamu membeli apa sayang?" mata Mark tertuju kantong yang di pegangi Luna.
"Ini?" Luna mengangkat kantongnya. "Rahasia," tertawa. "Ayo kita pulang." berjalan duluan.
Sontak saja hal itu membuat Rangga tertawa karena melihat kening Mark berkerut mendengar jawaban Luna.
"Rasakan. Akhirnya kau merasakan apa yang aku rasakan." bisik Rangga pada Mark.
***
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Semua orang berkumpul di ruang utama. Begitupun Zhaon juga sudah berkumpul. Gelak tawa mereka pecah atas senda gurau mereka.
Ketika Luna mendengar suara mobil dari luar, dia lanngsung permisi dan bergegas pergi.
"Akhirnya sampai juga." Sambut Luna dengan hangat saat Nindy dan Jiang He keluar dari mobil.
Luna menyapa ramah Jiang He, lalu saling berpelukan dengan Nindy.
"Kalian pasti lelah. Ayo masuk." ajak Luna sambil melepaskan pelukan.
Nindy menganggukkan kepalanya. Lalu mereka bertiga jalan beriringan.
Saat sampai Mereka masuk, Nindy langsung menghentikan langkahnya, matanya juga membulat.
Begitupun dengan orang-orang di dalam, yang tadinya tertawa renyah langsung berhenti.
"Kakak?"
"Nindy?"
__ADS_1
Gumam Nindy dan Key. Suasana hening, bingung dan menegang seketika.
Bersambung..